Sebatang Kara di ‘Belakang Istana’

Lansia Miskin 90 Tahun di Arga Makmur

WayanJANDA 90 tahun, Wayan Kerkran (90) warga Kelurahan Rama Agung, Arga Makmur hidup miskin sebatang kara. Ia tinggal di gubuk reot di belakang rumah dinas wakil bupati Bengkulu Utara (BU). Bagaimana penderitaan wanita lanjut usia (Lansia) itu ? berikut laporan

RABIATUL FADILAH, Arga Makmur

BANGUNAN yang dihuni Wayan hanya terdiri 1 ruangan. Dindingnya papan yang nyaris lapuk dan berlantai tanah. Sang nenek jarang keluar dari gubuknya. Ia sesekali merawat hewan peliharaannya, 2 ekor anjing dan 2 ayam jago. Gubuk itu tidak terurus, karena Wayan seakan sudah agak pikun.

Wanita asal Bali ini telah lama tinggal di Arga Makmur. Dulunya ia punya suami, tapi sudah lama ditinggal pergi. Ia pun menjanda dan tidak mempunyai anggota keluarga lainnya. Wayan memang tidak mendapatkan keturunan dari pernikahannya dahulu.

“Saya sendiri aja, anak tidak ada, pinggang sakit, dada sakit, kaki sakit, jalan ke warung juga tidak kuat,” tutur Wayan ketika BE mengajaknya berbincang di kediamannya, lantas ia berlinang air mata.

Diceritakannya, ia memilih hidup sebatang kara dengan seadanya, karena ia tidak mau merepotkan orang lain. Untuk bisa makan, ia hanya mengharapkan belas kasihan tetangga sekitar. Karena jika hendak memasak ia sudah tidak kuat. Selain itu, Wayan juga tidak bisa mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

“Uang tidak ada. Sebenarnya mau ke Puskesmas, tapi terpaksa di rumah aja,” tuturnya lagi terbata-bata.

Bagi Wayan, warga sekitar begitu baik dengannya. Untuk menyambung hidupnya, tetangga mengantar makanan kepadanya. Ada yang memberikan mie, nasi dan air. Kadang, tak jarang anak kecil yang lewat di dekatnya, memberi uang kepadanya, tapi ia sendiri tidak kenal bocah-bocah itu.

Untuk mandi, Wayan menampung air hujan. Karena gubuk itu tidak memiliki sumur, apalagi kamar mandi. “Kalau tidak ada banyu (air) ya tidak mandi,” imbuhnya.

Diusia senjanya, Wayan hidup begitu menderita itu bukan keinginannya. Tapi karena keadaan yang tidak bisa ditolaknya. Bagi dermawan yang ingin membantu Wayan, bisa menemuinya di gubuk reot miliknya tak jauh tari rumah dinas Wakil Bupati, Ir. Mi’an, ke arah belakang. Siapa pun datang ke sini, akan melihat perbedaan yang kontras antara istana dan gubuk derita. (**)