Saksi dan Petunjuk Minim

Sekretaris Disnakertrans Benteng, Saparudin yang juga merupakan warga Kecamatan Pondok Kelapa saat menunjukkan TKP penemuan jenazah di Desa Sri Kuncoro, Rabu (12/2) pagi.

BENTENG, Bengkulu Ekspress – Kasus pembunuhan Ratiwan (49), warga Dusun I, Desa Talang Pauh, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) masih didalami pihak kepolisian.

Hingga rabu (12/1), personel Sat Reskrim Polres Benteng masih melakukan pencarian terhadap pelaku pembunuh Ratiwan yang juga sering menjadi imam di Masjid Muhajirin, Desa Talang Pauh.

Minimnya saksi membuat aparat kepolisian mengalami kesulitan dalam mengungkap motif pembunuhan sadis itu.”Belum ada perkembangan, masih dalam penyelidikan,” singkat Kapolres Benteng, AKBP Andjas Adipermana SIK MH, rabu (12/1).

Diketahui, kasus ini bermula dari korban yang ditemukan tewas bersimbah darah di tepi jalan menuju area persawahan di Desa Sri Kuncoro, Kecamatan Pondok Kelapa, pukul 05.30 WIB, Rabu (12/2) pagi.

Diduga korban dibunuh di tempat mayatnya ditemukan.Pengamatan warga, korban mengalami luka bacokan menggunakan sebilah senjata tajam (sajam) pada bagian leher.

Tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP), juga ditemukan sepeda motor Yamaha Vega R nopol BD 6696 YC warna merah milik korban.

Setelah dibawa ke RS Bhayangkara, jenazah korban akhirnya di bawa ke rumah duka untuk dikebumikan di TPU Desa Panca Mukti, Kecamatan Pondok Kelapa.

Kepala Desa (Kades) Talang Pauh, H Idil Fitri SAg mengaku terkejut atas apa yang dialami warganya.Menurut dia, apa yang dilakukan pelaku pembunuh tergolong sadis.

“Saya harap pihak kepolisian segera menangkap pelaku,” tegasnya.

Kades mengaku bahwa korban merupakan salah seorang pengurus masjid yang menjabat khatib dan sering menjadi imam di masjid. Kesehariannya, korban memang sering menginap di kios toko pertanian yang berada tak jauh dari rumahnya. Tujuannya, agar semua barang dagangan tatap terjaga dari pelaku pencurian.

Informasi yang didapat dari warga, lanjut Kades, korban terakhir kali terlihat saat menunaikan ibadah salat Magrib pada hari Selasa (11/2) sore. Sedangkan, saat saat salat Isya dan Subuh sudah tak terlihat. Padahal, korban biasanya selalu menjalankan ibadah salat 5 (lima) waktu di masjid.

“Dalam kehidupan sehari-hari, korban sangat bagus. Suka duka selalu hadir. Apa penyebab kematian korban kami juga belum tahu,” ungkap Kades.(135)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*