Rupiah Melemah, Impor Meningkat

tukar-rupiah
FOTO: IST

BENGKULU, BENGKULU EKSPRESS – Ketergantungan Indonesia, termasuk Bengkulu terhadap impor menjadi salah satu alasan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal tersebut terbukti dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan nilai Impor Provinsi Bengkulu pada Agustus 2018 mengalami peningkatan cukup tajam mencapai mencapai US$ 14,50 juta. Nilai impor ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan bulan Juli 2018 yang tercatat sebesar US$ 1,07 juta.

Pakar Ekonomi Universitas Bengkulu, Prof Dr Lizar Alfansi PhD menyebutkan, ketergantungan Indonesia terhadap impor bisa memperparah depresiasi nilai tukar rupiah. Selain itu, angka impor yang tinggi juga ikut membayangi inflasi.

“Fenomena terkait dengan inflasi adalah ketergantungan atau dominasi impor. Jadi, kita ini memang impor, baik bahan konsumsi maupun bahan baku,” kata Lizar, kemarin (3/10).



Meski begitu, rasio impor terhadap ekspor di Bengkulu tidak cukup besar. Pada Agustus 2018, nilai impor Bengkulu hanya mencapai US$14,50 juta. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan nilai ekspor Bengkulu yang mencapai US$32,58 juta. Akan tetapi besarnya nilai impor tersebut juga secara otomatis telah berdampak kepada pelemahan rupiah.

“Meski nilai impor terhadap ekspor relatif kecil, tetapi ikut berkontribusi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ujar Lizar.

Jika hal tersebut dibiarkan, akan terasa pada kenaikan harga-harga barang konsumsi, makanan dan minuman, serta Bahan Bakar Minyak (BBM). Meskipun produk yang diimpor bukan barang konsumsi.”Dampaknya, pasti harga-harga melonjak juga kemudian daya beli akan melemah, karena pengaruh pelemahan rupiah,” tutup Lizar.

Seperti diketahui, Bengkulu termasuk salah satu provinsi yang doyan mengimpor aspal dari Siangpura dan peralatan konstruksi dari Tiongkok. Nilai impor aspal mencapai US$417 ribu dan impor peralatan kontruksi mencapai US$14,07 juta.”Dua komoditi tersebut selalu diimpor oleh Bengkulu, karena untuk keperluan pembangunan infrastruktur di Bengkulu seperti jalan,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Bengkulu, Budi Hardiyono SSi ME.

Akan tetapi, meskipun Provinsi Bengkulu kerap melakukan impor, namun nyatanya neraca perdagangan masuh tercatat surplus. Hingga Agustus 2018 lalu, neraca perdagangan Provinsi Bengkulu mengalami surplus sebesar US$ 18,35 juta. Sementara neraca perdagangan Provinsi Bengkulu Bulan Januariā€“Agustus 2018 mengalami surplus sebesar US$ 147,33 juta.”Kita melihat neraca perdagangan di Bengkulu masih bagus dan saya pikir impornya belum berpengaruh terhadap neraca perdagangan Bengkulu,” tutupnya.(999)