Rasa Cinta Sesama Jenis Bisa Berawal dari Persahabatan

MEREKA ada di antara sisi lain kehidupan urban. Ada yang menganggapnya sebagai penyimpangan perilaku. Namun tak jarang yang memvonisnya sebagai aib. Kaum penyuka sesama jenis, kini ada di Makassar. Entah itu lesbi (hubungan intim sesama wanita) atau pun gay (hubungan intim sesama lelaki).

Keberadaan mereka bak “kentut” terasa, namun tak dapat terlihat secara telanjang mata. Anda mungkin bisa menilai seseorang sebagai lesbi atau gay, dari perilaku atau dandanan sehari-harinya. Namun tak dapat memastikan akan hal itu. Sebab kaum ini masih sangat tabu. Hubungan sesama jenis pun tak jarang mengelabui pemikiran akal sehat.

Satu rekan FAJAR (JPNN Group), kemudian mengungkapkan keberadaan nyata kaum itu. Sebut saja namanya Tria. Seorang pria gagah, memiliki karier yang mapan di dunia entertain. Sepintas, Anda akan sangat sulit memahami bahwa ia ternyata penyuka sesama jenis.

Dari dandanan rambut, gaya berpakaian, sampai cara berbicara pun ia sangat lelaki tulen. Tak seperti kebanyakan kaum lelaki yang menyandang “gelar” yang sama, dengan perwajahan yang sangat mirip perempuan.

Tria ditemui di sela-sela rutinitasnya menuturkan awalnya ia adalah lelaki normal. Sejak kecil hingga usia belasan, ia sama sekali tidak memiliki pandangan bahwa lelaki itu layak dijadikan teman hidup. Lelaki bertampang klimis ini bahkan mengaku pernah berpacaran dengan perempuan, sejak SMP hingga ia duduk di bangku SMA.

Pandangannya terhadap lelaki berubah, ketika ia masuk dalam komunitas model freelance Makassar. Ketika itu, dengan jelasnya ia melihat hubungan yang tak lazim antara rekannya sesama model. “Sikap itu bertahan sampai saya berusia 17 tahun,” ucapnya.

Di usia awal baliq itu ia berkenalan dengan model profesional. Sebut saja namanya Bagus. Warga asli Makassar, namun besar di Jakarta.

Perkenalan Tria dengan Bagus membawa perubahan hidup yang sangat drastis. Bagus, diakui Tria sangat memberi perhatian padanya. Hingga ia merasa memiliki sahabat yang sangat pengertian.

“Dari sahabat yang kental, saya kemudian makin akrab dengan Bagus. Kemana-mana bersama, lalu saya pun kerap diantar dan dijemput pulang sekolah. Dua bulan saling akrab, akhirnya Bagus mengungkapkan sifatnya yang sebenarnya,” papar Tria.

Bagus secara gentle, kata Tria menuturkan bahwa ia memiliki ketertarikan yang lebih pada dirinya. Perasaan suka sesama jenis diakui Bagus pada Tria sudah berlangsung lama. Bahkan kata Bagus pada Tria, ia sudah menjalin hubungan pada beberapa lelaki sebelumnya.

“Bagus itu tipekal orang yang suka sesama jenis. Saya shock dia berterus terang. Dia akhirnya menyatakan cinta pada saya. Lalu saya tidak menjawab. Tapi sejak dia menyet, dia terus datang ke rumah, ke sekolah. Meski saya hindari, dia terus datang,” lugas Tria.

Bagus menurut Tria, memiliki gerak gerik seperti wanita, perawakannya lelaki banget. Penampilannya macho, kesehariannya pun aktif dengan olahraga lelaki.

“Itu yang membuat saya tidak mengerti kenapa dia bisa suka dengan sesama jenis. Sampai akhirnya saya terima dia, karena merasa tertantang saja. Dua minggu pasca dia menyatakan cinta, kami jadian. Setelah dia nekat menerobos masuk ke sekolah saya, dan menyatakan perasaan langsung,” sebut Tria.

Dua bulan menjalin kasih, menurut Tria, dia masih bersikap normal. Namun akhirnya lulus juga ketika Bagus memberi perhatian yang sangat lebih.

“Ternyata saya juga jadi suka, karena mungkin sering bersama-sama. Dia pun sangat memperhatikan kebutuhan saya, bahkan sampai pendidikan saya,” katanya.

Sikap perhatian itu yang kemudian membuat Tria dan Bagus awet berhubungan hingga enam tahun lamanya. Tanpa diketahui kedua orang tua mereka. Untuk menutupi kisahnya, Tria dan Bagus pun menjalin hubungan dengan perempuan.

“Itu sebagai kamuflase saja, menutupi sifat kami yang sebenarnya. Kalau sama pacar perempuan, kita biasa saja. Tidak ada sifat manja atau perhatian yang berlebih. Berbeda bila kami bertemu, rasa saling memiliki itu sangat kuat. Sangat manja, dan cenderung seperti anak kecil,” ujar Tria.

Perasaan bersalah kata Tria kerap muncul,  ketika ia bersama dengan pacar perempuannya. Pun demikian dengan Bagus.

Tria menambahkan, bila dengan pacar perempuannya. Ia enggan bermesraan. Bila bersama, hanya sebatas pegangan tangan. Namun dengan Bagus, ia merasa sangat tertarik.

“Ya biasalah, pelukan, cium, pegangan tangan. Seperti layaknya orang pacaran. Itu yang tidak kita lakukan dengan pasangan perempuan kami. Rasa cemburu juga ada. Namun itu bila Bagus atau saya jalan dengan lelaki. Kalau jalan dengan perempuan sih, masa bodoh kan sudah ketahuan,” urainya.

Dari pengalamannya, Tria menitip pesan pada kaum lelaki lainnya. Agar menjalin persahabatan dengan sesama jenis dalam sebatas wajar saya. Karena menurut Tria, rasa suka itu akan muncul dari kebersamaan yang intens.

“Untungnya, yang saya jalani dengan pacar itu tidak sampai seekstrim orang lain. Ada yang malah mengancam bunuh diri, bila cintanya ditolak. Ada yang malah mengancam membunuh orang yang ditaksirnya. Ada juga yang malah meninggalkan istri dan anaknya demi pacar lelakinya,” kata Tria.

Apa yang disebutkan Tria bukan isapan jempol semata. Wina, 26, mengakui hal itu. Ia menjadi korban dari hubungan sesama jenis yang melibatkan suaminya dan rekan sepergaulannya.

“Suami saya itu bukan model atau pun kalangan entertain. Hanya lelaki biasa, namun karena pergaulan dia berubah,” ungkap Nana dengan mata menerawang saat FAJAR menemuinya pekan lalu.

Nana kemudian mengisahkan bahwa ia mengetahui kelainan suaminya setelah tiga tahun pernikahannya. Itu pun diketahuinya dari teman SMA suaminya.

Nana sebelumnya, sama sekali tidak menyangka. Perubahan sikap kasar dan juga acuh tak acuh suaminya selama dua tahun belakangan, dikarenakan lelaki lain.

“Kalau suami berselingkuh dengan wanita itu biasa. Tapi ini, suami saya dengan lelaki. MAu ditaruh dimana muka saya,” lugasnya.

Sinyalemen pertama kelainan sang suami diakuinya saat ayah dari anaknya itu, kerap memasang foto seorang lelaki muda di foto profil sosial medianya. Insting seorang istri, membuat Nana akhirnya mencari tahu. Menelan malu, ia menanyakan hal itu pada teman masa lalu suaminya. Baik dengan teman sekolahnya, maupun teman ngumpulnya.

“Dari mereka saya tahu, bahwa suami saya suka lelaki lain. Dari mereka juga saya dapat kabar, bahwa suami saya menyimpan lelaki itu di rumah kos di bilangan Jalan AP Pettarani,” sebutnya.

Hingga suatu hari, Nana mendapatkan jawaban pasti dari kegusarannya. Ia mendapati suaminya dengan pacar lelakinya di rumah kos yang dimaksud. Setelah tiga bulan ia mencari.

“Suami saya marah, dia bahkan mau membunuh saya. Dia juga memukul saya, karena anak dan rasa malu di keluarga besar saya. Semua itu saya tutupi, saya selalu berdoa, suamiku bisa kembali normal. Saya juga sudah minta pada dia, demi anak kami,” pungkasnya.(rhd)