Sawah Kering, Harga Beras Naik

SEGINIM, BE – Karena Bendungan Air Nipis yang menjadi sumber utama pengairan irigasi untuk ribuan hektar sawah di Kecamatan Seginim dan Kecamatan Air Nipis sudah tidak mencukupi, banyak sawah petani setempat mulai kekeringan. Permasalahan ini bertambah parah dengan kenaikan harga beras di daerah lumbung padi tersebut. Hal ini disampaikan Kepala Desa Banding Agung Suharudin kepada BE kemarin. Menurutnya, selama ini hanya ada sekitar 25 persen sawah di Seginim yang mendapat pasokan air irigasi Bendungan Air Nipis, selebihnya mengalami kekeringan sehingga produksi hasil sawah sangat memprihatinkan. “Hal ini berdampak dengan harga beras yang melonjak naik. Saat ini di Kecamatan Seginim harga beras sudah Rp 26 ribu sampai Rp 28 ribu perkulak,” terang Suharudin.

Sebab itu, dia mengharapkan pihak Pemkab BS peduli dengan persoalan ini. Mereka mengharapkan Bupati BS dapat membangun irigasi baru agar sawah petani di Seginim dapat berproduksi kembali. Jika tidak ada perhatian dari pemerintah, maka untuk masa-masa yang akan datang masyarakat Seginim akan semakin kesulitan memproduksi beras sebagai kebutuhan pokok yang paling mendasar. “Kalau pemerintah tidak cepat tanggap atas penderitaan petani Seginim, maka warga kami akan sulit menghasilkan beras karena sawah kami tidak akan dapat diolah kembali,” ucapnya. Dikatakannya, untuk mengatasi kesulitan mendapatkan air sebagai sumber pengairan sawah warga, mereka meminta dibangunkan siring irigasi dari Air Gatal sampai ke Danau Ulu . Jika siring tersebut sudah dibangun dapat menambah debit air irigasi di Bendungan Air Nipis. Dengan begitu akan dapat mengatasi permasalahan para petani sawah selama ini yang selalu kekurangan air irigasi. Lanjutnya, supaya siring irigasi dibangun petani sudah merelakan tanah mereka dilalui siring irigasi yang akan dibangun. Bahkan mereka menyatakan tidak akan menuntut ganti rugi asalkan irigasi tersebut dibangun oleh pemerintah.  Guna meyakinkan pemerintah, Suharudin juga membawa bukti pernyataan lebih dari 40 orang warga yang tanahnya akan dilalui jaringan irigasi tanpa meminta ganti rugi. “Sebagai wujud keseriusan warga yang mendambakan irigasi baru, kami rela lahan kami dibangun irigasi tanpa ganti rugi,” pungkasnya.(369)