RSUD M Yunus Terlilit Utang Rp 17,4 Miliar

BENGKULU, BE – Kondisi RSUD M Yunus benar-benar sudah kronis. Sebab itu perlu pembenahan secara cepat agar tidak tutup. Rumah sakit ini ternyata setiap tahunnya terus merugi. Sehingga, tidak mampu membayar utang-utang kepada rekanan. Total utang rumah sakit itu sejak tahun 2010 hingga saat ini sebesar Rp 17,750 miliar.  Dan akan terus membesar bila manajemen tidak melakukan perbaikan.

“Itu jumlah utang yang harus dibayar RSUD M Yunus. Nanti akan saya sampaikan ini kepada atasan (Plt Gubernur H Junaidi Hamsyah),” kata Asisten I Setda Pemprov Drs H Sumardi MM, kemarin.

Ia mengatakan rincian utang tersebut antara lain tahun 2012 utang sebesar Rp 2,2 miliar, utang obat/BMHP Januari-September 2012 Rp 10,5 miliar, dan sisa utang obat/BMHP 2011 Rp 4,7 miliar.  “Totalnya Rp 17 miliar lebih utang yang harus dilunasi.  Sedangkan utang tahun 2010 Rp 18,1 miliar telah dibayar pada  tahun 2011 lalu,” kata Sumardi.

Utang-utang tahun 2012 ditanggung oleh rekanan seperti PT Anugerah Argon Medica Rp 1 miliar lebih, CV Bhakti Sejahtera Mandiri Rp 1,1 miliar, PT Tiata Akesindo Rp 1,3 miliar, PT Rajawali Rp 1,2 miliar, Enseval Rp 637 juta. Selain itu kimia farma Rp 288 juta, Anugerah Nusantara Raya Rp 775 juta, Dosni Roha Rp 271 juta. Kemudian, Kinalia Pratama Rp 1 miliar, Tri Mitra Kencana Rp 309 juta, Samudra Pharma Rp 1 miliar, Keraton Bayent Sakti Rp 233 juta, PT Kebayoran Pharma Rp  195 juta, PT Annur Rp 209 juta, dan Menjangan Rp 676 juta.
“Selain utang obat/BMHP 2012 sebesar Rp 10,5 miliar, masih ada utang untuk keperluan lain sekitar Rp 4,7 miliar,” katanya.

RSUD M Yunus masih menanggung utang tahun 2011 sebesar Rp 4,7 miliar lebih antara lain kepada BSM Rp 1,3 miliar, Merapi Rp 253 juta, Purna Karya Rp 654 juta, Dosni Karya Rp 654 juta, Keraton Rp 222 juta, Samudra Farma Rp 281 juta, Tiara Alkesindo Rp 224 juta, Hotama Rp 715 juta, Kinalia Rp 84 juta dan Mendjangan Rp 135 juta.  “Sedangkan utang-utang tahun 2010 Rp 18,1 miliar telah dibayar pada tahun 2011 lalu,” ujarnya.

Sumardi mengatakan, dengan adanya utang-utang yang ditanggung RSUD M Yunus itu , ia akan membahas kepada Direktur RSUD M Yunus dan melaporkan kepada Plt Gubernur.  Pembayaran utang ini akan dilakukan melalui pendapatan rumah sakit.  “Akan dibayar dari penghasilan rumah sakit,” katanya.

Direktur BDW (Bengkulu Development wacht) Dian Syahputra SIP menduga ada kebocoran pendapatan rumah sakit sehingga tidak sanggup membayar utang-utang.  Sebab, jika tidak terjadi kebocoran rumah sakit itu justru bisa untung.  “Karena setiap pasien membayar uang jasa dan obat berarapun tarif yang ditetapkan rumah sakit. Kenapa sampai menimbulkan utang?” katanya.

Ia mengatakan perlunya audit khusus terhadap keuangan rumah sakit, sebab ketidakberesan ini indikasinya sudah kuat.  Bila dibiarkan, ia mengatakan utang-utang rumah sakit itu akan semakin menumpuk. “Bisa-bisa tidak mampu lagi membayar utang,” katanya. (100)