RSUD Curup Diduga Tolak Pasien Kritis

Foto : IST

CURUP, Bengkuluekspress.com – Setelah sebelumnya beredar kabar penolakan pasien di beberapa rumah sakit di Kota Bengkulu. Kali ini informasi penolakan pasien juga terjadi di RSUD Curup.

Akibat dari dugaan penolakan pasien tersebut, satu warga dari desa Babakan Baru Kecamatan Bermani Ulu Raya (BUR), Adit Alsidiki (13) yang sempat dibawa ke RSUD Curup dengan kondisi kritis meninggal dunia saat perjalanan kembali pulang ke rumahnya.

Endang Supriatna (45), orang tua dari Adit saat dikonfirmasi via telpon membenarkan terkait dugaan penolakan anaknya di RSUD Curup yang ada di jalur dua saat dirujuk dari Puskesmas Bangun Jaya.

“Saat kami tiba di RSUD Curup, anak saya cuman diperiksa di atas mobil ambulance, dokter hanya memeriksa matanya menggunakan senter Handphone (HP),” terang Endang.

Itupun menurut Endang, baru dilakukan pemeriksaan setelah sekitar 10 menit mereka sampai di RSUD Curup, oleh petugas medis di RSUD Curup mereka menyarankan agar anaknya langsung di rujuk ke Bengkulu, namun Endang mengaku sudah trauma dengan penolakan di RSUD Curup.

khawatir mereka sudah jauh-jauh ke Bengkulu justru ditolak lagi. Sehingga mereka berinisiatif membawa ke salah satu klinik, namun ditolak juga karena keterbatasan alat.

“Alasan pihak rumah sakit menolak karena terbatasan alat dan petugas pemasang ventilator,” paparnya.

Sebelum dibawa ke RSUD Curup, Endang mengaku membawa anaknya terlebih dahulu ke Puskesmas Bangun Jaya pada Sabtu (6/6) malam sekitar pukul 19.30 karena tak sadarkan diri dan sebelumnya sempat muntah-muntah. Kondisi anaknya tersebut, diduga karena jatuh dari sepeda, karena seharian ia bermain sepeda dan ada beberapa luka seperti jatuh dari sepeda dibeberapa bagian tubuhnya. .

Sementara itu, Kepala Puskesmas Bangun Jaya, M Nasirmauludin membenarkan perihal dugaan penolakan pasien yang mereka rujuk ke RSUD Curup tersebut. Padahal menurut Nasir sistem rujukannya sudah sesuai mekanisme yang berlaku.

“Sebelum melakukan rujukan, petugas kami sudah menghubungi petugas di RSUD Curup,” terang Nasir.

Dijelaskan Nasir, sistem rujukan sendiri ia mengaku masih sistem rujukan manual yaitu menghubungi petugas jaga di RSUD Curup, karena Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (Sisrute) belum berfungsi.

Saat melakukan konfirmasi menggunakan HP tersebut, petugas di RSUD Curup lama memberikan balasan, karena kondisi korban yang sudah kritis, kemudian atas persetujuan dirinya kemudian petugas langsung merujuk korban ke RSUD Curup.

“Sebelum kita rujuk, pasien sudah kita tangani sesuai SOP yang berlaku, karena keterbatasan peralatan kemudian oleh dokter kita disuruh rujuk ke RSUD Curup, karena 10 menit tak ada jawaban dari pihak rumah sakit, karena ini emergency sehingga langsung kita bawa,” terang Nasir.

Direktur RSUD Curup, dr Samiri melalui Kepala Bidang Pelayanan Sofan Wahyudi membenarkan bahwa memang pasien yang kritis dan akhirnya meninggal dunia tersebut sempat datang di RSUD Curup.

Namun tidak bisa ditangani oleh petugas RSUD Curup karena keterbatasan peralatan dan tenaga medis yang ada di RSUD Curup.

“Saat pasien datang kita masih terkendala dengan SDM dan peralatan medis, karena alat CT Scan kita belum siap dan petugas incubasi sedang berada di ruang isolasi,” papar Sofan.

Karena keterbatasan tersebut, menurut Sofan, kemudian petugas RSUD Curup menyarankan agar korban langsung dirujuk ke rumah sakit yang ada di Provinsi Bengkulu.

Disisi lain, ia juga mengungkapkan, bahwa sistem rujukan yang dilakukan oleh petugas dari Puskesmas Bangun Jaya tidak sesuai dengan Sisrute.

Karena menurutnya, bila rujukan menggunakan Sisrute, petugas di RSUD Curup bisa mengetahui kondisi pasien dan bisa menyarankan untuk langsung dirujuk ke rumah sakit yang ada di Bengkulu karena kondisinya sudah tidak bisa ditangani lagi di RSUD Curup. (251)