Rupiah Melemah, Lakukan Intervensi

Endang Kurnia Saputra
Endang Kurnia Saputra

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Nilai tukar rupiah sempat mengalami pelemahan hingga nyaris menyentuh Rp 14 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) sejak Jumat lalu (20/4).

Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi baik di pasar valas maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN) dalam jumlah besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap sesuai fundamental.
Kepala BI Perwakilan Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengatakan, pelemahan terjadi akibat imbas dari penguatan tajam dolar AS yang dipicu oleh meningkatnya imbal hasil (yield) surat berharga AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga di Amerika. “Rupiah memang sempat mengalami pelemahan akibat penguatan dollar AS yang cukup tajam,” ujar Endang pada press conference di RM Sederhana Kota Bengkulu, kemarin (24/4).

Kenaikan yield dan suku bunga di AS dipicu oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS seiring berbagai data ekonomi AS yang terus membaik. Selain itu, meningkatnya tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok. “Pada Senin (23/4) dolar AS tercatat menguat terhadap semua mata uang negara maju. Yen Jepang terdepresiasi 0,25%, yuan Tiongkok 0,27%, dolar Singapura 0,35%, dan euro 0,31%, termasuk rupiah Indonesia yang juga melemah,” terang Endang.

Menanggapi hal tersebut, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah (IDR) sesuai fundamentalnya, Bank Indonesia telah melakukan intervensi baik di pasar valas maupun pasar SBN dalam jumlah cukup besar. Dengan upaya tersebut, rupiah yang sempat terdepresiasi sebesar 0,70%, hanya mengalami pelemahan 0,12% pada Senin (23/4), lebih rendah dari depresiasi yang dialami mata uang negara berkembang lainnya.

“Secara rinci, beberapa mata uang negara berkembang yang terdegradasi adalah peso Filipina melemah 0,32%, rupee India 0,56%, baht Thailand 0,57%, peso Meksiko 0,89%, dan rand Afrika Selatan 1,06%,” tutur Endang.

Kondisi serupa juga tampak jika dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang. Sejak awal April (month to date), rupiah melemah 0,91%, lebih kecil daripada pelemahan mata uang beberapa negara berkembang seperti baht Thailand 1,04%, rupee India 1,96%, peso Meksiko 2,76%, rand Afsel 3,30%.

“Jika dilihat sejak awal tahun 2018 (year to date), rupiah melemah 2,35%, lebih ringan dibandingkan pelemahan mata uang beberapa negara berkembang lain seperti real Brasil 3,06%, rupee India 3,92%, peso Filipina 4,46%, dan lira Turki 7,17%,” terang Endang.

Selain beberapa faktor tersebut, ada juga tiga faktor di dalam negeri yang menjadi penyebab pelemahan rupiah. Namun Endang meyakinkan BI akan terus memonitor dan mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah yang dipicu oleh gejolak global maupun kondisi domestik.

“BI akan terus mewaspadai berbagai faktor penyebab pelemahan rupiah dan memonitornya untuk mewaspadai risiko lebih lanjut,” sambung Endang.

Beberapa hal yang menyebabkan pelemahan rupiah selain kenaikan suku bunga AS adalah perang dagang AS-Tiongkok, kenaikan harga minyak, dan eskalasi tensi geopolitik terhadap berlanjutnya arus keluar asing dari pasar SBN dan saham Indonesia dan kondisi domestik berupa kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik untuk kebutuhan pembayaran impor, utang luar negeri, dan dividen yang cenderung meningkat pada triwulan II.

“Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya,” imbuh Endang.

Namun diungkapkannya, Pelemahan rupiah ini memberikan keuntungan bagi eksportir karena adanya perbedaan nilai tukar terutama untuk sektor batubara dan sawit. Sementara itu, pelemahan rupiah tersebut tidak memberikan efek inflasi dari naiknya sejumlah harga barang impor seperti elektronik dan kendaraan mengingat seluruh barang tersebut telah di produksi didalam negeri. “Produsen Indonesia telah menetapkan harga jauh lebih tinggi yaitu 1 dolar dihargai kurang lebih Rp 15 ribu jadi harga cenderung stabil. secara umum pelemahan rupiah ini memberikan keuntungan bagi eksportir karena akan memberikan keuntungan dari perbedaan nilai tukar,” tukas Endang.

BI Siapkan Rp 2.4 Triliun Jelang Ramadhan dan Idul Fitri
Sementara itu, Kepala Tim Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi, Slamet Sudiarto mengatakan, pemenuhan uang rupiah menjelang Ramadhan dan Idul Fitri di proyeksikan oleh BI berdasarkan dari jumlah cash flow baik di kas titipan BI di Lubuk Linggau, Mukomuko, dan Manna maupun dari permintaan Bank Umum di Bengkulu. Dari semuanya itu sejumlah Rp 2.4 triliun telah disiapkan oleh BI untuk mencukupi permintaan akan rupiah hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri 2018 mendatang.

“Di Bengkulu jumlah uang kas akan dipenuhi untuk perbankan dan kepada masyarakat akan dilakukan kas keliling dan penukaran pada lebaran nanti karena peminat uang kecil pada lebaran akan semakin meningkat,” singkat Slamet.(999)