Rp 1 M Ngendap di Riau Airlines

rio airlensBENGKULU, BE – Riau Airlines akan beroperasi kembali dengan dikelola oleh pihak ketiga.  Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Badan Usaha Milik daerah (BUMD) memiliki saham Rp 1 miliar.  Tetapi, hingga saat ini belum mendapatkan hasilnya, karena perusahaan penerbangan itu mengalami kerugian Rp 200 miliar sehingga berehenti beroperasi.

“Kita meminta dukungan pemerintah Provinsi Bengkulu untuk pengoperasikan Riau Airlines  dengan tidak menarik saham,  karena saat sedang bernegosasi dengan pihak ketiga terkait pengelolaan,” ujar  Ketua Komisi B DPRD  Riau Rusli Ahmad, saat berkunjung ke Setda Pemprov Bengkulu.

Ia mengatakan Riau Airlines dirancang sebagai  penerbangan khusus domestik di Pulau Sumatera.   Memang saat ini tidak beroperasi, namun bukan pailit. Jika pengelolaan dilakukan kepada pihak ketiga, diyakini akan  membaik. “Kalau dikelola pemerintah itu kurang baik, tapi kalau profesional akan menjadi lebih baik,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui  Asisten II Setda Pemprov  Ir  Nasyah MT MM saat memimpin rapat pertemuan dengan rombongan komisi B DPRD Riau mengatakan penanaman saham Riau Airlines  merupakan kerjasama bidang ekonomi antara provinsi di wilayah Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel).  Melalui forum kepala daerah Belajasumba (Bengkulu, Lampung, Jambi, Sumatera Selatan dan Bangka Belitung yang  sepakat menanam saham di Riau Airlines.

Karena, pemerintah tidak dapat memiliki saham di sebuah bidang usaha sehingga penanaman saham tersebut atas nama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Bengkulu Mandiri.  Saham yang ditanamkan Pemprov Bengkulu sebesar Rp 1 miliar dan saat ini masih tertahan di Riau Airlines.

“Kalau memang benar akan beroperasi lagi, kita sangat menyambut baik, karena penerbangan antarprovinsi di Sumatra memang sangat dibutuhkan,” katanya.

Kepala Dishubkominfo Provinsi Eko Agusrianto mengatakan sangat mensupport jika Riau Airlines akan beroperasi. Sehingga, penerbangan domestik antar Sumatera dapat dilayani dengan maskapai tersebut. Selama ini, untuk penerbangan antar Sumatera harus trasit di Bandara Soekarno-Hatta, sehingga memakan waktu lebih lama. (100)