Rumah Gadang, IKS Diresmikan

IST/Bengkulu Ekspress Peresmian Gedung Kreasi Budaya Daerah Ikatan Keluarga Solok (IKS) serta pemberian gelar Datuak Rajo Nan Babangso kepada Rohidin Mersyah, Minggu (23/3).

Gub Dianugerahi Gelar  Datuk Rajo Nan Babangso

BENGKULU,Bengkulu Ekspress – Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bengkulu meresmikan gedung Kreasi Budaya Daerah Ikatan Keluarga Solok (IKS), Minggu (24/3).  Peresmian gedung baru ini diinisiasi Ikatan Keluarga Solok beralamat di Jalan Budi Utomo II RT 07, Kelurahan Beringin Raya, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu.

Selain meresmikan gedung, dalam kesempatan tersebut juga memberikan gelar Datuk Rajo Nan Babangso kepada Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah.Ketua Ikatan Keluarga Solok Provinsi Bengkulu, Yassar Aksa menuturkan gelar tersebut diberikan sebagai balas jasa karena Rohidin Mersyah telah membantu keluarga besar Minangkabau dan Kota Solok di Kota Bengkulu.

“Iya gelar ini atas jasa beliau yang peduli dan membantu keluarga besar Minangkabau, Kota Solok di Provinsi Bengkulu ini,” ujarnya.

Sebagai keluarga Solok, Wakil Walikota Solok, Reiner mengucapkan terimakasih atas support yang diberikan Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu serta Pemerintah Provinsi Bengkulu. Hal ini adalah hasil rembukan nenek mamak Kota Solok.

“Sebagai Pemerintah Kota Solok, kami mengucapkan terima kasih sekali lagi atas bantuan guna pembangunan gedung Rumah Gadang ini. Kami yakin, apabila kita bersatu kita akan maju. Rumah Gadang ini sebetulnya rumah adat Minangkabau, yang ternyata dibangun di Bengkulu oleh kebijakan gubernur. Ini tentu kehormatan bagi kami,” tutur Reiner yang hadir bersama istrinya.  Di sisi lain, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengaku tersanjung dan bangga atas anugerah gelar yang diberikan kepada dirinya.

“Saya tersanjung dan bangga atas anugerah gelar yang diberikan, selamat memiliki Rumah Gadang baru, semoga tempat ini bisa dijadikan sebagai pusat kegiatan dan pertemuan bagi perkumpulan Ikatan Keluarga Solok khususnya, serta Ikatan Keluarga Minang pada umumnya yang ada di Provinsi Bengkulu,” tukas Rohidin.



Ditambahkannya, suku manapun di Bengkulu, merupakan keluarga yang diberikan kebebasan berekspresi. Apalagi soal pelestarian adat dan budaya kemudian berpadu di Bengkulu, dipercaya akan menjadikan warna baru dan menjadi kekayaan budaya Bengkulu.

“Terdapat berbagai komunitas kesukuan di Bengkulu, saya tegaskan ini bukanlah untuk sekat-sekat dalam bermasyarakat. Kita mengapresiasi seluruh bentuk budaya yang beragam, ini untuk tetap tumbuh di Bumi Raflesia, ada komunitas Jawa, Minang dan banyak lagi, ini kekayaan kita,” kata Rohidin. Selain adat dan budaya, suku bangsa di Indonesia juga membawa falsafah-falsafah yang bermakna.

Falsafah-falsafah yang ada melalui pepatah kesukuan ataupun literasi daerah, juga tak bisa dibiarkan maknanya terpelintir. “Saya membaca, ada pepatah ‘terkurung maunya di luar, terhimpit maunya di atas’, ini kan sejatinya mempunyai makna motivasi gigihnya perantauan yang tak mau menyerah dengan kondisi. Makna-makna falsafah seperti ini yang sempat dikonotasikan negatif harus kita luruskan. Tentunya bisa mulai melalui komunitas-komunitas ini,” pungkas Rohidin Mersyah.(cik5/prw)