Pupuk Urea Langka

1LEBONG UTARA,BE – Meskipun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong menjamin untuk ketersediaan pupuk aman dimusim tanam 2014 ini, ternyata hal itu tidak membuat para petani di Kabupaten Lebong tenang. Malah, yang dirasakan beberapa petani di kecamatan Lebong Tengah dan Kecamatan Bingin Kuning saat ditemui Bengkulu Ekspress di sawahnya berbanding terbalik. Para petani sangat mengeluhkan terjadinya kelangkaan pupuk yang terjadi di Kabupaten Lebong saat ini.
Seperti diungkapkan Yen (33) warga Desa Semelako yang ditemui di sawanya kemarin. Ia mengatakan saat ini sangat mengharapkan kelangkaan pupuk saat ini bisa teratasi. Pasalnya, saat ini dirinya telah menyemai bibit dan sangat memerlukan pupuk untuk kesuburan tanaman tersebut.
“Kita sangat kesulitan untuk mendapatkan pupuk, padahal seharunya saat ini benih yang sudah ditebar mesti di pupuk,” ungkap Yen.
Dijelaskan Yen, kelangkaan pupuk terutama jenis urea juga berpengaruh dengan harga jual ditingkat pengecer, yang mahal. Saat ini jika ada pupuk di pengecer harganya sudah mencapai Rp 6 ribu perkilogram. Kondisi ini tentunya sangan memberatkan para petani. Padahal untuk harga normal pupuk bersubsidi tersebut yakni berkisar antara Rp 2 ribu hingga 3 ribu/Kg ditingkat pengecer.
“Kita sangat berharap pemerintah Lebong bisa segara mengatasi masalah kelangkaan pupuk ini. Kalau yang saya baca di koran, penyebab terjadinya kelangkaan pupuk ini karena ada aturan Bupati yang belum selesai. Kita minta kalau memang belum selesai segera dibuat. Kalau tidak pasti petani di Lebong ini akan mengalami kesulitan mendapatkan pupuk,” jelas Yen.
Disisi lain, anggota Komisi III DPRD Lebong, yang membidang masalah pertanian, Mahdi SSos menyayangkan lambatnya pemerintah Kabupaten Lebong mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang kuota dan HET Pupuk Bersubsidi. Seharunya Pemda Lebong melalui Dinas pertanian Lebong dapat mengantisipasi terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut.
“Setiap tahun, Dinas Pertanian menjadwalkan turun tanam, tapi setiap tahun juga terjadi kelangkaan pupuk memasuki musim tanam, ini artinya apa yang dibuat dan apa yang dikerjakan tidak nyambung. Sudah tau kalau petani kita di Lebong ini memasuki musim tanam pada bulan Januari – Februari, seharunya Perbub sudah dibuat sehingga tidak terjadi kelangkaan pupuk,” kata Mahdi.
Mahdi menilai kondisi yang terjadi saat ini karena pemerintah kabupaten Lebong tidak serius mensukseskan Lebong sebagai lumbung pangan. Apa yang selalu disampaikan pemerintah tentang Pertanian Lebong hanya Lips Servis saja.
“Katanya kita mau mengembalikan Lebong sebagi lumbung padi, tapi faktanya kebutuhan dasar pertanian tidak diantisipasi. Ini sama saja bohong. Petani kita sangat tergantung dengan pupuk bersubsidi, tapi Perbubnya sendiri tidak selesai-selesai. Kita tahu Perbub tersebut sebagai syarat agar kuota pupuk untuk Lebong bisa di tebus oleh Distributor pupuk. Selagi Perbub ini tidak ada maka kita akan selalu mengalami kelangkaan pupuk,” pungkasnya.(777)