Sawah Kian Menyempit

beras
Foto : IST

Alih Fungsi Tak Terkendali

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Kebutuhan beras di Bengkulu masih ditopang dengan beras impor. Ini karena luas sawah dikelola masyarakat kian menyempit, menyebabkan produksi padi lokal terus menurun. Saat ini, untuk luas lahan persawahaan di Provinsi Bengkulu tinggal 89.341 hektar

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Perkebunan (DKPHP) Provinsi Bengkulu, Zulparmaidi SP MSi mengatakan, jumlah lahan persawahaan itu lebih sedikit dibanding dengan pertanian bukan bukan sawah, yang mencapai 1,2 juta hektar serta lahan bukan pertaniaan mencapai 251.085 hektar.

“Jadi lahan sawah kita hanya sekitar 4,49 persen saja,” terang Zul kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (3/9).

Dijelaskannya sempitnya lahan persawahan itu lantaranya banyak perkebunan sawit, hingga pembangunan perumahan. Padahal jika dilihat dari data tahun 2013 lalu, luas lahan sawah itu meningkat. Namun setelah 2013, lahan persawahan sudah mulai menyempit hingga saat ini. “Meningkat itu karena ada program cetak sawah,” ungkapnya.

Jika dilihat dari kulitas padi Bengkulu, maka dipastikan kualitasnya lebih baik dibanding dengan provinsi lain. Namun dengan penyempitaan lahan sawah, maka pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Mengingat sampai saat ini, belum ada aturan yang melarang lahan tidak diperbolehkan untuk membangun perumahaan dan perkebunan sawit. “Aturannya tidak tegas untuk melarang itu. Jadi kita belum bisa berbuat banyak,” tambah Zul.

Untuk mengatasi penyempitan lahan, DKPHP Provinsi bersama Kementerian Pertanian (Kementan) telah melakukan program cetak sawah. Untuk tahun ini dilakukan cepat sawah seluas 500 hektar di Kabupaten Mukomuko. Untuk tahun depan, rencananya program cetak sawah itu akan dilakukan di Kabupaten Bengkulu Utara dengan luas 500 hektar.

“Kita masih gencarkan untuk cetak sawah. Ketika cetak sawah ini berasal, mudah-mudahaan lahan sawah kita akan terus terjaga,” katanya.

Untuk mendukung, agar kebutuhaan beras di Bengkulu terjaga pemerintah juga telah melakukan beberapa program. Seperti pemberiaan pupuk subsidi kepada petani, pemberiaan bantuan hentraktor, pemberiaan benih unggul dan program lainnya. Termasuk memberikan edukasi kepada petani, agar bisa melakukan panen, 2 sampai 3 kali dalam setahun.

“Program-program yang ada kita jalankan terus. Pendampingan juga terus kita lakukan. Sehingga mampu memenuhi kebutuhaan beras di Bengkulu,” tandas Zul.

Prof Ir Nanik Setyowati MSc PhD, guru besar Fakulas Pertanian Universitas Bengkulu, mengatakan penyempitan lahan pertanian disebabkan mulai banyaknya lahan persawahan beralihfungsi menjadi tanaman kelapa sawit.

Bahkan lahan persawahan yang berada di kawasan irigasi teknis juga sudah beralihfungsi menjadi perkebunan sawit. Hal tersebut tentu saja menimbulkan berbagai permasalahan, padahal bercocok tanam padi lebih menguntungkan daripada perkebunan kelapa sawit. Meski pun dalam gambaran masyarakat luar daerah, tanaman sawit sangat menjanjikan. Namun, sebenarnya mengelola sawah lebih untung.

“Keuntungan memiliki satu hektar sawah lebih besar ketimbang memiliki kebun sawit seluas satu hektar,” kata Nanik.

Memiliki lahan persawahan menguntungkan karena cukup lahan satu hektar, petani mampu menikmati pendapatan bersih hingga Rp 7 juta per bulan. Hal tersebut dapat terjadi akibat tren harga pangan yang terus meningkat. “Menanam padi itu panen setiap 4 bulan sekali sudah menghasilkan uang sekitar Rp 28 juta, lalu kalau perkebunan kelapa sawit harus menunggu 3 tahun baru panen, jadi selama menunggu 3 tahun tersebut petani dapat uang dari mana?,” ujar Nanik.



Ia mengimbau petani mempertahankan lahan sawah, karena harga pangan ke depannya akan jauh lebih baik. Saat ini pemerintah masih membuka keran impor beras karena produksi dalam negeri tidak cukup. Bengkulu merupakan salah satu lumbung beras nasional yang diharapkan ikut mendukung target nasional untuk swasembada beras.

“Kenapa Indonesia kaya dan subur namun juga kaya akan komoditi impor. Thailand bisa ekspor beras karena memiliki 9 juta hektar luasan panen sawah. Sementara Indonesia dengan penduduk empat kali Thailand hanya memiliki luas panen sawah berkisar 13,5-15 juta hektar. Padahal selain penduduk Indonesia empat kali lebih banyak, juga orang Indonesia makan nasi lebih banyak dari orang Thailand,” pungkasnya. (151/999)