Rutan Malabero Ricuh Napi Dikeroyok Tahanan

Dua orang tamping korban pengeroyokan
Napi di keroyok
RUSUH : Tujuh orang tahanan Rutan kelas 11B Malabero yang di duga terlibat dalam keributan antar tahanan di amankan menuju mapolres Bengkulu untuk di periksa ,Jumat (7/7)


BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Rumah tahanan (Rutan) Kelas IIB Bengkulu, Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu, ricuh, Jum’at (7/7) sekitar pukul 10.00 WIB. Beruntung pihak kepolisian cepat sampai di lokasi sehingga kerusuhan tidak semakin membesar, memancing kemarahan tahanan lain.
Total ada 7 orang tahanan dan 2 narapidana dibawa atas kerusuhan tersebut. Tujuh orang tahanan dibawa ke Polres Bengkulu, sementara 2 orang napi dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Jitra untuk mendapatkan perawatan karena menderita luka memar dan luka sayatan. Selain itu barang bukti seperti batu, gunting kuku dan dua bilah parang dibawa. Untuk dua bilah parang masih diselidiki, termasuk barang bukti perkelahian atau tidak.

“Ada 9 orang tadi sudah dibawa, 7 dibawa ke Polres dan 2 di bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara karena mengalami luka,” jelas Kapolda Bengkulu, Brigjen Pol Coki Manurung yang memantau kondisi Rutan pasca kerusuhan.
Berkaitan dengan penyebab kerusuhan, Kapolda mengatakan jika pemicu kerusuhan hanya karena salah paham antara tamping dan tahanan. Mereka sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi, kemudian terjadilah perkelahian. Tamping (napi yang memasuki masa asimilasi yang masa hukumannya hampir habis) yang 2 orang kemudian dikeroyok tahanan pidum sebanyak 7 orang. Untuk sementara 7 orang yang sudah dibawa ke Polres Bengkulu akan diperiksa intensif. Sementara dua orang yang merupakan tamping menjalani perawatan terhadap sejumlah luka yang diderita.

“Hanya masalah sepele, salah paham saja, biasalah hal semacam ini terjadi di dalam Rutan. Tidak ada terjadi penikaman, itu hanya pakai gunting kuku saja. Barang bukti itu ditambah batu juga sudah dibawa. Untuk parang yang diamankan tadi belum jelas barang bukti atau tidak,” imbuh Kapolda.
Data terhimpun, kerusuhan bermula ketika tamping bernama Koko Irawan (21) saat berjalan tidak sengaja menyandung kaki Candra (33) tahanan kasus sajam. Candra yang tidak senang, kemudian menantang Koko berkelahi. Koko emosi mendapat ajakan berkelahi dari Candra, lalu keduanya terlibat ribut mulut.
Candra yang tidak bisa mengendalikan emosi kemudian mencekik leher Koko, tidak lama setelah itu 6 orang rekan Candra membantu memukul Koko. Perkelahian itu sempat dibantu oleh Wiki (29) rekan Koko. Alih-alih membantu, Wiki juga mendapat pukulan dari 7 orang tersebut. Atas perkelahian tersebut Wiki mendapatkan luka tusukan gunting kuku di bagian perut. Sementara Koko bibirnya pecah karena dipukul batu oleh Candra.
Dari pengakuan Koko, dia sama sekali tidak mengetahui kenapa Candra begitu cepat emosi hanya karena kakinya menyandung saat Candra duduk di blok pidum bawah. Koko juga mengaku, sebelumnya pernah dikeroyok. Siapa yang mengeroyok, Koko tidak menjelaskan.

“Saya tidak tahu masalahnya apa. Sudah dua kali dengan ini saya dikeroyok,” singkat Koko sembari menahan sakit dibibirnya yang pecah akibat dipukul batu.

Kakanwil : Ini Bukan Kerusuhan
Sementara itu Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Bengkulu, Drs Liberty Sitinjak menegaskan jika kejadian di Rutan Malabero bukan kerusuhan. Karena yang berkelahi hanya 7 melawan 2 orang atau tidak seluruh tahanan Rutan terlibat perkelahian.
Kakanwil juga enggan mengatakan kejadian itu pengeroyokan. Karena dua orang korban merupakan tamping, kemungkinan ada kalimat dari tamping yang tidak pas sehingga memancing emosi tahanan lain.

“Ini bukan rusuh ya, yang berkelahi itu 7 melawan 2 jadi tidak rusuh. Ini hanya kesalahpahaman saja, perkelahian kecil. Jika dibilang pengeroyokan juga tidak,” tegas Kakanwil.
Menurut Kakanwil perkelahian semacam ini sudah menjadi hal wajar di Rutan atau Lapas. Bahkan perkelahian antar tahanan hal yang tidak bisa dihindari. Selain petugas yang kurang, petugas lapas tidak setiap saat mengawasi tahanan yang memiliki perbedaan karakter dan watak.

“Kurangnya petugas kan jadi permasalahan nasional bukan hanya di Bengkulu. Perkelahian semacam ini tidak bisa kita hindari dan sudah menjadi hal biasa bagi petugas Rutan atau Lapas,” ujar Kakanwil.
Pasca terjadinya kerusuhan, Kakanwil bakal melakukan evaluasi untuk mencegah terjadinya perkelahian antar tahanan. Siapa saja tahanan atau tamping terlibat perkelahian atau pemicu rusuh dipastikan akan dipanggil dan dilakukan pembinaan.

Data terhimpun, kerusuhan yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB itu langsung membuat kecewa sejumlah masyarakat yang ingin menjenguk keluarga mereka di dalam Rutan. Mereka datang jauh-jauh dari berbagai daerah membawa makanan dan pakaian untuk keluarga mereka di dalam rutan. Saat sampai di Rutan tidak bisa menjenguk keluarga mereka. Terlebih lagi saat petugas lapas mengumumkan jadwal jenguk tahanan tidak ditiadakan khusus Jum’at (7/7).

“Padahal tadi pagi masih, tiba-tiba ada ribut pintu langsung ditutup semua kita yang masuk antri langsung disuruh keluar,” ujar salah satu masyarakat hendak menjenguk keluarganya.
Sementara itu ratusan personel dari Polda dan Polres Bengkulu masih terlihat melakukan penjagaan di Rutan Kelas IIB Bengkulu. Kondisi Rutan Malabero paska kerusuhan sudah kondusif. Hanya saja penjagaan polisi disetiap simpang sekitar Rutan masih terlihat.(167)