Satu Penderita DBD Meninggal

Ary, Pembagian Abate
CURUP, BE – Tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Rejang Lebong mulai masuk pada pase mengkhawatirkan. Pasalnya penyakit yang ditularkan melalui nyamuk aedes aegypti tersebut telah merenggut satu korban jiwa.
Penderita DBD yang meninggal dunia ini adalah warga RT1/RW1 Kelurahan Talang Ulu Kecamatan Curup Timur. Dengan bertambahnya korban meninggal dunia akibat DBD ini maka pada tahun 2015 ini sudah ada dua penderita DBD yang meninggal dunia. Sebab, sebelumnya pada bulan April satu warga Kelurahan Adirejo yang meninggal karena DBD.
Sementara itu data terakhir yang dimiliki Dinas Kesehatan RL, hingga saat ini jumlah penderita DBD selama tahun 2015 ini sudah mencapai 151 orang. Dua diantaranya sudah meninggal dunia.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan RL, Agung Gunawan CP, SKM MKes melalui Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Nunung Tri Mulyanti SKM MM, dalam mengantisipasi sehingga kasus DBD ini tidak masuk dalam kasus luar biasa (KLB) pihaknya sudah melalukan sejumlah lanagkah antisipasi.
Salah satu langkah antisipasi yang mereka lakukan yaitu dengan membagikan sekitar 5 ribu bungkus bubuk abate kepada masyarakat RL, yang terakhir mereka melakukan pada hari Rabu (23/9) kemarin di Kelurahan Talang Ulu yang salah satu warganya meninggal dunia.
“Dalam membagian bubuk abate ini kita bekerjasama dengan seluruh puskesmas yang ada di Rejang Lebong ini,” aku Nunung.
Sementara itu terakit dengan selain kegiatan pembagaian bubuk abate di Kelurahan Talang Ulu pihaknya juga telah melakukan pegiatan fogging. Kegiatan fogging yang mereka alakukan setelah mendapat laporna dari RSUD Curup terkait adanya warga yang meninggal akibat DBD.
“Fogging sudah dua kali kita lakukan, fogging pertama kita lakukan sesaat setelah laporan dan yang kedua seminggua setelah fogging pertama,” jelas Nunung
Lebih lanjut Nung menjelaskan, dengan adanya dua kasus penderita DBD yang meninggal ini ia berharap kepada masyarakat Rejang Lebong untuk tidak menganggap ringan penyakit ini. Ia meminta kepada masyarakata yang memiliki tanda-tanda DBD untuk segera menuju tempat pelayanana kesehatan terdekat.
“Beberapa tanda DBD diantaranya merasa demam tinggi selama 3 hari dan timbul bintik-bintik merah. bila ada tanda tersebut maka segera ke pelayanana kesehatan dan ikuti intruksi yang disampaikan petugas,” pesan Nunung.
Selain itu, menurut Nunung langkah antisipasi atau DBD ini jauh lebih baik dari pada pengobatan. Salah satu langkah pencegahan yan bisa dilakukan masyarakat yaitu melakukan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta selalu melakukan kegiatan 3M Plus.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Curup Timur,  H Rini Runiarti SKM menjelaskan hingga saat ni baru ada tiga masyarakat Curup Timur yang menderita DBD. Namun sudah ada satu yang meninggal sehingga dilakukan upaya pemutusan mata rantai dikawasan tersebut.
“Untuk korban yang meninggal, awalnya ia merasa demam pada tanggal 6 September, dan pada tanggal 8 ia berobat ke dokter. Oleh dokter korban dianjurkan ke rumah sakit, namun korban enggan dirawat lantaran masih memilik anak kecil. Kemudian pada tanggal 13 korban masuk rumah sakit dan tanggal 16 korban meninggal dunia,” cerita Rini.(251)