Putri Serindang Bulan (Efisode 3)

Timsus akhrinya menemukan sebuah pondok. Pondok sederhana yang dibangun asal jadi dan menunjukkan pembuatnya bukanlah orang yang ahli membangun pondok. Pondok dibangun dari kayu, beratap ilalang yang dijalin rapi. Dinding pondok juga terbuat dari ilalang, namun sudah dianyam rapi. Kelebihan pondok ini, adalah halamannya yang tidak begitu luas terlihat bersih dan terjaga. Beberapa tanaman hutan yang memiliki bunga-bunga cantik, menghiasai beberapa bagian pondok. Sebagian lagi, tanaman bunga itu juga ditanam di sekitar pondok. Hal ini membuat kondisi pondok yang sederhana, dan berada di tengah hutan, tetap menjadi lokasi hunian yang menyenangkan.

Seorang anggota tim diperintahkan untuk menyelidiki lebih dekat kondisi pondok. Ia diperintah untuk mengamati dari dekat dan memeriksa apakah pondok itu merupakan kediaman sang peri. Disamping itu, ia juga diminta untuk mengamati apakah peri itu mahluk jejadian ataukah manusia biasa.

Anggota tim sus tersebut dengan berjalan melambung mendekati pondok itu dari arah belakang. Tidak berapa lama ia telah tiba di bagian belakang pondok. Dari dinding pondok yang berlubang disana-sini ia bisa melihat sesosok tubuh perempuan sedang duduk. Perempuan tersebut terlihat sedang menulis sesuatu. Hal itu dilakukannya, sambil menikmati makanan. Di dalam pondok tersebut tidak terlihat barang apapun. Hanya sebuah parang dan periuk yang berada di pojok pondok. Perempuan itu makan lazimnya seorang manusia.

Setelah cukup lama melakukan pengintaian. Anggota timsus tersebut kembali menemui rombongan dan melapor kepada pimpinannya. Selanjutnya timsus beranjak meninggalkan lokasi itu. Mereka akan kembali ke seberang untuk melaporkan temuan yang berhasil mereka peroleh dari ekspedisi rahasia yang mereka emban hari ini. Sebelum pulang, sang pimpinan menegaskan agar mereka semua merahasiakan apa yang mereka temui dalam misi tersebut. Kerahasiaan misi akan mereka junjung tinggi. Sesuai arahan pimpinan misi mereka hanya akan dilaporkan kepada Tuanku Setio Barat.

Setiba di perkemahan, mereka mendapati sang raja masih dalam kondisi duduk termenung. Kondisi menunjukkan sang raja tidak beristirahat sepanjang malam. Kantung matanya terlihat besar, sementara matanya merah. Kondisi raja sedang galau. Rupanya penemuan malam itu, hingga saat ini selalu diingat sang raja. Bahkan saat sang komandan timsus masuk ke perkemahan raja, beliau belum juga tersadar dari lamunannya.

”ehem, ehem,” sang komandan mencoba membangunkan raja dari lamunanya.

”Eh… ada apa komandan,” ujar sang raja begitu tersadar bahwa ia tidak sedang sendiri di kemah tersebut.

”Saya akan melaporkan hasil misi yang kami lakukan ke seberang muara,” ujar sang komandan.

Mendengar hal tersebut, sang raja langsung menunjukkan rasa antusiasnya. ”Ya. ya, silahkan. Laporkan selengkap-lengkapnya. Sedari tadi, memang aku menunggu apa yang kau peroleh dari misi ke sana tadi,” tegas raja tidak sabar.

”Baik baginda. Kami mendapati di seberang muara sebuah pondok dengan halaman penuh bunga. Setelah kami mendekati pondok, kami dapati pondok itu di dalamnya ada seorang wanita. Wanita itu sama dengan sosok yang kita duga sebagai peri di pinggir sungai itu. Kami yakini sosok itu adalah manusia. Sebab ia bisa menulis dan juga makan sebagaimana kita makan. Hanya ia hidup menyendiri di dalam hutan itu. Kami tidak tahu mengapa ia tinggal menyendiri di dalam hutan tersebut. kami tidak berani mengusiknya, karena kami takutkan, wanita itu pergi dan melarikan diri sebelum bertemu dengan baginda,” ujar sang komandan panjang lebar.

”Bagus, aku hargai usahamu. Baik, sekarang kita siapkan misi baru,” tutur baginda. Ia segera bangkit keluar tenda. Anggota rombongan yang lain terlihat sudah menanti di depan tenda.(bersambung)