Rumah Singgah Medis Minim Fasilitas

IST/BE
Inilah gedung LPMP Bengkulu yang dijadikan rumah singgah bagi sejumlah tenaga medis yang membantu penanganan pasien Covid-19 di RSMY Bengkulu.

 

Tak Ada Jaringan Seluler Hingga Makan Seadanya

BENGKULU, BE – Tim medis yang disebut-sebut sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien Covid-19 semestinya mendapatkan fasilitas yang nyaman usai bertugas.  Namun, fasilitas tersebut tidak dirasakan oleh tenaga medis yang merawat pasien Covid-19 di RSUD M Yunus Bengkulu. Mereka hanya disediakan rumah singgah yang sangat minim fasilitas di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Bengkulu yang beralamat di Jalan Zainul Arifin Kota Bengkulu.

Bahkan, rumah singgah tersebut tidak memiliki jaringan seluler dan internet, sehingga sulit untuk menghubungi keluarga tercinta.Salah seorang tenaga medis yang enggan disebutkan namanya mengatakan sejak 25 Mei 2020 lalu tidak bisa menghubungi keluarganya. Hal tersebut disebabkan jaringan internet di LPMP yang cukup minim. Bahkan, untuk menghubungi suami dan anak-anaknya tidak bisa. Ditambah lagi, dirinya selama 1 bulan lebih tidak diperkenankan bertemu dengan siapapun.

“Ini sudah seperti berada di LP Cipinang, kami tidak bisa berkomunikasi maupun bertemu dengan keluarga,” katanya, Kamis(4/6).

Hal itu membuat para tenaga medis yang tinggal di LPMP Bengkulu menjadi resah dan membuat psikologi mereka terganggu. Ditambah lagi, anak-anaknya yang setiap hari selalu menunggu kabar darinya. Maklum, menjadi bagian dari Tim Medis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bengkulu bukanlah pekerjaan yang mudah. Salah-salah mereka yang tertular Covid-19.

“Anak-anak suka menghubungi saya, tapi karena jaringan di sini jelek jadi kadang suka terputus panggilannya. Sedih rasanya,” tuturnya.

Tidak hanya persoalan jaringan, fasilitas tempat tinggal yang diberikan juga sangat minim. Tinggal di LPMP Bengkulu sudah seperti hidup di era tahun 90-an. Tanpa AC, teralis, dan ventilasi udara yang tidak memadai. Terkadang dirinya juga merasa was-was saat ingin tidur. Khawatir kalau ada orang dari luar yang berusaha masuk secara diam-diam ke dalam kamar.

“Fasilitas di sini sangat minim, kadang takut juga kalau malam, khawatir ada orang dari luar yang masuk ke kamar,” ungkapnya.

Permasalahan lain yang dikeluhkan adalah makanan yang diberikan kepada tenaga medis sejak dua minggu bertugas itu dianggap kurang layak. Pemberian makanan tiga kali sehari itu disayangkan karena nasi dan lauk yang disajikan hanya seadanya. Padahal para tenaga medis ini harusnya diberikan makanan yang bergizi seimbang. Sehingga kondisi kesehatan dapat terus terjaga.

“Makanan kami hanya terima seadanya. Kami juga tidak pernah diberikan vitamin, bagaimana mau sehat,” tuturnya.

Disamping itu, untuk mendapatkan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis juga diakui cukup sulit. Padahal dirinya sudah mencoba berkoordinasi dengan manajemen.

“Saya coba komplain agar ini berubah. Kami semangat, tapi semangat tanpa diimbangi hak kami, rasanya semua sia-sia,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni SKM MKes mengatakan pihaknya telah berusaha maksimal memenuhi seluruh kebutuhan para tenaga medis. Namun, jika ada beberapa tenaga medis belum mendapatkan fasilitas yang memadai, dalam waktu dekat akan segera diupayakan.

“Kita semua berusaha memberikan yang terbaik, tidak mungkin kita biarkan begitu saja, kita akan perjuangkan,” tutupnya.

Jam Kerja Tenaga Medis Dipersingkat

Dalam penanganan Covid-19 di Provinsi Bengkulu, jam kerja tenaga medis di rumah sakit (RS) akan dipersingkat. Jika selama ini kerja shift 8 jam perhari, maka akan dipersingkat menjadi 6 jam per hari. Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah mengatakan waktu kerja selama ini dari hasil kajian epidemiologi dan imunologi covid-19 terlalu panjang, maka akan dipersingat menjadi 6 jam.

“Selama ini 8 jam terlalu panjang, dipendekkan lagi jadi 6 jam. Buat nanti empat shift,” terang Rohidin kepada BE usai mendengarkan presentasi kajian epidemiologi dan imunologi covid-19 di Gedung Daerah, Kamis (4/6).

Tidak hanya soal tenaga medis, dari hasil kajian dinilai laboratorium untuk uji sampel covid-19 itu terlalu kecil kapasitasnya. Menurut Rohidin, laboratorium untuk uji sampel covid-19 itu saat ini memiliki kapasitas mampu menguji 80 sampel perharinya. Jika dibandingnya dengan jumlah penduduk Bengkulu sebanyak 2 juta, maka satu laboratorium itu sudah profesional.

“Provinsi besar lain jumlah penduduknya ada sampai 35 juta jiwa, punya laboratorium 7 unit. Jika dibandingkan jumlah penduduk, maka cakupan layanannya lebih bagus kita,” tuturnya.

Saat ini, Rohidin menilai laboratorium covid-19 di Bengkulu itu sudah cukup baik. Tinggal lagi memaksimalkan pelayanan yang harus dilakukan. Sehingga hasil pemeriksaan sampel cepat diketahui.

“Sebanarnya kecakupannya masih sangat baik,” tambah Rohidin.

Rekomendasi juga diberikan untuk membuat rapid test secara massal untuk masyarakat Bengkulu. Dijelaskannya, upaya itu sudah dibuat kebijakan sebelumnya. Bahkan dirinya sudah meminta kabupaten/kota melaksana rapid test minimal 3 persen dari jumlah penduduk, sisanya jika tidak tercover, maka provinsi yang akan menanggulanginya.

“Begitupun untuk pemakaian masker harus sampai ke sanksi, agar masyarakat mematuhinya,” bebernya.

Beberapa rekomendasi yang telah diberikan, pihaknya akan mematuhinya. Sehingga pencegahaan atas wabah covid-19, bisa lebih maksimal kembali. Dengan demikian, Bengkulu bisa dinyatakan siap untuk menjalankan kebijakan new normal.

“Rekomendasi seperti ini, yang nanti akan kita patuhi,” tandas Rohidin. (151/999)