Sawah Kekeringan Mulai Meluas


KEKERINGAN, Bengkulu Ekspress – persawahan yang disebabkan kemarau mulai meluas di Bengkulu. Antara lain di Kota Bengkulu telah berdampak pada lahan persawahan di wilayah sekitar 132,8 hektare. Lahan persawahan mengalami kekeringan dan terancam gagal panen dari total 251,5 hektare sawah yang sudah ditanam padi di Kota Bengkulu.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Bengkulu mengatakan, Ir Sufatman mengatakan, dari total 700,2 hektare persawahan yang ada di Kota Bengkulu, sebanyak 251,5 hektare sudah dilakukan penanaman terhitung sejak Januari hingga sekarang ini.

“Kondisi terkininya ratusan hektar sawah ini terancam gagal panen jika berdasarkan keterangan BMKG bahwa hujan akan terjadi di bulan November ini nantinya,” kata Sufatman, (19/9).

Ia menjelaskan, ratusan hektar sawah yang mengalami kekeringan itu berada di Kecamatan Sungai Serut yang meliputi beberapa kelurahan, Kecamatan Muara Bangkahulu dan Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu. “Alhamdulillah, ada beberapa sawah yang memang belum melakukan penanaman padi, namun hal itu juga berdampak pada penghasilan bagi para petani,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sawah dengan status kekeringan ringan dan sedang saat ini masih menghijau dengan kadar air yang tinggal sedikit lagi dan dibantu dengan aliran air yang masih tersisa dari saluran irigasi. “Kondisi ini masih bisa diupayakan penyelamatan dengan melakukan berbagai cara agar sawah bisa mendapatkan air, salah satunya dengan cara menggunakan pompa air,” kata dia.

Sementara itu, untuk upaya yang saat ini dilakukan, kata Sufatman, adalah melakukan upaya pompanisasi dengan mengandalkan sumber air dari saluran irigasi yang kondisinya juga sudah mengering. “Pompanisasi juga sudah sulit mencari titik air terdekat, butuh hingga beberapa kilometer jaraknya, karena saluran irigasi yang kering sudah tidak bisa menjangkau lahan persawahan tersebut,” ujarnya.



Apalagi, menurut Sufatman, musim kemarau diprediksi lebih panjang atau hingga akhir November mendatang. Adapun sawah dengan status kekeringan berat, kata dia, sudah tidak bisa tertolong lagi karena lahan persawahan sudah mengering dengan tanah yang retak retak. “Kalau yang dekat kantor kita ini, sebagian tanah sudah mulai retak dan banyak padinya yang menguning sehingga terancam gagal panen,” ujarnya.

Debit Air Bendungan Manjunto

Persawahan petani di wilayah Kabupaten Mukomuko, khususnya yang sumber air didistribusikan aliran irigasi Manjunto juga mulai mengalami kekeringan. Ini disebabkan debit air bendungan Manjunto, semakin berkurang. Kepala UPTD Pengairan Irigasi Manjunto, Bustari ST MSi dikonfirmasi kemarin (19/9) menyampaikan, telah turun kelapangan mengecek persawahan petani di wilayah Dusun Baru Pelokan Kecamatan XIV Koto. “Sekitar puluhan hektar tanaman padi milik petani tidak mendapatkan air,”akunya.

Pihaknya telah berusaha untuk memasukan air ke persawahan itu melalui irigasi, tetapi tidak bisa. Ini dikarenakan masyarakat saling berebutan untuk mengaliri persawahannya masing-masing. Dicontohkan Bustari, ketika petugasnya mengaliri air ke wilayah persawahan Dusun Baru Pelokan, petani yang ada di atasnya seperti di Desa Lubuk Sanai, ribut. Begitu pula dengan lokasi-lokasi lainnya. Bahkan air baru didistribusikan sekitar beberapa menit saja. Pintu air langsung ditutup dan dialihkan kembali ke wilayah persawahan lainnya.

“Dilemanya memang air yang semakin berkurang. Dan, dalam pemanfaatan air masih banyak masyarakat membuka sendiri pintu air, dan belum sepenuhnya menyerahkan dalam pengaturan air yang merupakan kewenangan dari para petugasnya,”bebernya.(900/529)




    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*