Resesi, Kesempatan Membeli Saham

BENGKULU, BE – Indonesia pada triwulan III 2020 ini diprediksi akan masuk dalam jurang resesi ekonomi.
Melihat kondisi tersebut, Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bengkulu menilai hal tersebut merupakan kesempatan yang baik untuk membeli saham.
Kepala Kantor Perwakilan BEI Bengkulu, Bayu Saputra mengatakan, ekonomi Indonesia diprediksi akan mengalami resesi di masa pandemi global Covid-19 pada tahun 2020 ini. Pemerintah sudah memprediksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar minus 1,1%-0,2%, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksikan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh minus 0,3% di tahun 2020. Apabila data-data ini terealisasi, maka isu bahwa Indonesia akan masuk ke tahap resesi kian semakin nyata sehingga akan berdampak terhadap banyak sektor, termasuk pasar modal.
“Sebelum resesi biasanya harga saham menurun, tapi pada saat resesi justru harga saham meningkat atau menghijau,” kata Bayu, kemarin (28/9).
Ia menjelaskan, berkaca pada krisis ekonomi tahun 2008, meskipun Indonesia memasuki resesi pada September-Oktober tahun 2008, IHSG telah mulai mengalami penurunan pada 10 bulan sebelumnya, yaitu pada Januari 2008. Begitu juga di Amerika Serikat, tanda-tanda terjadinya resesi sudah muncul pada Oktober 2008, sedangkan bursa sahamnya telah mengalami tren penurunan dalam 12 bulan sebelumnya. Namun yang menarik, IHSG menghasilkan 76,3% keuntungan pada tahun 2009 dan 43,8% keuntungan pada tahun 2010, yang dilanjutkan dengan perbaikan ekonomi secara bertahap.
“Bisa dipastikan, mereka yang memanfaatkan momentum kejatuhan pada tahun 2008 menikmati keuntungan luar biasa yang kejadiannya jarang terjadi. Bahkan kenyataannya, sejarah menunjukkan bahwa bursa saham cenderung mulai menukik saat ekonomi mulai memasuki resesi (seperti saat ini). Namun, sebelum ekonomi membaik, bursa saham akan sudah bergerak naik,” jelas Bayu.
Ia menambahkan, hal tersebut memberi pesan kuat bahwa pada saat ekonomi pulih dari resesi atau diekspektasikan satu atau dua tahun dari sekarang, bursa saham, dalam hal ini IHSG sudah pasti telah bergerak naik tinggi dan bersiap untuk mengalami penurunan berikutnya. Membaca data ini, sangat jelas bahwa investor yang tidak berpengalaman akan selalu terlambat masuk ke bursa saham dan juga terlambat keluar dari bursa saham.
“Kita seyogyanya memang tidak dapat mengendalikan arah ekonomi, namun kita bisa memutuskan apakah kita ingin lebih makmur atau lebih berkekurangan di masa yang akan datang. Hal ini tentunya dimulai dari keputusan keuangan yang kita buat saat ini, di saat bursa merah merona akibat ancaman resesi yang kian semakin nyata,” tambahnya.
Ia mengaku, data menunjukkan bahwa jumlah orang kaya di Amerika (high net worth person) pasca krisis ekonomi pada tahun 2008 meningkat 63% dari 2,46 juta menjadi 4,01 juta orang, dan berlanjut hingga mencapai 5,32 juta orang pada tahun 2019 ketika indeks DJIA melanjutkan penguatannya pasca kejatuhannya di tahun 2008. Sejarah berulang dengan sendirinya. Inilah yang terlihat dari data-data masa lalu dan dari penelitian pergerakan bursa saham secara historis.
“Artinya resesi pada tahun ini dapat menjadi peluang untuk menjadi kaya, sehingga momentumnya perlu diantisipasi dan dimanfaatkan dengan baik,” tutupnya.(999)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*