Ratusan Coker Gantungkan Hidup di TPA Air Sebakul Bengkulu

coker sampahBengkulu, bengkuluekspress.com – Bagi sebagian orang, sampah merupakan hal yang tak bernilai. Namun lain halnya dengan para coker (pemulung) yang mengubah sampah menjadi rupiah. Bahkan para pemulung ini telah menggantungkan hidupnya di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) .

Terdapat sekitar 100-an orang lebih coker yang menggantungkan hidupnya di TPA Air Sebakul seluas 10 hektaran tersebut. Sebagian pemulung, ada yang memilah limbah kaleng dan ada juga yang mencari sampah plastik yang bernilai jual.

Diklok Santo (52), salah seorang coker di TPA saat diwawancarai bengkuluekspress.com Jumat (23/3/18) mengatakan, dirinya beserta sang istri telah 10 tahun bekerja sebagai coker.

“Rezeki kami yang dikasih ya ini, memulung sampah berdua sama istri. Alhamdulillah cukup untuk
menyambung hidup dan kebutuhan keluarga,” ungkap bapak 2 anak ini.

Produksi sampah di Kota Bengkulu per harinya mencapai 10 ton. Limbah plastik dan kaleng minuman yang terbuang masih memiliki nilai Rupiah ditangan para coker. Sampah yang warga yang diturunkan dari truk sampah itulah yang ditunggu Diklok dan kawan-kawan dari pagi hingga sore hari di TPA.

Para pemulung ini dapat mengumpulkan sekitar 20 kilogram sampah plastik dan kaleng per hari. Biasanya, para pengepul sendiri yang datang untuk membeli sampah yang mereka kumpulkan. Penghasilan para coker ini berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per hari.

Menurut Kepala Pengawas TPA Air Sebakul Zulhandi (39), dia tidak pernah merasa terganggu dengan adanya aktifitas para coker di areal kerjanya.

“Kami tidak merasa terganggu, malah mereka ini sebenarnya membantu memisahkan sampah anorganik yang sebenarnya sangat lama dilebur oleh tanah,” jelasnya. (IMN)