Sawah Kering, Petani Ribut

SINGGARAN PATI, BE – Kondisi sawah yang berada di sekitar jalan Danau Dendam Tak Sudah (DDTS), semakin memprihatinkan. Dalam tahun ini, para petani di lokasi tersebut nyaris saja gagal panen, akibat tidak maksimalnya perairan irigasi, terlebih didukung oleh faktor cuaca. Tak maksimalnya saluran irigasi ini membuat air hanya bisa mengaliri persawahan para petani yang dekat saluran. Sedangkan yang berada lebih jauh, tidak mendapatkan air. Karena persoalan ini, para petani nyaris saja ribut. Sebab, beberapa petani berupaya untuk menyalurkan air ke perairan sawah di bagian ujung. Sawah milik Mulyadi yang berada dekat irigasi, terus diairi, sedangkan beberapa lainnya tidak. Hal ini memicu ketegangan, dan petani lainnya berupaya untuk mengalirkan air tersebut ke bagian ujung. “Kita juga tidak mau kalau sawah yang diari hanya dekat irigasi saja, sedangkan kami tidak. Untuk itulah kami berupaya agar air dari sawah terdekat, bisa mengalir kepada bagian ujung. Namun ini bukan solusi,” ungkap salah seorang petani, Marwan. Sementara menurut Mulyadi, masalah irigasi tersebut bukanlah keinginannya. Namun saluran yang begitu lebar, sedangkan air mengalir sangat kecil, sehingga tidak mampu mendorong ke bagian ujung. “Ini bukan kemauan kami, namun air memang hanya bisa mengalir di sawah terdekat, kebetulan sawahnya milik saaya,” ungkapnya. Mengetaui adanya permasalahan di lokasi tersebut, Sekretaris Komisi II DPRD Kota Bengkulu, Suimi Fales SH, menegaskan, siap menampung aspirasi masyarakat, mengingat masalah air irigasi tersebut akan bermasalah jika tidak dituntaskan. Terlebih hal ini juga berdampak kepada petani yang terancam gagal panen. “Dalam waktu dekat ini, kita akan melakukan peninjauan terhadap lokasi tersebut (sawah DDTS, red). Kalau memang kita temukan ada permasalahan dalam irigasi, maka pemanggilan terhadap instansi terkait juga harus dilakukan, sehingga ada pertanggungjawaban,” tegas politisi PKB ini. (160)