Rupiah Melemah, Subsidi Solar Naik

duit
foto :ist

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Meskipun saat ini rupiah mengalami pelemahan hingga ke level Rp 15.000 per 1 dolar AS, pemerintah malah menaikkan subsidi bahan bakar minyak atau BBM jenis Solar Rp 2.000 per liter dari sebelumnya Rp 500 per liter. Hal tersebut untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM jenis solar pada tahun 2018 ini akibat melemahnya nilai rupiah.

Pejabat sementara (Pjs) Region Manager Communication & CSR PT Pertamina Sumbagsel, Kitty Andhora mengatakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menerbitkan keputusan kenaikan subsidi Solar paling besar senilai Rp 2.000 per liter.

“Jadi, subsidi tidak ditetapkan baku Rp 2.000, tapi disesuaikan dengan kondisi harga minyak dunia sehingga bahasanya paling besar Rp 2.000 per liter. Kalau nanti harga minyak turun, ya tinggal disesuaikan,” kata Kitty, kemarin (6/9).

Menurutnya, subsidi menjadi Rp 2.000 per liter itu sudah sesuai hitungan bersama antara Pertamina dan pemerintah. Kebijakan menambahkan subsidi untuk BBM jenis Solar merupakan upaya pemerintah menyikapi kenaikan harga minyak mentah yang lebih tinggi dari asumsi makro dalam APBN 2018. Penambahan subsidi juga dilakukan guna menjaga kondisi keuangan Pertamina tetap baik meski ada kenaikan minyak dunia dan mendapat penugasan pemerintah.



“Kalau untuk Solar cukup, kan kita sudah hitung bersama angkanya dan penambahan subsidi ini untuk kebaikan bersama juga,” ujarnya.

Sementara itu, harga Premium subdidi saat ini Rp 6.450 per liter dan Solar subsidi Rp 5.150 per liter, sedangkan harga minyak tanah Rp 2.500 per liter. Sedangkan harga BBM non subsidi harganya menyesuaikan dengan harga minyak dunia. Khusus di SPBU di Bengkulu per 1 Juli 2018 Rp 7.800 per liter untuk Pertalite, Pertamax Rp 9.500 per liter, Pertamina Dex Rp 10.500 liter dan Dexlite Rp 9.000 per liter.”Namun harga jual eceran BBM tersebut nantinya akan disesuaikan setiap tiga bulan sekali,” tuturnya.

Seperti diketahui, harga jual eceran jenis BBM tertentu nanti akan ditetapkan oleh Menteri ESDM setiap tiga bulan. Selain itu, Menteri juga dapat menetapkan harga BBM lebih dari satu kali dalam setiap tiga bulan. Penentuan harga BMM tersebut akan dihitung menggunakan rata-rata harga indeks pasar dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dengan kurs beli Bank Indonesia.

“Penentuan harga tersebut nanti akan ditentukan berdasarkan periode tanggal 25 pada tiga bulan sebelumnya, sampai dengan tanggal 24 bulan berjalan untuk penghitungan harga eceran tiga bulan berikutnya,” tutup Kitty.

Sementara itu, salah seorang nelayan di Pasar Bengkulu, Lukman (30) mengaku cukup senang dengan kebijakan pemerintah menambah subsidi untuk solar sebesar Rp 2.000. Apalagi kebutuhan solar bagi nelayan bisa dikatakan cukup tinggi. Dirinya berharap ke depan harga solar bisa semakin turun dari harga saat ini.”Kami ucapkan terimakasih karena subsidinya ditambah, walaupun tidak besar tapi cukup membantu untuk menghindari kenaikan harga,” tukasnya.(999)