Sejarah Bengkulu (1500-1990) Karya Prof Dr Haji Abdullah Siddik (bagian 1)

gunung bungkukZaman Swapraja

Di masa sebelum tahun 1685, di wilayah Bengkulu sekarang terdapat beberapa kerajaan kecil, yaitu di samping Kerajaan Empat Petulai, ada Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sungai Itam dan Anak Sungai.  Kerajaan Empat Petulai disebut juga Kerajaan Depati Tiang Empat dengan Rajo Depatinya di Pegunungan Bukit Barisan di daerah Rejang Lebong sekarang.

Sedang kerajaan lain adalah kerajaan pesisir pantai Bengkulu. Kerajaan Sungai Serut di Pasar Bengkulu, Selebar di wilayah Lembak Bengkulu Utara, Sungai Lemau di Pondok Kelapa Bengkulu Utara.  Selain itu Sungai Itam di daerah Lembak Bengkulu Utara dan Anak Sungai di daerah Mukomuko.

Kerajaan-kerajaan kecil tersebut tidak berbentuk suatu negara dengan kekuasaan yang tunggal mutlak.  Kerajaan itu terdiri dari dusun-dusun yang dipimpin oleh kepala yang dipilih oleh para pendukungnya.  Kemudian para kepala dusun tersebut secara sukarela menggabungkan diri pada kerajaan.

Sebagaimana nanti kita lihat pada pertengahan abad XVI, kerajaan kecil di daerah pesisir mulai dari kerajaan Selebar sampai batas Sungai Urai di Bengkulu Utara.

Sejak pengaruh dari Kerajaan Banten, agama Islam masuk ke Bengkulu.  Pada abad ke XVII berkembang pula pengaruh dari Kerajaan Aceh dari utara melalui hubungan dagang, terutama perdagangan lada.

Kerajaan Sungai Serut

Menurut naskah Melayu di pesisir Barat Sumatera terdapat satu kerajaan kecil Sungai Serut yang berkedudukan di sekitar muara Sungai Serut, yaitu mudik kualo air (Sungai) Bengkulu.  Sekarang di sebelah kanan disebut dengan Bengkulu Tinggi.  Sungai Serut adalah sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar sehingga memudahkan transportasi ke pedalaman dan membawa hasil hutan ke muara.

Raja pertama kerajaan ini adalah Ratu Agung.  Menurut kepercayaan rakyat saat itu, Ratu Agung adalah Dewa dari Gunung Bungkuk yang sakti. Dikatakan Gunung Bungkuk karena wujud gunung tersebut seperti seorang tua yang duduk dan sudah memiliki bungkuk di punggungnya.

Kepercayaan asal dari Dewa memang hampir merata di negara-negara timur pada masa itu. Tetapi pada masa sekarang, hal tersebut tidak masuk akal lagi.  Untuk itu, ada pula yang mengatakan bahwa Ratu Agung berasal dari Majapahit.  Hal ini lebih bisa diterima, pasalnya pada permulaan abad ke-XVI bangsawan Majapahit terpencar karena jatuhnya kerajaan Majapahit diganti oleh Kerajaan Demak.  Sementara, menurut penilikan saya, Ratu Agung berasal dari Banten.

Kalau kita perhatikan sejarah Banten, yang memberitahukan bahwa Sultan Maulana Hasanuddin (1546-1570), putra Sultan Gunungjati yang kawin dengan Pangeran Ratu Nyawa (putri Sultan Demak), mempunyai seorang putra yang bernama Ratu Agung.  Maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa Ratu Agung tidak berasal dari Majapahit, tetapi sebenarnya dari Banten.  Sebagai seorang pangeran merangkap pedagang, ia mengumpulkan lada di Sungai Serut.  Ia membina satu kerajaan Sungai Serut yang mengmumpul hasil bumi dari pedalaman, terutama lada untuk Banten.

Pendapat saya ini diperkuat oleh peristiwa bahwa yang menggantikan Sultan Maulana Hasanuddin (raja pertama Banten) bukan putranya Ratu Agung tetapi orang lain.  Usai Sultan Maulana Hasanuddin memimpin, ia digantikan Pangeran Yusup (1570-1580), Muhammad Pangeran Sedangrana (1580-1596), Pangeran Abdul Kadir (1596 – 1651) dan Abdul Fatah Sultan Agung (1951-1682).  Peristiwa pemakaman Ratu Agung secara Islam disebut dalam tambo Bengkulu, karangan Hassan Delais.

Di Tambo itu dikatakan, bahwa Bilal, Khatib dan Qadi hadir di wafatnya Ratu Agung.  Beliau di makamkan di Bengkulu Tinggi yang sekarang terkanal dengan nama Keramat Batu Menjolo.

Kita mengetahui dari sejarah, bahwa Kerajaan Islam Banten sebagai negara maritim sejak awal abad XVI menduduki tempat penting dalam perdagangan di pantai barat Sumatera.  Bahkan pada akhir abad XVI Banten merupakan bandar besar di sebelah barat Pulau Jawa, sebagai pusat perdagangan internasional, dimana hadir pedagang Portugis, Belanda, Inggris, Arab, Turki, Persi, Cina, Keling, Pegu, Malaya, Bengal, Gujarat dan daerah Nusantara (Bugis, Jawa Melayu dan lain-lain).  Banten sebagai kerajaan pesisir mementingkan pelayaran dan perdagangan di mana raja dan keluarga turut mengambil bagian.

Kerajaan Sungai Serut ini diperkirakan muncul pertengahan abah XVI.  Pasalnya menurut sejarah Banten, karangan Prof Hoesein Djajadiningrat, Sultan Banten Hasanudin melakukan perjalanan bersama Ratu Balo dan Ki Jongjo ke Lampung, Indrapura, Selebar dan Bengkulu.

Sultan Banten Hasanuddin kawin dengan seorang putri dari Sultan Indrapura dan menerima hadiah perkawinan daerah pantai barat Sumatera sejauh Air Itam ke Utara.  Dengan ikatan perkawinan ini, mulailah pengaruh Kerajaan Banten atau daerah pesisir barat Sumatera tersebut, sesuai dengan pendapat Wiliam Marsden dan masuknya di pesisir Bengkulu (pertengahan abad XVI). (bersambung)