Putri Serindang Bulan (Efisode 4)

Setelah mendapatkan laporan bahwa penghuni pondok di lokasi yang dikeramatkan warga tersebut ternyata manusia biasa, Tuanku Setio Barat langsung sigap memutuskan. Dirinya wajib menolong wanita tersebut. Ia berprinsip, manusia tidak baik tinggal menyendiri. Ia wajib menyempurnakan hak rakyatnya untuk menjadi warga yang sempurna.

Malamnya, Tuanku Setio Barat bersama beberapa pengawal berangkat menyeberangi muara. Di seberang ia langsung membagi pengawalnya untuk menyebar ke empat penjuru dan tidak seorang pun diperkenankan membuat gerakan sebelum mendapat perintah langsung dari Tuanku Setio Barat. Setelah mengerti tugasnya, pergilah mereka ke pos yang sudah ditetapkan tinggallah sang pangeran sendiri di tempat semula.

Tuanko Setio Barat tidak langsung bergerak, pasalnya gubuk terlihat gelap. Dengan sabar, ia menanti fajar. Ia ingin memastikan bahwa penghuni gubuk benar-benar ada di dalam bangunan tersebut. Saat fajar menyingsing, suasana hutan yang semula sunyi berubah menjadi semarak. Kicau burung menyambut pagi nan tenang. Kokok ayam dari kajauhan juga terdengar sahut-menyahut.

Tidak lama, dari dalam pondok mulai terlihat aktifitas. Asap mengepul keluar dari dalam pondok. Ini menunjukkan penghuni pondok sudah mulai memasak. Tidak lama, keluar sesosok wanita menuju tempat penampung air yang barada di belakang pondok. Setelah itu sang putri tampak kembali ke dalam pondok. Kendati sepintas, Tuanku Setio Barat melihat kembali kecantikan wanita tersebut. Bahkan kali ini lebih dekat dan lebih nyata. Ia benar-benar mengagumi kecantikan sang putrid.

Menunggu sekian lama, sang putri tidak juga keluar dari dalam pondok. Saat itu Tuanku Setio Barat sudah gelisah tak sabar. Tak kuasa dirinya menahan keinginan untuk bertemu. Namun bagian lain di dalam dirinya membatin dan memerintahkan dirinya untuk bersabar. Tidak lama keluarlah sang putri. Kali ini ia duduk di bawah pohon rindang di pelataran pondoknya.

Tidak kuasa, Tuanku Setio Barat menahan gejolak dihatinya. Dengan menguatkan perasaan, ia langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan berpantun. ‘’Wahai bunga di taman, semerbak harum elok dipandang. Hamba datang menghadap puan, maksud hati mengenal puan.’’

Sang putri seketika terkejut. Ia segera berdiri dan hendak lari. Namun tak kuasa melangkahkan kaki, saat pandangannya bertemu pandangan Tuanku Setio Barat. Hati sang gadis bergetar kuat saat melihat sosok pemuda tampan yang berada dihadapannya. Apalagi wajah tersebut, baru saja ia renung-renungkan. Wajah itulah yang mengganggu tidur malamnya. Ia bermimpi, bahwa jodohnya akan segera datang. Dan wajah itulah yang terbayang dalam mimpinya.

Kembali Tuanku Setio Barat menyapa sambil berpantun. ‘’Bunga melati, bunga dewata, putih berseri semerbak baunya. Apakah sang putri menaruh curiga, hamba adalah raja dari Indra Pura,’’ ujarnya dengan maksud memupus ragu sekaligus memperkenalkan diri.

Mendengar hal tersebut, seketika sang putrid menghaturkan sembah. Ia tahu, yang dihadapinya saat ini adalah sang penguasa wilayah. Ia lalu membalas pantun, ‘’Anak panah lepas dari busurnya, tali gendawa terbuat dari urat kuda. Maafkan hamba wahai paduka, tak tahu apa jika paduka penguasa negeri Indrapura,’’ ujarnya dengan suaranya yang merdu.

Hal ini membuat Tuanku Setio Barat semakin kagum dengan sang putri. Tidak sembarang orang bisa berpantun dengan sangat baik. Hanya keluarga bangsawan yang memiliki budaya bertutur dan berpantun dengan pantun seperti itu.

Tuanku Setio Barat kemudian mempersilahkan sang putri untuk berdiri. Mereka berdua duduk di bawah pohon sambil memandang ke muara sungai yang berbatasan langsung dengan lautan. ‘’Siapakah adinda, mengapa seorang diri berada di dalam hutan ini,’’ tanya Tuanku Setio Barat to the point.

Saat ditanya seperti itu, sang putri terdiam. Ia sebenarnya sangat berat harus bercerita tentang kisah hidupnya yang malang. Namun ia tidak mungkin melakukan hal tersebut kepada paduka raja Tuanku Setio Barat. ‘’Baiklah paduka, hamba yang hina ini adalah Putri Serindang Bulan, putri bungsu Raja Mawang dari Kuteui Belau Santeun,’’ ungkap sang putri pelan memulai cerita hidupnya.(bersambung)