Sahabat

Alfarabi

 

————————————————————————

Tak semua yang kau inginkan di dunia ini dapat terwujud
Tapi bukan berarti kau tak dapat menikmati hidup

 

 

Karya: Al farabi*

 

Ku nikmati lagi kopi ini, masih hambar.., bahkan sudah ku bantu dengan sebatang rokok, tapi rasanya tak berubah. Aku juga yang salah, bagaimana tidak, rokokku pun sebenarnya terasa hambar. Hambar dengan hambar berarti hambar kuadrat. Kalau kulihat ke belakang memang satu minggu belakangan ini hidupku memang terasa hambar. Kalau begitu bisa hambar pangkat sepuluh.

###

“Oke.. Tres, kau memang sahabatku.., saatnya aku membalas kebaikanmu selama ini,”
Aku tak mengerti apa yang dimaksud Lian
“Setelah sekian lama kita berteman, aku baru sadar, aku belum melakukan apa-apa untukmu.”
Aku merasa pembicaraan ini mulai tidak nyaman untukku, apa yang kau mau Yan..? aku masih tak mengerti.
“Aku sudah memutuskan, aku akan melakukan sesuatu untukmu.. tapi, aku tak tau apa yang harus aku lakukan?” hembusan asap rokok Lian makin terasa berat, berarti ia pun tak nyaman dengan pembicaraan ini.
“Setelah ku timbang-timbang, lebih baik kau sendiri yang minta apa yang harus ku lakukan, “ lanjutnya.
Aku terdiam sesaat, tenggorokan ku kering beberapa detik.
“ Tapi aku tak butuh apa-apa Yan..,” kataku, “dan aku juga tak berharap apa-apa dari persahabatan kita,” lanjutku lagi.
“Ya aku juga pikir begitu… Aku juga tak berpikir persahabatan kita dilandasi pemberian dan penerimaan, aku hanya merasa aku belum pernah melakukan sesuatu untukmu.”
“Kau tak perlu melakukan sesuatu untukku. Aku tak pernah meminta sesuatu dari yang ku lakukan.“
“Aku percaya itu Tres.. Tapi setelah selama ini, sudah sepantasnya kau memberi aku kesempatan berbuat yang sama untukmu.”
“Tapi Yan…”
“Jangan egoist Tres..! aku juga ingin berharga di depanmu.”
Lama kami terdiam. Obrolan ini tampak aneh. Seaneh permintaan Lian.
“Demi persahabatan kita Tres, beri aku kesempatan berbuat sesuatu untukmu”
Lian meminta dengan harap, aku terdiam dalam gundah. Obrolan ini anti klimaks.
“Oke.. !“ ujarku mengalah, “Tapi jangan paksa aku mengatakannya sekarang, beri aku waktu…,“
“ O..ke,”sambut Lian senang , “ berapa hari ?” tanyanya antusias.
“1 minggu.., berarti rabu depan kita ketemu di tempat biasa,” ucapku ragu sambil menentukan tempat pertemuan, maksudku Cafebook, tempat kami biasa berdiskusi sambil menikmati secangkir coklat.
Kami bersalaman dengan perasaan hati yang berbeda.

###

Itulah awal yang membuat kopi dan rokokku terasa hambar. Pagi hilang cerianya, siang berlalu tak berbekas, malam menjadi monster yang menerkam, hingga aku tersadar, hari telah pagi lagi. Begitu seterusnya, hingga tak terasa 1 minggu hampir berlalu. Sekarang adalah hari terakhir, malam ini aku akan mengatakan permintaanku pada Lian. Sialnya sampai detik ini aku belum menemukan apa yang ku mau.

Ku coba mengingat-ingat apa yang kubutuhkan dalam hidupku. Aku pernah ingin berkeliling dunia, jadi aku minta saja tiket pesawat ke seluruh kota-kota besar di dunia. Lian pasti tak keberatan, toh proyek yang kami dapat kemarin nilainya milyaran rupiah. Tiket pesawat keliling dunia tidak akan sampai sepuluh persennya. Wajar bagi sahabat yang belum pernah melakukan apa-apa. Atau aku minta saja buatkan kolam, seluas Senayan Jakarta yang diselesaikan dalam satu malam. Ha ha ha.. memangnya aku Roro Jonggrang. Aku senyum dan tertawa dengan ide tersebut. Mungkin aku minta wanita Uzbekisthan saja, sepuluh kalau perlu!! Tapi setelah ku timbang-timbang, istriku mau dikemanakan? Ah… Pusing aku memikirkan permintaanku sendiri.

Letih memikirkan permintaanku, aku ganti memikirkan jalannya persahabatanku dengan Lian. Siapa tau ada hal yang ku ingin dari dirinya namun tak sempat terkatakan.

Lian teman kuliahku, kami beda jurusan. Lian ekonomi dan aku komunikasi. Kami berteman karena punya hobi yang sama, coklat panas, rokok, dan buku. Kami selalu bercita-cita akan membuat café yang memadukan ketiga hal tersebut. Kami sampai bermalam-malam membicarakan rencana tersebut. Tak perlu menunggu lama. Tamat kuliah, cita-cita tersebut langsung kami wujudkan. Aku bertanggung jawab dengan buku, Lian dengan coklat, aku buat perpustakaan, Lian buat café. Rokok kami hisap bersama, setelah lelah dengan buku dan coklat.

Peresmian cafebook kami dihadiri teman-teman dekat. Jauh dari perkiraan bahwa ini adalah cikal bakal perusahaan raksasa di negeri ini. Otak ekonomi Lian memang brilliant, hanya dalam jangka waktu 3 bulan cafebook sudah menjadi tempat nongkrong kaum pemikir, kaum yang rela menghabiskan waktu berjam-jam dengan buku dan diskusi. Masuk bulan ke empat, coklat menjadi minuman paling trend di Kota Bengkulu. Tapi Lian tidak mudah puas, ia berhari-hari tidak tidur memikirkan bagaimana menaikan laba keuntungan. Aku berusaha mendukung sepenuhnya. Caffebook semakin ramai, kami harus membuka beberapa cabang. Permintaan dari beberapa daerah yang ingin memfranchise caffebook membuat usaha kami menjadi waralaba yang paling menjanjikan, itu yang pernah dikatakan analisis ekonomi di majalah terbitan ibukota.

“Tres… gimana kalau kita beli saja penerbit-penerbit kecil? Tentu keuntungannya akan berlipat.”
“Tapi, dana kita terbatas, Yan, “ ujarku khawatir.
“Tenang, kita investasikan saja seluruh dana yang ada, toh kita sudah mempunyai tempat melempar produk yang akan kita terbitkan, caffebook adalah tempat kita mendistribusikan buku,” Jawab Lian yakin.
Perhitungan Lian tak pernah meleset, penerbit-penerbit kecil yang kami beli menjelma menjadi penerbit raksasa. Caffebook di tempat-tempat tertentu mengalami perluasan. Lian langsung menangkap peluang bisnis tersebut. Tak lama kemudian Mall-Caffebook kami sudah berdiri.
“ Tres.. bagaimana kalau kita beli saja perusahaan coklat Vocvol?“
Kemudian..
“Sepertinya menguntungkan kalau kita beli produk petani tembakau dan kita buat saja perusahaan rokok sendiri, gimana menurutmu Tres?”
“ Tres! gimana kalau kita ..?” lalu,
“ Tres! ..mungkin gak kalau kita..?”
Terkadang aku sendiri cemas kalau Lian sudah memanggil namaku, ide gila apalagi yang mau ia utarakan, batinku. Tapi itulah Lian, ia sangat menghargai keberadaanku, semua rencananya selalu meminta pendapatku. Aku selalu mendukungnya. Selalu. Sungguh !

Hanya dalam waktu 5 tahun caffebook.brothers.lct telah menjelma menjadi perusahaan nasional. Jaringannya telah menjalar ke segala bidang. Dengan sedikit-sedikit pengetahuan politikku, kami juga membiayai calon-calon kepala daerah, tentu yang mempunyai peluang menang. Dan hebatnya hampir seluruhnya menang. Kamipun berhamburan proyek-proyek pembangunan dari Bupati dan Gubernur yang kami sponsori. Maka resmilah kami masuk dunia politik. Terakhir kami membiayai ketua partai sampai ia duduk jadi menteri. Dari pak Menteri inilah, pekerjaan kami kini menginjak angka 12 digit.

Lian begitu menikmati pekerjaan ini, aku juga. Lebih tepatnya aku bahagia karena Lian begitu senang.

###

Tapi, aku tetap belum menemukan apa yang kubutuhkan!

Waktu terus berjalan, tinggal 3 jam lagi sebelum pertemuan. Otakku sudah mulai penat. Rokok hambarku sudah berubah pahit. Coklatku sudah bergelas-gelas, hanya ku minum beberapa teguk. Mungkin harus ku ganti dengan kopi. Aku sudah mulai penat. Risau. Pusing. Stress. Akhirnya aku tak tahan lagi. Aku mulai menulis, sesuatu yang menjadi kebiasaan ketika aku tak mampu lagi menahan gejolak hati.

Satu demi satu kata-kata mengalir dari hatiku, dari hati bukan dari pikiran. Terus bergulir tanpa bisa aku kendalikan, jiwaku sudah tak mampu menahan risau. Setelah beberapa saat.., akhirnya selesai sudah! Ternyata menulis jauh lebih cepat dibanding menyiapkan lisan. Ku pandangi beberapa saat, ku baca beberapa kali, ku edit sana sini. Aku tersenyum puas, tapi pedih.

###
Caffebook jam 23.00 WIB.
Lian terduduk sendiri, sudah 2 jam ia menunggu, hanya ditemani sebuah surat. Lian masih menunggu Tres. Lian tak tahu jika Tres tak akan datang. Bahkan Lian tak tahu Tres bukan cuma tak datang.

###
Hai Lian..
Aneh rasanya menulis surat padamu. Padahal kita bertemu setiap hari.
Kita berteman sudah 10 tahun, namun rasanya baru kemarin. Banyak hal yang kita lalui, tapi selalu saja ada yang tak terungkap. Mungkin kita terlalu asik dengan pekerjaan hingga kita lupa mengenal satu sama lain.
(Jangan kau tunjukan surat ini pada istrimu, aku akan malu setengah mati).

Malam ini seharusnya kita bertemu, maaf aku tak datang, maaf tak memberi tau. padahal kita sudah menunggu 1 minggu untuk pertemuan ini. Tenang saja, aku tak melupakannya. Aku masih ingat tentang permintaanmu. Justru.., disitulah masalahnya. Aku telah berusaha semampuku, bahkan melebihi kemampuanku. Aku tak menemukan apa yang kau minta. Masih belum bisa..

Selama ini aku selalu bersemangat mewujudkan mimpi-mimpi kita, atau mimpimu sebetulnya. Bersemangat dengan ide-idemu, menggebu dengan terobosan briliantmu. Aku mendukung semua rencana kita( maaf, rencana-rencanamu). Dan aku sangat menikmati saat-saat itu, bersemangat untuk mewujudkan keinginan-keinginan kita, sangat bersemangat hingga aku sendiri lupa apa yang ku inginkan. Aku sudah mencarinya. Yakinlah aku sudah berusaha untuk itu.

Setelah lama kupikirkan, akhirnya ku simpulkan, aku hanya ingin seperti ini. Inginku hanyalah mewujudkan mimpimu, semangatmu, ide-idemu, serta merasakan gebu terobosan briliantmu. Aku cukuplah dengan peranku sebagai pendukungmu. Bukan kau yang tergantung dengan ku Lian, tapi aku. Aku begitu ketergantungan sebagai pendukung segala ide-idemu. Aku tak punya permintaan lain. Aku hanya ingin seperti ini.

Kini kau memintaku memberikan ide tentang keinginan pribadiku, aku tak punya kemampuan itu Lian! bahkan untuk sesuatu yang kecil. Kau yang terbiasa dengan peran ini. Kau yang selalu dipenuhi ide-ide, peranku hanya sebagai pendukungmu.
Demi persahabatan alasanmu. Kata-kata itu begitu mengiang di telingaku.

Maaf Lian.. aku sudah berusaha, aku tak mampu. Tapi aku tahu diri. Bukankah Sahabat yang baik adalah yang mengerti keinginan sahabatnya. Aku bukan sahabat yang baik untukmu Lian, aku tak dapat memenuhi keinginanmu. Aku cukup tahu diri. Aku tidak lagi layak menjadi sahabatmu. Maaf atas ketidakmampuanku. Terimakasih atas kebersamaan selama ini.

(mantan) sahabatmu

Tresno

 

Bengkulu, Februari 2009

*Penulis tinggal Bengkulu dan saat ini bisa dihubungi di email: alfarabialfa@gmail.com. Sebelumnya memiliki nama pena Abails untuk karya-karyanya yang diterbitkan surat kabar di Jogjayakarta.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*