Razia Jajanan Anak Sekolah

PONDOK KELAPA, BE- Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Bengkulu gelar razia makan di sejumlah SD di kecamatan Pondok Kelapa. Razia tersebut bertujuan mencari kemungkinan makanan jajanan yang mengandung bahan pengawet seperti boraks dan formalin) serta pewarna buatan (rhodamine). “Kedatangan kami sengaja tidak terjadwal (mendadak) karena ingin mengecek langsung kondisi di lapangan, apakah ada makanan yang mengandung bahan pengawet dan pewarna buatan yang berbahaya bagi tubuh manusia,” jelas Elisa Kesuma SFarm APt, petugas BPOM, saat memeriksa kandungan makanan yang dijual di lokasi halaman di SD N 02 Pekik Nyaring, Pondok Kelapa kemarin (12/3). Diungkapkannya, pemeriksaan makanan yang diduga mengandung pengawet dan pewarna akan dilakukan di sejumlah titik di Kecamatan Talang Empat, salah satunya SDN 1 Kembang Seri.┬áKemarin razia dilakukan di sejumlah titik, yakni SDN 02 Pekik Nyaring, SDN 01 Pondok Kelapa, dan SDN 10 Pondok Kelapa. Hasil pemeriksaan dari seluruh sample makanan yang diuji dinyatakan negatif bahan pengawet jenis boraks dan formalin, serta pewarna (rhodamin). “Kalaupun ada takarannya masih di bawah ambang batas yang dianjurkan BPON,” jelas Elisa. Untuk pemanis buatan, 1 liter maksimal 250 mg pemanis, jika lebih dari itu beresiko timbulnya penyakit. Sementara sample makanan yang dirazia BPOM, yakni jajanan sekolah, bakwan, tekwan, kerupuk balado, keripik pisang, es buah, lontong, / es bungkus, kemplang,tahu, nasi uduk, nasi uduk kerupuk, lontong, pempek, bakso, martabak, saos bakso, kecap bakso, selai martabak, air timun selasi, dan es teh.

Enam titik
Sementara itu, BPOM Bengkulu bakal memeriksa kondisi makanan di 3 titik lagi, yakni di sejumlah sekolah di Kecamatan Talang Empat. Yakni SDN 01 Kembang Seri, “Kami akan memeriksa sample makanan di 3 sekolah lagi. Yakni SDN 01 Kembang Seri. Sedang 2 lagi masih kami seleksi dulu,” ungkap Elisa.
Sementara itu, Kepala SDN 01 Pondok Kelapa, Yusmaini SPd mengungkapkan, unsur pengawet dan pemanis buatan yang melebihi takaran belum ada ditemukan di sekolahnya. Karena tiap 3 bulan sekali petugas BPOM selalu datang ke sekolahnya mengecek indikasi bahan berbahaya yang terkandung dalam makanan. “Memang belum ada kasus bahan pengawet seperti boraks, dan formalin, serta rhodamin yang ada di sekolah kami,” jelas Yusmaini. Namun, Yusmaini, menandaskan persoalan yang besar terjadi adalah soal kebersihan makanan. Karena proses pembuatan makann yang dijual terkadang tidak begitu memerhatikan kebersihan. “Kami belum bisa menegur secara keras penjual jajanan,” ungkap Yusmaini. Selain itu pula, tambahnya, pedagang yang berjualan di luar sekolah sulit ditertibkan. Anak-anak pun telah dberitahu. Tapi untuk menolak pedagang luar pihaknya tidak sanggup. “Tidak bisa kami usir,” jelas Yusmaini. (cw2)