Ratusan Auning PPN, Kosong, Kumuh & Bau

BENGKULU, BE – Penataan Pasar Percontohan Nasional Panama (PPN) Kota Bengkulu semakin semrawut.  Ratusan auning tampak kosong karena ditinggal oleh pedagang.  Ada penyumbatan drainase yang menyebabkan kumuh dan berbau.  Akibatnya, para pembeli pun enggan masuk ke lokasi pasar. Keadaan ini diketahui saat Caretaker Walikota Bengkulu, Drs H Sumardi MM melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Pasar Panorama, kemarin.

Caretaker Walikota didampingi Asisten I dan II, Kadisperindag, Kabid Pasar Disperindag, Kabag Humas, Kepala UPTD Pasar Panorama dan beberapa pejabat kota lainnya menyusuri semua bagian pasar untuk mengetahui persoalan yang  menjadi keluhan selama ini.  Dalam kesempatan itu, Sumardi dan rombongannya menemukan bahwa kondisi pasar semakin tidak terawat akibat revitalisasi tahap II tengah berlangsung yang mengakibatkan air siring tidak mengalir hingga terjadi banjir ketika hujan turun.

Persoalan lainnya, yakni hampir semua pedagang yang telah mendapatkan tempat di dalam pasar meninggalkan auning tersebut dan lebih memilih berjualan di Jalan Belimbing.Tak ayal kondisi jalan semakin becek dan macet terutama pagi dan sore hari.

“Mengenai kebersihan pasar ini saya kembalikan kepada orang pasar dalam hal ini Disperindag, UPTD dan pedagang yang beraktivitas di pasar ini. Saya minta Kepala UPTD-nya proaktif untuk menjaga kebersihan ini, agar pembeli dan pedagang merasa nyaman di pasar ini,” tegas Sumardi.
Sementara mengenai penyumbatan drainase yang mengakibatkan banjir, Sumardi mengungkapkan ia telah memerintahkan Asisten I Drs H Fachrudin Siregar MM untuk memanggil kontraktor yang mengerjakan revitalisasi PPN tahap II tersebut.

“Saya lihat kontraktor pembangunan tahap II ini tidak mempertimbangkan pedagang yang berada di sekitar sini,  sehingga terjadi banjir akibat meluapnya air dari drainase yang tersumbat material bangunan,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia meminta agar kontraktor menggali siring yang tersumbat agar arus tidak tersendat.
Sedangkan mengenai ratusan auning ditinggal pedagang, menurut Sumardi itu hanya sementara menjelang selesainya revitalisasi tahap II pada Desember mendatang.  Setelah itu, ia menegaskan agar Dinas Perindag untuk memasukkan semua pedagang tersebut ke dalam lokasi pasar.  “Nanti setelah revitalisasi tahap II selesai, tidak ada lagi pedagang yang berjualan di pinggir jalan, semuanya harus masuk dan sama-sama berjualan di dalam pasar,” tegasnya.

Pedagang Ancam Keluar
Sementara itu, beberapa pedagang yang masih bertahan di dalam pasar, mengancam ikut berjualan diluar bila pedagang yang berjualan di badan jalan Belimbing itu tidak segera dimasukkan ke dalam pasar.  “Di dalam ini sepi tidak ada pembeli, makanya hampir semua pedagang yang memiliki tempat di dalam pasar ini memilih berjualan di pinggir Jalan Belimbing,” kata salah seorang pedagang ayam, Nuraini (55).
Ia mengungkapkan bila kondisi tersebut tidak segera diatasi oleh pemerintah, maka pedagang yang masih bertahan tersebut akan ikut keluar, meskipun harus membeli lahan tempat berjualan kepada petugas parkir.

Menanggapi pernyataan tersebut, Sumardi berjanji dalam waktu dekat ia akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Dishubkominfo Kota Bengkulu untuk membicarakan persoalan tersebut. Bila disepakati bahwa tidak dibolehkan pedagang berjualan di pinggir jalan, maka pihaknya akan mencarikan solusi untuk memasukkan pedagang tersebut kedalam pasar.
“Kalau masalah itu nanti kita usahakan bagaimana masuk, namun sebelumnya saya koordinasikan dulu,” pungkasnya. (400)