Sampel Darah Unggas Diteliti

BENGKULU, BE – Merebaknya dugaan virus flu burung membuat Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional III Sumbagsel, Lampung ikut turun ke Bengkulu memastikannya. Apalagi kondisinya semakin meresahkan masyarakat dengan adanya korban meninggal, MV (24) warga RT 13 RW 03 Perumahan Unib Permai Kelurahan Pematang Gubernur dan bocah suspect, Riva Julianingsih (2) warga Jalan Bandar Raya RT 8 RW 4 Kelurahan Rawa Makmur. Tim BPPV mengambil sampel darah unggas di Kelurahan Kebun Dahri dan RT 8 RW Rawa Makmur yang diduga sebagai lokasi area korban terjangkit. “Kami datang ke Bengkulu dalam rangka menindak lanjuti laporan adanya flu burung yang telah menelan korban,” kata Kepala BPPV, drh Joko Siswanto. Ia menjelaskan, sampel yang diambil yakni semua darah binatang yang bisa menularkan flu burung, seperti darah ayam, burung, dan kotoran walet dan kotoran unggas. Ia mengungkapkan, sampel tersebut akan dibawa ke Lampung untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium. Hasilnya baru keluar 5 hari kemudian. “Besok (hari ini, red) kami pulang ke Lampung, kemudian hasilnya sudah bisa diketahui paling lambat Selasa (13/2),” terangnya. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak), Ir Arif Gunadi mengatakan, pengambilan sampel di RT 4 RW 1 Kelurahan Kebun Dahri dikarenakan korban MV sering menginap di rumah kekeknya di daerah tersebut. “Riwayat korban yang dapati, dia sewaktu hidupnya sering menginap di rumah kekeknya di Kelurahan Kebun Dahri ini,” ujar Arif. Dijelaskannya, di rumah orang tua korban di RT 13 RW 03 Perumahan Unib Permai tidak ditemukan ternak unggas, sehingga pihaknya berinisiatif mengambil sampel di sekitar rumah kekeknya yang banyak ternak unggas. Pantauan BE, pengambilan sampel dilakukan dengan cara mengambil darah ayam melaui suntikan dan cairan pada anus ayam. Pengambilan dimulai dari rumah salah seorang warga yang memelihara ayam, Asmarni (60). Asmarni mengungkapkan, bahwa ayamnya hampir punah karena mati mendadak mulai awal bulan Februari lalu. “Sekitar awal Februari lalu, ayam saya mulai mati dengan penyakit timbul gelebung pada bagian leher. Kadang-kadang 1 sampai 2 ekor mati perhari hingga sekarang jumlahnya hanya tinggal 2 ekor lagi,” bebernya. Pihaknya pun tidak mengetahui pasti penyakit apa yang tengah menyerang ayamnya. Setelah mengambil sampel terhadap ayam milik Asmarni, petugas pun melanjutkan pengabilan sampel di rumah warga lainnya yang memiliki ternak unggas.

Mati Mendadak
Sementara itu, di tengah pengambilan sampel, tiba-tiba salah seorang warga bernama Ade (20) melaporkan burung Cicak Ranting miliknya mati mendadak. Mendapati laporan tersebut, petugas pun langsung menuju rumah Ade yang melakukan pemeriksaan terhadap burung tersebut. Saat burung itu ditemukan sudah tidak bernyawa, petugas juga menemukan makanan dalam sangkar burung tersebut dalam keadaan kosong. “Pemiliknya melapor burung ini mati mendadak, setelah kami periksa ternyata makanannya habis. Untuk memastikan penyebabnya, bangkai burung ini akan kami bawa ke Lampung,” kata Joko. Setelah itu, petugas melanjutkan perjalanannya menuju RT 8 RW 4 Kelurahan Rawa Makmur. Ditempat tersebut, petugas mengambil bangkai ayam milik Dewi Herlinda (38) dan Muksin (41), orang tua Revi Julianingsih, yang tidak dikuburkan. Sementara itu, orang tua Dewi Herlina, Maryana (62) mengatakan, ayam di lokasi tersebut tidak lagi mati mendadak. “Di sini kan dikit yang punya ayam, dan beberapa hari ini tidak ada mendengar kabar ayam mati. Sedangkan ayam yang mati sekitar 4 hari lalu, milik anaknya saya yang berjumah 3 ekor,” urainya. Dilanjutkannya, ayam tersebut mati bukan mendadak, melainkan perlahan-lahan. Kendati demikian, pihaknya mengaku takut setelah merebaknya berita tentang positif flu burung yang telah memakan korban di perumahan Unib Permai. “Kami sangat takut jika wilayah kami ada flu burung, apalagi rumah sakit mengatakan cucu saja diduga terkena flu burung,” ungkapnya. Ia pun berterimaksaih atas bantuan pemerintah yang bertindak cepat sebelum ada korban yang kedua kalinya.

Kakak Revi Juga Sakit

Sementara itu kakak kandung Revi Julianingsih, Diko (12) saat ini juga dalam keadaan sakit deman mencret. “Kakaknya juga sakit, sehingga kami yang merawatnya, sedangkan ibunya merawat adiknya di rumah sakit,” kata neneknya, Maryana.

Mulai Pulih

Kondisi bocah susfect flu burung, Riva Julia Ningsih (2) masih dilakukan perawatan intensif di ruangan Kemuning RSUD M Yunus Bengkulu. Kesehatannya sudah berangsur-angsur membaik. Terlihat korban sudah bisa jalan dan bermain dengan ceria. “Walau sudah membaik, tetap akan kita pantau,” ucap Direktur RSUD M Yunus Bengkulu, dr Yusdi Zahrias Tazar, M.Kes, kemarin. Menurutnya, sejauh ini pihaknya juga tengah menunggu hasil laboraotrium dari Jakarta yang melakukan pengetesan terhadap darah korban tersebut. Dari hasil pengecekan itu, nantinya akan diketahui apakah korban positif atau negatif terjangkit oleh virus yang mematikan tersebut. ” Hasil lab-nya belum keluar, jadi kita belum dapat memastikan apakah korban terjangkit flu burung atau tidak,” terangnya. Sementara itu, Plt Gubernur Bengkulu, Junaidi Hamsyah, mengatakan jika dirinya akan melaporkan hal ini kepada Menteri Kesehatan RI. Pihak Menkes memberikan isyarat untuk menemuinya di Jakarta. “Rencananya, dalam pertemuan dengan Menkes itu, saya akan meminta Menkes untuk membangun ruangan khusus bagi korban flu burung tersebut,” imbuhnya. (111/400)