Satu Lagi Korban Longsor Ditemukan

User comments
ERICK/BE LOKASI LONGSOR: Kapolda Bengkulu Brigjend H M Ghufron MM MSi ketika turun ikut mencari para korban. Tampak evakuasi korban meninggal, ketika akan dibawa ke kecamatan dengan berjalan kaki sambil menyeberangi sungai.

NAPAL PUTIH, BE – Kapolda Bengkulu Brigjend H M Ghufron MM MSi, memastikan pencarian terhadap korban longsor di Desa Lebong Tandai pemukiman Karang Suluh, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara (BU), akan maksimal. Hal ini disampaikannya saat meninjau langsung lokasi longsor di Desa Lebong Tandai.

“Anggota kami akan saya pastikan maksimal untuk mencari para korban, baik dari Sabhara yang memiliki anjing pelacak, sehingga nantinya para korban bisa cepat ditemukan para korban,” jelasnya.

Sedangkan untuk mengidentifikasi para korban yang ditemukan nanti, Polda menyiapkan tim identifikasi. Selain itu dari anggota Polres, Polsek akan diperbanyak lagi, karena peralatan yang canggih tidak bisa didatangkan di TKP.

“Mudah-mudahan dengan diperbanyak para anggota, baik Polri dan TNI serta masyarakat, kita bisa secepatnya menemukan para korban,” harapnya.

Pantauan BE di lokasi longsor, ketika Kapolda dan rombongan tiba di TKP tanah lonsor, dirinya secara suka rela turun untuk mencari para korban dengan menggunakan peralatan yang seadanya, dengan semangat dirinya mengajak semua yang ada untuk mencari, karena pada saat itu, tercium sekali-kali aroma dari para korban, serta adanya anjing warga yang selalu mengitari sebuah titik yang diperkirakan adanya korban.

Dengan kejadian ini, Kapolda tidak luput mengucapkan turut berduka cita atas musibah tanah longsor yang terjadi di Desa Lebong Tandai, tepatnya di pemukiman Karang Suluh yang menelan korban cukup banyak.

“Kita berdoa saja, semoga seluruh korban bisa ditemukan dengan cepat, walaupun dengan peralatan yang sederhana,” harapnya.

Satu Korban Ditemukan
Upaya pencarian korban longsor Karang Suluh, terus dilakukan. Hasil terbaru, tim yang terdiri dari Basarnas, BNPB, BPBD Provinsi, BPBD Kabupaten BU, Polisi, TNI dan masyarakat berhasil menemukan satu jenazah tertimbun di kedalaman 10 meter, Minggu (6/12) sekitar pukul 15.00 WIB. Jenazah tersebut sudah teridentifikasi atas nama Anton Hanafi (23), warga Lebong Tambang. Ditemukannya satu jenazah ini dibenarkan Camat Napal Putih, M Sabii, meski sudah ditemukan, diperkirakan jenazah baru akan dibawa ke Desa Lebong Tandai dari Karang Sulu esok pagi, Senin (7/12). Hal ini dilakukan lantaran sungai dengan lebar 35 meter yang memisahkan Karang Sulu dan Lebong Tandai meluap, sehingga tim tidak bisa membawa jenazah, menunggu air surut. Selain itu tim dokter yang turut dalam pencarian memerlukan waktu untuk membersihkan jenazah.

“Satu korban ditemukan sekitar pukul 15.00 WIB, atas nama Anton Hanafi. Informasi yang saya dapat dari tim, dia ditemukan dikedalaman 10 meter. Kemungkinan baru bisa dievakuasi esok hari ke Lebong Tandai. Rencana sementara hasil koordinasi tim, jenazah yang sudah sampai di Lebong Tandai langsung dibawa menggunakan helikopter ke Rumah Sakit M Yunus Bengkulu,” jelas Camat Napal Putih, M Sabii saat dikonfirmasi melalui telepon, Minggu (6/12).

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten BU, Made Astawa mengatakan, kondisi jenazah Anton Hanafi sangat mengenaskan, meski demikian jenazah masih utuh. Jenazah bisa dikenali karena sanak keluarganya turut membantu pencarian. Untuk memudahkan tim melakukan pencarian sudah didistribusikan peralatan berupa 10 unit mesin pompa air untuk menyemprot tanah di lokasi longsor.

“Sesuai koordinasi Helikopter yang saat ini masih di Bengkulu, besok akan menuju ke Lebong Tandai untuk membawa jenazah ke rumah sakit M Yunus. Kita akan terus berkoordinasi dengan posko dan tim, peran Heli sangat vital mengingat bisa memangkas waktu untuk mendistribusikan logistik sekaligus membawa jenazah jika nanti ditemukan lagi,” jelas Made.
Dengan ditemukannya satu jenazah, total jenazah yang ditemukan 3 orang, yakni Anton Hanafi, Mudik dan Mariyan, satu korban selamat atas nama Irzal menderita patah kaki. Sementara 14 korban lainnya masih tertimbun di lokasi longsor. Tim terus bekerja mengingat waktu pencarian semakin menipis. Bukan tidak mungkin jika waktu pencarian resmi dihentikan dan korban tidak ditemukan seluruhnya, lokasi longsor karang suluh akan menjadi kuburan massal.

Lokasi Sulit Diakses Transportasi
Selain peralatan pencarian yang sangat minim dan apa adanya, kesulitan lain dalam evakuasi korban tanah longsor di pemukiman Karang Suluh adalah alat transportasi dan jalan yang menanjak, aliran sungai serta berlumpur. Sehingga membutuhkan lebih kurang 8,5 jam korban sampai di Kecamatan Napal Putih BU dan menempuh waktu 3-4 jam lagi untuk sampai ke rumah sakit.

Melihat keadaan seperti ini, Kapolda Bengkulu Brigjend Pol H M Ghufron MM M Si, berharap pihak-pihak lain yang bisa membantu segera datang untuk membantu. Apalagi Desa Lebong Tandai memiliki sebuah lapangan helipad yang sudah lama tidak dipakai, peninggalan dari perusahaan yang menambang di kawasan Desa Lebong Tandai dahulu.

“Di Lebong Tandai ada bekas helipad, semoga saja bisa dimanfaatkan sehingga pengiriman logistik maupun evakuasi korban lebih cepat,” ungkap Kapolda.

Kapolda menambahkan, kita-kita aja yang hanya membawa barang seadanya, melewati jalur yang ekstrim seperti ini sangat susah untuk menembusnya. Apalagi para relawan atau pihak keluarga korban yang akan membawa jenazah dengan berjalan kaki dengan waktu dan jarak tempuh yang cukup lama.

Sedangkan Pjs Kepala Desa, Munta Alimun, mengatakan, melihat sulitnya evakuasi para korban, diharapkan pemerintah untuk bisa membantu, agar para korban yang ditemukan nantinya bisa cepat dievakuasi. Apalagi di desa adanya tempat helikopter bisa mendarat.

“Semoga saja apa yang dibilang Pak Kapolda ada yang mendengar dan mau menurunkan helikopter ke desa sehingga korban cepat dievakuasi,” harapnya. (614(167)