Putri Serindang Bulan (Efisode 2)

Tuanku Setio Barat ngamuk-ngamuk sudah dua hari ini. Pasalnya, sudah dua hari tim-tim jagoan yang ia harus bisa melaju ke liga champions kalah dari tim negeri ratu dan negara swastika. Tapi mau apa lagi, bola memang bundar, kalah menang merupakan hal yang biasa di dalam sebuah kompetisi. Namun dari pertandingan bola tersebut ia mendapat inspirasi, ia harus bergerak. Ia tidak bisa menunggu saja untuk dapat menemui sang peri yang diisukan. Pasalnya SPJ perjalanan dinas dirinya dan tim pun sudah mendekati limit. Malam itu, Tuanku Setio Barat sendiri yang turun memimpin telik sandi memantau perkembangan di seberang muara. Dalam temaram malam, Tuanku Setio Barat memantau perkembangan. Hanya ada tiga orang yang mendampingi sang raja. Malam ini bulan purnama muncul. Saat menikmati pemandangan di bawah purnama, samar di kejauhan Tuanku Setio Barat melihat sesosok bayangan putih turun dari rerimbunan pohon menuju ke pinggiran air muara. Tidak lama, sosok samar itu terlihat jelas. Kendati jarak mereka jauh, namun karena purnama sedang penuh, sosok peri tersebut terlihat jelas. Ia seperti manusia, seorang wanita yang memiliki kecantikan yang luar biasa. Kulit putihnya terlihat jelas saat sosok tersebut menyingsingkan kain saat mencelupkan kakinya di air sungai. Sambil duduk di padasan muara sungai tersebut, sang peri bermain air. Mata Tuanku Setio Barat tak berkedip. ia mengagumi kecantikan sang peri. Tidak sia-sia usahanya berhari-hari mengintai keberadaan sang peri. Sosok tersebut teramat cantik, kulitnya putih, rambutnya panjang terurai. Belum lagi senyumnya, kendati dari kejauhan terlihat samar, namun mampu mengetarkan kalbu sang raja. Bahkan entah mengapa, sedari tadi dadanya terus berdegup dengan kencang. Ia bertanya dalam hati, apa yang ia rasa saat ini… Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat sesosok mahluk lain bergerak mendekati sang peri yang sedang riang bermain air. Sosok mahluk itu terlihat semakin besar dan makin mendekati sang peri. Secara spontan Tuanku Setio Barat berteriak keras, ”Awas Buaya!” Hal tersebut langsung menimbulkan kegaduhan. Sosok peri yang sedang bermain air itupun kaget dan langsung beranjak dari padasan dan seketika menghilang ke dalam hutan. Sementara sang buaya besar tadi langsung menyelam masuk ke dalam sungai. Tinggallah sang raja, benggong sendiri, baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Seketika ia menyesali diri, mengapa ia harus berteriak. Namun ia juga bersyukur sosok peri di seberang sungai tersebut tidak mati disambar buaya. ”Baiknya kita istirahat dulu malam ini baginda. Tidak mungkin peri itu akan turun ke sungai lagi, setelah mengalami kejadian ini. Biarlah besok saja kita cari lagi cara untuk menemukan sosok misterius cantik yang ada di seberang muara tersebut,” ujar panglima perang kerajaan yang selalu setia mendampingi raja dalam ekspedisi kali ini. ”Oke,” ujar sang raja pendek. Pikirannya sudah tidak fokus lagi memikirkan apa yang harus ia lakukan malam ini. Dalam perjalanan pulang ke perkemahan, pikirannnya terus terbawa pada sosok peri yang ia lihat di seberang sungai. Hatinya bertanya-tanya, apakah sosok itu peri. Dari kejauhan, ia meyakini sosok tersebut adalah manusia, seorang perempuan yang amat sangat cantik. Ia belum pernah bertemu dengan perempuan secantik, sosok yang ia lihat di bawah purnama tadi. peri yang bermain air tersebut, membetot pikirannya. Bahkan setiba di perkemahan dan saat ia berada di atas peraduan, wajah itu terus melekat di matanya. terus mengoda pikirannya, dan membuatnya sulit untuk memejamkan matanya. Keesokan harinya, diceritakanlah kejadian semalam dengan semua rombongan. Penglima perang menyarankan untuk menerobos menyeberangi sungai untuk mencari tahu kondisi sebenarnya yang terjadi di seberang sana. Saran tersebut disetujui Tuanku Setio Barat. Kendati seorang raja, ia selama memimpin tidak pernah berlaku arogan. Masukan dari bawahan, selagi itu berisi kebenaran ia akan terima dan jalani. Kendati setuju, ia berpesan agar tim kecil yang diturunkan menyeberangi sungai secara sembunyi. Ia mengharap tim ini tidak sampai diketahui oleh sang peri yang ada di seberang muara. Malam berikutnya, timsus berangkat. Mereka berjalan menuju ke hulu sungai, menjauhi muara. Dengan menggunakan perahu, mereka menyeberangi sungai. Tanpa memakan waktu lama, timsus tersebut sampailah mereka di hutan, lokasi terakhir terlihat sosok peri itu.(bersambung)