SDN 62 Doa Bersama

Siswa, guru dan wali murid SDN 62 Kota Bengkulu, melaksanakan doa bersama dan Salat Duha berjamaah, kemarin (27/1),  pasca SDN 62 disegel oleh ahli waris pemilik lahan SDN 62, Senin (22/1).
Siswa, guru dan wali murid SDN 62 Kota Bengkulu, melaksanakan doa bersama dan Salat Duha berjamaah, kemarin (27/1), pasca SDN 62 disegel oleh ahli waris pemilik lahan SDN 62, Senin (22/1).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Paska penyegelan SDN 62 Kota Bengkulu, yang berlokasi di Jalan Rukun No. 39 Sawah Lebar, pada Seni pagi (22/1). Kemarin pagi Jumat (26/1), sebagian walimurid, guru, staf, dan siswa/siswi berkumpul di halaman sekolah. Mereka menggelar doa bersama dan melaksanakan Salat Duha di halaman sekolah, yang selama ini memang dilaksanakan rutin setiap Jumat.

”Sebenarnya Sholat duha bersama sudah menjadi rutinitas setiap Jumat, yang membedakan pesertanya. Jika biasanya Salat Duha hanya untuk siswa kelas tinggi. Kali ini seluruh siswa dan walimurid kita libatkan,” ungkap Pelaksana tugas harian (Plh) Kepala SDN 62 Emmy Mulyani M.Pd.

Seluruh masyarakat sekolah terdiri dari 490 siswa/siswi dari kelas 1 hingga kelas 6, tata usaha, guru, kepala sekolah serta sejumlah walimurid menggelar Salat Duha bersama. Dalam Salat Duha bersama itu, dilakukan kegiatan membaca surat pendek, dan berdoa agar persoalan di sekolah ini tuntas, sehingga aktivitas pembelajaran dapat berjalan dengan tenang. Diceritakan Emmy, pasca disegel oleh pihak ahli waris. Pintu gerbang digembok dan ditutup dengan seng, disebalah kiri dan kanannya di kunci menggunakan gembok, sulit sekali untuk di bongkar.

Penyegelan ini dilakukan saat para siswa SDN 62 sedang melakukan kegiatan belajar mengajar. Agar aktifitas belajar siswa tidak terganggu, sekolah yang hanya memiliki satu arah pintu masuk terpaksa harus menjebol dinding yang ada di belakang sekolah bertepatan dengan rumah dinas kepala Sekolah. Pintu yang hanya memiliki lebar 1 meter itu digunakan para siswa untuk keluar masuk ke sekolah dan hanya menggunakan pintu seng plat.

“Jalan inilah sebagai akses masuk ke sekolah selama pintu gerbang yang disegel belum dibuka,” katanya.

Aksi penyegelan ini banyak membuat wali murid resah dan siswa/siswi geram. Terlihat Kamis (25/1) para siswa ada yang menendang dan melempari seng gerbang, ada juga yang mencoba membongkar seng pintu utama. Setelah melalui edukasi agar siswa tidak melakukan pengrusakan, keesokan harinya seng yang sudah terbongkar itupun ditutup kembali.

“Entah siapa yang melakukanya, namun kami dewan guru selalu mengingatkan pada anak tidak melakukan pengrusakan,” jelasnya.

Menurut Emmy aksi penyegelan yang dilakukan ahli waris berdampak terhadap psikologis anak. Lalu apakah lokasi KBM dipindahkan? Terkait hal itu Emmy menegaskan, persoalan pembelajaran yang dipindahkan belum diputuskan. Karena masih banyak pertimbangan. Selain lokasi sekolah lain jauh, juga tidak ada sekolah terdekat yang melaksanakan pembelajarn saat pagi hari.

“Kami tidak ingin pembelajaran anak dipindahkan ke sekolah lain, apalagi jika lokasi belajar dipecah. karena akan membawa dampak psikologis anak dan guru kelelahan, ” cetusnya.

Penyegelan yang dilakukan keluarga merupakan bentuk protes ahli waris terhadap sengketa lahan yang tak kunjung diselesaikan Pemerintah Kota Bengkulu. Zamasni (30) selaku ahli waris mengaku kecewa dengan sikap pemerintah yang berlarut-larut dalam menyelesaikan persoalan ini. Tindakan penyegelan bukan hanya kali ini saja dilakukan ahli waris. Penyegelan serupa telah terjadi lebih dari tiga kali sejak 2013 lalu, dan dilakukan ahli waris setiap mendekati ujian nasional (UN).

Kejadian penyegelan Senin (22/1) lalu pun dilakukan disaat anak-anak melaksanakan try out (TO) bersama. Proses penyegelan itupun dilakukan tanpa adanya pemberitahuan dari sekolah sehingga disaksikan semua siswa dan siswa sekolah itu yang masih kecil-kecil. Ia berharap pemerintah mengambil jalan cepat, sehingga hal ini tidak berlaut-larut. Pantauan Bengkulu Ekspress di lokasi kemarin (27/1), gerbang SDN 62 Kota Bengkulu, masih tersegel menggunakan seng dan tergembok. Hanya saja tulisan

“Sekolah ini disegel” sudah tidak terlihat. Sejumlah siswa/siswi sudah ramai datang paska pelaksanaan Salat Duha berjamaah. (**)