Saat Penyandang Disabilitas Mengikuti USBN

IRUL/Bengkulu Ekspress USBN: Pisra Julianda siswa MIN 1 Kaur didampingi guru pembimbing tampak serius dan semangat menjerjakan soal USBN Bahasa Indonesia, meskipun dalam keadaan keterbatasan fisik.
IRUL/Bengkulu Ekspress USBN: Pisra Julianda siswa MIN 1 Kaur didampingi guru pembimbing tampak serius dan semangat menjerjakan soal USBN Bahasa Indonesia, meskipun dalam keadaan keterbatasan fisik.

Keterbatasan Fisik Bukan Halangan Meraih Cita-cita

Pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tingkat SD sederajat di Kabupaten Kaur, Kamis (3/5), disambut antusias oleh para siswa/siswi peserta juga tenaga pendidik. Spirit itu juga nampak di MIN 1 Kaur. Demikian juga bagi Pisra Julianda (15), peserta USBN yang merupakan penyandang disabilitas. Kekurangan fisik tidak membuatnya menyerah begitu saja untuk bisa lulus dalam USBN tahun 2018. Sama seperti siswa normal lainnya, ia memiliki tekad dan semangat yang kuat untuk bisa lulus UN untuk bisa menatap masa depan yang lebih cerah mengejar cita-citanya. Berikut laporannya?

AIRULLAH SYEKHDI, Kaur

CACAT bawaan sejak lahir tak membuat ciut nyali anak ketiga buah hati pasangan Asmawati (50), dan Nasrullabu (52), warga Desa Pasar Baru Kecamatan Kaur Selatan untuk menimba ilmu di sekolahnya. Tentunya demi mengejar cita-citanya yang ingin jadi ahli elektro. Karena keterbatasannya, Pisra mengikuti USBN dengan bantuan kursi roda. Tampak, dengan dibantu guru pembimbing, Ali Syahbana SPd, ia tetap semangat mengerjakan soal Bahasa Indonesia. Bahkan dia mampu menyelesaikan soal sebanyak 40 pilihan ganda dan lima soal esai itu dengan waktu 1,5 jam, dan bahkan ia merupakan siswa tercepat dari 36 peserta USBN di MIN 1 tersebut.

“Untuk Pisra ini kita bantu menuliskan jawabannya, karena dia memegang pensil itu agak sulit. Tapi untuk jawab soal, dia menjawab sendiri, disini kita hanya bantu apa yang ia sebutkan saja, dan saya akui anak ini pintar dan karena dia kerjakan soal UN ini hanya 1,5 jam, yang lain rata-rata dua jam semua,” kata Ali Syahbana guru pembimbing Pisra saat ditemui BE di sela-sela UN, kemarin (3/5).

Dari hasil pantau Bengkulu Ekspress kemarin, Pisra datang ke sekolah dengan seragam pramuka dan mengunakan kursi roda dengan dibantu sang ibu yang setia mendampinginya. Ia menempati ruang B dengan dibantu guru. Ia terlihat berusaha keras melingkari (menjawab) satu per satu lembar jawaban USBN kendati tangannya dan kakinya cacat. Sesekali siswa yang bercita-cita menjadi ahli elektro ini tampak keringatan karena belum selesai menjawab semua soal. Beberapa kali guru pengawas mengarahkan tangan Pisra untuk melingkari lembar jawaban.

Pisra hanya salah satu siswa cacat yang mengikuti UN tingkat SD kali ini. Meski kedua tangan Pisra tak normal, namun ia tidak mau menyerah untuk terus menjawab semua soal UN. Siswa yang lahir pada 14 Juli 2003 ini mengaku, keinginannya untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu, fisiknya yang tak normal tak membuatnya menyerah dalam belajar.

“Anak ini ngomongnya agak susah dan terbata-bata, tapi IQ nya tinggi, dan juga cita-citanya sangat besar,” ujar Ali Syahbana.

Asnawati ibu Pisra yang sehari-hari hanya bekerja sebagai penjahit juga menuturkan, anak bungsunya itu menderita saraf terjepit (Herniated Nucleus Pulposus) sejak lahir. Hal inilah membuat anaknya mengalami kesulitan untuk berjalan, bahkan untuk menulis sekalipun. Juga semenjak masuk sekolah sampai menempuh ujian, ia selalu mengantar dan menunggui anaknya di sekolah. Sebab ia berharap apa-apa yang dicita-citakan sang anak bisa tercapai. Bahkan setelah lulus MIN 1 Kaur ini Pisra berniat untuk melanjutkan pendidikan di MTsN 1 Kaur.

“Semua keperluanya saya semua yang menyiapkan termasuk semenjak dia sekolah ini saya yang selalu ngantar pakai kursi roda dan saya tunggui. Anak saya ini seperti ini sudah semenjak lahir dan sekarang sudah lumayan baik, dan saya hanya berharap apa yang diinginkannya tercapai,” tutur sang ibu.

Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kaur Bujang Ruslan SPd yang langsung melakukan pemantauan USBN di MIN 1 Kaur kemarin, juga menyampaikan ia juga selalu memberikan semangat kepada Pisra Yulianda untuk terus belajar meskipun mengalami keterbatasan fisik.

“Walaupun keterbatasan fisik jangan takut untuk mengejar cita-cita dan semoga apa yang diinginkan Pisra tercapai,” harapnya.(**)