Sanksi Adat Kades Tanjung Alam, Cuci Kampung dan Dikucilkan Warga

CUCI KAMPUNG: Warga Desa Tanjung Alam sedang menggelar ritual cuci kampung atas perbuatan asusila yang dilakukan kades mereka dengan menyetubuhi istri orang, Sabtu (10/3) sore.
CUCI KAMPUNG: Warga Desa Tanjung Alam sedang menggelar ritual cuci kampung atas perbuatan asusila yang dilakukan kades mereka dengan menyetubuhi istri orang, Sabtu (10/3) sore.

KOTA MANNA, Bengkulu Ekspress – Sebagai bukti, jika Kepala Desa (Kades) Desa Tanjung Alam, Kedurang sudah berhubungan badan layaknya suami istri dengan istri orang, warga memberikan sanksi terhadap kades. Sanksi yang diberikan berupa sanksi adat yakni pemotongan satu ekor kambing.

“ Acara penyembelian satu ekor kambing dilakukan Sabtu (10/3) sore di desa kami,” kata Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) desa setempat, Hairul Syan.

Hairul mengatakan, selain disanksi cuci kampung, Kades juga bakal dikucilkan dari pergaulan masyarakat yakni tidak diizinkan mengikuti semua kegiatan dalam masyarakat. Adapun waktu sanksi dikucilkan ini berlaku minimal selama 2 tahun dan maksimal 3 tahun.

“ Jika masa waktu dikucilkan dari pergaulan dengan masyarakat ini ada warga yang tetap bergaul dengan kades, akan kami kucilkan juga” ujar Hairul.

Dengan adanya sanksi adat ini, maka dipastikan selama 2-3 tahun, dipastikan Kades Tanjung Alam tidak akan bisa menjalankan amanahnya lagi memimpin pemerintahan setempat. Oleh karena itu, pihaknya sebagai perwakilan masyarakat Desa Tanjung Alam meminta Bupati memecatnya dari Jabatannya.

“ Kalau hingga 3 tahun dikucilkan otomatis kami tidak mau lagi dipimpinnya, jadi kami minta Bupati segera memecatnya,” tandas Hairul.

Sekedar mengingatkan, beberapa waktu lalu, pada malam hari disaat korban sedang tidur di rumahnya. Datanglah kades mengetuk pintu minta dibukakan.

Akan tetapi permintaan sang kades tidak dituruti korban. Mengetahui korban tidak mau membukakan pintu, sang kades nekat memasuki rumah korban dengan memanjat dinding rumah bagian belakang. Setelah itu masuk ke rumah korban dan memaksa korban melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

Setelah berhasil menggagahi korban, sepertinya sang kades semakin nekat, sehingga setelah itu disaat korban sedang hendak membeli sayuran, sang kades sudah menghadang di jalan lalu menarik rumah korban dan memaksa korban dan mengajaknya masuk ke rumah kosong di belakang rumah sang kades. Saat itu sang kades kembali berhasil menggagahi korban. Bahkan pada suatu malam disaat korban hendak ke warung membeli racun nyamuk, tiba-tiba datang sang kades dan memeluk korban. Bahkan aksi ini dilihat langsung oleh suami korban. (369)