Rp 468,5 Miliar Dimusnahkan

BENGKULU, BE– Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu melakukan pemusnahan atau peracikan uang sebesar Rp 468,5 M. Peracikan yang dilaksanakan Bank Indonesia Bengkulu tersebut selama periode Januari hingga November 2013 lalu. “Saat ini uang yang sudah kita racik sebesar Rp 468,5 miliar, namun saya yakin akan bertambah karena hingga akhir tahun kemarin kita masih melakukan peracikan,” ujar Kepala Kantor Perwakilan bank Indonesia Bengkulu, Yuwono.
Menurut Yuwono, Bank Indonesia Bengkulu hampir setiap minggu melakukan peracikan. Uang yang diracik adalah uang yang distorkan perbankan yang ada di Bengkulu yang berasal dari masyarakat. Uang-uang tersebut dilakukan peracikan atau pemusnahan dikarenakan sudah lusuh dan tidak layak lagi beredar di masyarakat. “Minimal tiga kali dalam sebulan kita melakukan peracikan, namun sebelum melakukan peracikan kita harus memperhatikan ketersediaan uang kita di kas. Pasalnya peracikan yang dilakukan tidak ada penggantinya.” papar Yuwono.
Lebih lanjut Yuwono menjelaskan, selain mempertimbangkan ketersedian uang di kas, sebelum melakukan peracikan, pihaknya juga mempertimbangkan faktor lain seperti mahalnya biaya roduksi uang tersebut. Sehingga sebelum melakukan peracikan bank Indonesia terlebih dahulu akan melakukan penyortiran lagi. Hal itu dikarenakan mahalnya biaya pencetakan uang tersebut. Sebagaimana diketahui, dalam melakukan pencetakan uang pemerintah harus mengimpor bahan dasarnya. Kecuali untuk bahan dasar uang dengan nominal kecil berasal dari dalam negeri.
Sementara itu, dilihat dari perkembangan, pada tahun 2013 kemarin peracikan uang lusuh yang dilakukan Bank Indonesia Bengkulu mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2012. Pada tahun 2012 Bank Indonesia melakukan peracikan uang lusush sebesar Rp 300,8 miliar. Peracikan yang dilakukan pada tahun 2012 tersebut jauh lebih rendah pada jika dibandingkan dengan peracikan yang dilakukan pada tahun 2011 sebesar Rp 562 miliar.
“Pada tahun 2012 memang peracikan yang kita lakukan sempat mengalami penurunan, namun pada tahun 2013 ini kembali mengalami kenaikan,” jelas Yuwono.
Jumlah peracikan uang yang mengalami peningkatan tersebut, salah satunya menandakan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memperlakukan uang rupiah dengan baik. Mennyadari akan hal tersebut Bank Indonesia Bengkulu sudah beberapa kali melakukan sosialisasi mengenai perawatan uang khususnya uang kertas. Dalam memelihara uang juga berlaku 3D layaknya mengenali keaslian uang rupiah. 3D tersebut adalah Didapat, Disayang dan Disimpan. “Kita berharap masyarakat berperan serta dalam menjaga uang rupiah yang mereka miliki yaitu dengan tidak melipat, mencoret-coret uang, menstreplesnya dan masih banyak lagi yang membuat uang tersbut menjadi rusak,” tutup Yuwono.(251)