Sebulan, Terjadi 60 Kali Gempa

GempaKEPAHIANG, Bengkulu Ekspress – Dalam kurun waktu sebulan, Provinsi Bengkulu diguncang gempa sebanyak 60 kali. Seringnya gempa mengguncang Bumi Rafflesia ini disebabkan posisi Bengkulu berada disubduksi atau tumbukan pertemuan dua lempeng aktif Indo-Australia dan Eurasia. Keberadaan lempeng Indo – Australia menyusup kebawah lempeng Indo-Eurasia menyebabkan terjadi gesekan yang mengakibatkan gempa bumi.

Kepala Kantor BMKG Kepahiang, Litman mengatakan, gempa terjadi hampir dua kali dalam sehari.

“Mengapa kita seringa diguncang gempa adan dua faktor penyebabkanya, di laut kita berada disubduksi pertemuan lempeng Indo Australia dan Eurasia. Kedua lempeng aktif bergerak sehingga menyababkan gempa,” ujar Litman, Minggu (13/8).

Kemudian, alasan lainnya Provinsi Bengkulu berada dizona sesar Sumatera atau patahan Sumatera yang terbentang dari Aceh hingga Lampung. Atau lebih sering disebut patahan Semangko, posisi Bengkulu terdapat tiga segmen sesar Sumatera Ketahun, Musi dan Manna.

“Sesar itu bisa disebut seperti akarnya, jadi akar ini memiliki urat-uratnya sehingga sangat sering terjadi gempa. Nah untuk di Sumatera itu ada 19 bagian, sementara Provinsi Bengkulu memiliki tiga segmennya,” tuturnya.

Menurut Data BMKG Kepahiang setidaknya di 2016 terjadi guncangan gempa sebanyak 384 kali. Sedangkan untuk 2017 hingga bulan Agustus telah terjadi 3 guncangan diatas 5,5 SR.

“Bulan Juli lalu terjadi dua kali, ditambah lagi tadi (Kemarin), itu yang saya ingat, untuk data pastinya silahkan lihat diinfo BMKG,” ungkapnya.

Minggu (13/8) sekitar pukul 10.00 WIB gempa berkekuatan 6,6 SR mengguncang Bengkulu. Pusat gempa terjadi di laut dengan kedalaman 10 kilometer berada pada 71 kilometera barat daya Bengkulu Utara. BMKG memastikan bila gempa tidak berpotensi tsunami. Guncangan cukup kuat dirasakan masyarakat Kabupaten Kepahiang.
Belum termonitor adanya kerusakan di Bumi Sehasen.

Litman mengingatkan, masyarakat Provinsi Bengkulu khusunya Kabupaten Kepahiang agar tidak panik saat terjadi gempa bumi. Sebab gempa tidak membunuh manusia, tetapi kecelakaan kala guncang melanda karena kepanikan masyarakat membuat timbulnya korban jiwa. “Kita mengimbau masyarakat tidak panik, kemudian dalam membangun rumah harus dapat membuat rumah yang memenuhi standar untuk tahan gempa. Lalu cari informasi dari BMKG jangan percaya info-info bohong tentang terjadinya gempa bumi,” tutup Litman. (320)