Ridwan-Bowo Laporkan Oknum Lurah dan RT

Bawa Bukti UangRp18,7 juta
TELUK SEGARA, BE – Situasi pascapencoblosan Pilwakot semakin panas. Kemarin (20/9), pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bengkulu Ridwan Marigo-Bowo Triyanto didampingi tim suksesnya melaporkan dugaan money politics (politik uang) ke Polres Bengkulu dan Panwaslu Kota Bengkulu. Pasangan nomor urut 9 ini melaporkan Lurah Kandang Limun Samsuri dan Ketua RT 3 Kandang Limun Syafril.
Uang senilai Rp 18,7 juta dan rekapitulasi nama pemilih dibawa sebagai barang bukti. Uang tersebut telah dikemas dalam 23 amplop berisi Rp 100 ribu dan 82 amplop Rp 200 ribu. Ridwan menuduh uang itu akan dipakai untuk mengkondisikan pemenangan kandidat tertentu oleh oknum lurah dan ketua RT tersebut.
Menurut mantan Kepala Kantor Perwakilan Pemkot di Jakarta ini, pelaporan ini tindak lanjut atas penggerebekan Lurah Kandang Limun, Samsuri di rumahnya Jalan Pondok Bulat RT 3 RW 2 Kelurahan Kandang Limun, 00.45 Selasa lalu (18/9). Saat itu hanya ditemukan pertemuan yang memuat perekapan nama-nama warga. Namun tak ada uang yang ditemukan. Persoalan ini pun diselesaikan secara kekeluargaan.
Lantas Rabu dini hari (19/9) sebelum pencoblosan, di rumah sang lurah tetap ramai warga yang ke luar masuk. Kontan saja, terang Ridwan, membuat timnya semakin curiga. Usai mengintai, dilakukan penggerebekan ulang.
Hasilnya ditemukan tumpukan amplop berisi uang di atas plafon rumah. Uang itu sudah diamplopi yang telah diberi nama-nama warga.
“Temuan inilah akan saya laporkan ke Mahkamah Konstitusi jika tidak ditanggapi dengan baik oleh Panwaslu Kota bengkulu. Tindakan ini bentuk ketidakjujuran,” ucap Ridwan Marigo saat ditemui di Polres Bengkulu.
Menurut Ridwan dirinya ingin Pilwakot berjalan dengan baik. Temuan ini menjadikan petarungan menjadi tidak fair dan ternodai.”Apalagi amplop tersebut kita temukan sudah siap untuk dibagikan beserta nama sang penerimanya,” ungkap Ridwan Marigo.
Barang bukti uang tersebut, diterima langsung Anggota Panwaslu Kota Bengkulu, Heri Supriyaanto MSi. Panwas berjanji akan menindak-lanjuti pelaporan tersebut. Apalagi barang bukti sudah ada.”Kita akan periksa dulu. Kemudian pleno baru berkas tersebut kita naikkan. Uang sebaai barang bukti akan kita bahas bersama kepolisian,” jelasnya.
Sayangnya lurah dan ketua RT yang dilaporkan tersebut belum berhasil dikonfirmasi. Sehingga klarifikasi terkait tuduhan yang disampaikan pasangan Ridwan-Bowo belum didapatkan.

Minta Usut
Di bagian lain Tim Helmi-Linda meminta Panwaslu dan Gakumdu untuk mengusut pelaku eksodus yang tertangkap tangan, yang saat ini mendekam di Polsek Gading Cempaka. Meski hanya satu pelaku yang tertangkap itu, diduga masih banyak pelaku lain yang diduga kuat sengaja kuat dimobilisasi dari Kabupaten Kaur untuk mendongkrak suara salah satu kandidat. “Kami meminta pengusutan tidak hanya sebatas pelaku (eksodus) tetapi juga dalang dibalik itu,” kata Salah satu koordinator pemenangan Yandri Susanto, kemarin.
Selain itu, tim Helmi-Linda juga mendukung upaya pasangan nomor 9 Ridwan Marigo-Bowo yang melaporkan lurah ke Panwaslu dan Gakumdu, karena membagi-bagikan amplop berisi uang untuk mempengaruhi warga memilih kandidat tertentu. “Kami juga mendukung itu (laporkan) pelaku money politic (politik uang). Jangan sebatas pelaku yang diusut tetapi juga sumber dana, dan aktor yang sengaja bermain tidak sportif itu,” kata.
Menurutnya, siapa dalang di balik politik dan kecurangan eksodus sudah jelas indikasinya dilakukan oleh calon tertentu. Itu berdasarkan pengakuan pengakuan tersangka yang tertangkap tangan. “Sejak penangkapan penyebar black campaign (kampanye Hitam) Toni Maryanto, ditangkapnya oknum lurah yang membagi-bagikan uang, ditambah lagi eksodus, sudah jelas siapa pelakunya. Panwaslu dan Gakumdu harus tegas, bila ingin demokrasi ini berjalan dengan baik,” kata Yandri.
Yandri juga menyesalkan, pada masa tenang sebelum pemilihan masih ada selebaran gelap yang menyudutkan calonnya Helmi-Linda. Meski sebelumnya salah satu penyebaran black campaign itu ditangkap tangan, ternyata tidak memberi efek jera. “Masih saja melakukan kampanye hitam dengan menyebar fitnah,” katanya.
Ditambahkan Koordinator Tim Pengendali Dempo Exler, gagalnya memenangkan Pilwakot 1 putaran akibat  adanya eksodus  pemilih dari Padang Guci, kabupaten Kaur yang diduga dimobilisasi oleh calon tertentu. Sebelumnya, telah mencuat kabar bakal ada 5000 eksodus yang dipasok dari Kaur, untuk ikut mencoblos di Kota Bengkulu. “Dengan penangkapan pelaku eksodus dari Padang Guci, membuktikan bahwa isu itu benar. Karena itu, Panwaslu dan Gakumdu harus benar-benar tegas,” katanya. (100/333/160)