Puluhan Pedagang Serbu Pemkot

RIO-SIDAK WALIKOTA KE PANORAMA RICUH-PEDAGANG PROTES PEMBAGIAN AUNING- (3)RATU SAMBAN, BE – Sedikitnya 35 pedagang Pasar Percontohan Nasional (PPN) Panorama, kemarin mendatangi kantor  Walikota  Bengkulu.  Kedatangan mereka ini untuk menuntut mendapatkan lokasi tempat berjualan  di kawasan  Pasar Panorama, yang diduga telah diisi  pedagang lain.  Hal ini juga buntut ketidaktransparanan pengundian belum lama ini.

Kedatangan para pedagang sekitar pukul 09.30 WIB di kantor Pemkot ini tidak mendapat pengawalan ketat olah satuan polisi pamong praja.  Justru kedatangan pedagang terlihat kooperatif, dan mereka ini diterima melalui perwakilan. Pedagang dipersilakan masuk menemui Wakil Walikota Ir Patriana Sosialinda.  “Tadi kita ingin bertemu dengan Walikota, tapi beliau tidak ada jadi diterima Bu Wawali,” ungkap salah seorang pedagang.

Pertemuan berlangsung  secara tertutup di ruang kerja Wawali, dalam pertemuan itu dihadiri Asisten II, Kepala UPTD Panorama, Hermansyah SSos dan Kadisperindag, Ir Yalinus.  Usai pertemuan, koordinator  pedagang, Yeti Purnama menuturkan kedatangannya meminta kejelasan terhadap lokasi  berjualan, pasalnya sejak  adanya penggusuran pedagang  sayuran di kawasan Jalan Kedondong, hingga  penempatan pedagang baru, sampai saat ini belum diakomodir mendapatkan tempat  berjualan.

“Kedatangan kami kesini meminta  kejelasan mendapatkan lokasi.  Dari pertemuan ini, Kepala UPTD Panorama telah berjanji akan mengakomodir  seluruh pedagang,” ungkap pedagang ayam potong yang ikut pertemuan itu.

Sementara itu  Kepala Dinas  Perindustrian dan Perdagangan Kota Bengkulu, Ir Yalinus menuturkan,  mereka ini mengeluhkan adanya  lokasi yang  telah disiapkan kepada pedagang itu akan dialihkan kepada pedagang lain,sehingga mereka ini protes, sekarang ini UPTD   diberikan  kepercayaan untuk menyelesaikan persoalan di pasar, jika tidak tuntas maka Disperindag akan turun dan mencari solusinya.
Disingung adanya  pembangunan  di dalam kawasan pasar yang menyebabkan jalan dalam pasar menjadi sempit, diakui Yalinus.

Karena di jalan sudah ada rak-rak tempat berjualan yang menghalangi jalan, dan menyebabkan jalan jadi sempit.  “Hal-hal begini mesti ditertibkan, mumpung belum banyak,” katanya.

Terkait dengan pedagang yang belum terakomodir dalam kios dan auning, menurutnya, masih dalam inventarisir, dan didentifikasi berapa pedagang dan berapa kios dan auning yang belum ditempati. Sejauh ini,  dugaan pungli tidak bisa ditindak lanjuti karena tidak ada yang melapor disertai bukti.

Sementara itu soal desakan  pengundian ulang, Yalinus tak ingin banyak berkomentar hanya saja saat ini  telah dibentuk tim,  mereka ini  mengeluarkan rekomendasi apakah  diterima   dengan sarat, atau tanpa sarat, hasilnya akan diserahkan kepada  walikota. (247)