Reses Dewan, Warga Keluhkan Tarif PDAM

Bengkulu
Dwi/Bengkulu Ekspress Kegiatan reses anggota DPRD Dapil I di Desa Bioa Sengok, Kecamatan Rimbo Pengadang, kemarin (7/3).

RIMBO PENGADANG,BE – Warga Desa Bioa Sengok, Kecamatan Rimbo Pengadang mengeluhkan mahalnya tarif tagihan PDAM Tirta Tebo Emas (TTE) yang dibebankan kepada pelanggan setiap bulannya. Bahkan masyarakat menduga besaran tagihan yang dikeluarkan tanpa dasar yang jelas dan terkesan tembak atas kuda.

Hal tersebut diungkapkan Lili, perwakilan kalangan ibu-ibu dalam kegiatan reses anggota DPRD Dapil I di Desa Bioa Sengok, Kecamatan Rimbo Pengadang, kemarin (7/3).

“Naiknya tarif tagihan juga tidak masuk akal, dari yang biasanya puluhan ribu menjadi ratusan ribu. Ini juga tanpa adanya pembertahuan,” ujar Lili.

Terlebih lagi menurutnya, petugas yang bertugas di kantor cabang PDAM TTE Bioa Sengok sering tidak berada di kantor dan tidak pernah mengecek water meter untuk mengetahui jumlah pemakaian air sebagai dasar penghitungan tarif tagihan pelanggan.

“Kadang mereka hanya melihat dari jauh dan tidak melakukan pengecekkan watermeter satu persatu,” keluh warga lain yang hadir pada Reses kemarin.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bioa Sengok, Tamrin. Menurutnya masyarakat khususnya di Desa Bioa Sengok sebenarnya tidak masalah dengan naiknya tarif PDAM. Hanya saja masyarakat perlu kejelasan terkait penentuan tarif pelanggan setiap bulannya.

“Masyarakat mampu membayar, namun masyarakat perlu mengetahui bagaimana penghitungannya. Apalagi tidak pernah dilakukan pengecekkan water meter,” ungkap Tamrin.

Keluhan serupa juga disampaikan Lurah Kelurahan Rimbo Pengadang, Lasudin. Ia sudah mendapatkan banyak laporan dari warganya tentang mahalnya tarif PDAM. Bahkan banyak warganya yang dicabut water meternya karena memilih tidak membayar tarif PDAM tersebut.

“Ada yang Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta. Hal ini tentunya memberatkan masyarakat. Kami harapkan tidak ada lagi pemutusan aliran air. Mengingat semua butuh air untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Sementara itu, anggota DPRD Lebong, Jang Jaya mengungkapkan permasalahan PDAM tidak hanya terjadi di Desa Bioa Sengok dan Kelurahan Rimbo Pengadang saja. Melainkan hampir terjadi di seluruh Kabupaten Lebong. Ia yang duduk di komisi III selaku mitra PDAM, menegaskan, akan memanggil manajemen PDAM terkait keluhan yang disampaikan masyarakat tersebut.

“Jangankan di Kelurahan Rimbo Pengadang atau di Desa Bioa Sengok, di rumah saya sendiri juga seperti itu. Permasalahan PDAM hampir terjadi diseluruh Kabupaten. Kita akan panggil PDAM untuk klarifikasi atas apa yang dikeluhkan masyarakat ini,” tegas Jang Jaya. (777)