Program Bedah Rumah Diprotes

DSC_0955BENGKULU, BE – Program Pemerintah Pusat berupa  Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dimulai.  Pencairan tahap pertama ini dilaunching di halaman kantor Bappeda oleh Penjabat Walikota Bengkulu, Drs H Sumardi MM, kemarin.
Bantuan tersebut diberikan kepada 1.372 MBR dengan total Rp 6 juta per kepala keluarga KK). Namun untuk tahap pertama ini hanya diberikan 50 persen atau Rp 3 juta  per KK, sisanya akan diberikan tahap kedua tahun 2013 mendatang.
Dalam sambutannya, Kepala Bappeda Kota Bengkulu, Dr Fitriani AP MSi mengatakan pada tahun 2012 ini Pemerintah Kota Bengkulu mendapatkan kuota 4 ribu unit rumah yang
Data tersebut dilakukan verifikasi administrasi oleh Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), namun hanya 5 kecamatan yang lolos verifikasi yakni Kecamatan Muara Bangkahulu, Ratu Samban, Gading Cempaka, dan Singgaran Pati dengan total mencapai 1.877 unit rumah.
“Dari 1.877 unit rumah itu diverifikasi lagi oleh Tim Pendamping Masyarakat (TPM) yang didampingi BKM sehingga terdapat 1.372 unit rumah saja yang dinyatakan lolos, dan sisanya menunggu tahap berikutnya,” urainya.
Namun ditengah berjalannya acara tersebut, datang 3 orang warga Anggut Atas, masing-masing Abdul Gani (60), Hamsiah (63) dan Endang Hermawan Susanto (35).  Ketiga warga ini berencana menyampaikan aksi protesnya kepada Penjabat Walikota, namun batal dilakukan karena cepat diredam oleh pihak Bappeda.
Saat diwawancarai, ketiga warga ini mengaku memiliki rumah gubuk berlantai semen biasa dan bekerja sebagai buruh lepas, tapi tidak mendapatkan bantuan tersebut. Sedangkan warga lainnya yang memiliki pekerjaan tetap dan lantai keramik ikut mendapatkan bantuan.
“Dianggut Atas, tepatnya di RT 7 RW 3 ada 20 orang  yang mendapat, sedangkan kami tidak dapat,” aku Abdul Gani dengan nada kecewa.
Ia mengaku beberapa waktu lalu didatangi oleh petugas verifikasi, bahkan rumahnya sudah difoto 5 kali. Namun saat pembagian, ia pun tidak mendapatkan program tersebut.
Senada juga disampaikan Hamsiah, ia mengatakan sudah sering didatangi tim verifikasi yang meminta persyaratan seperti sertifikat tanah, rumah, dan memoto rumah tersebut sambil menjanjikan bahwa akan dapat bantuan dari pemerintah.
“Setelah orang itu datang, saya selalu menunggu tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya lagi apakah dapat apa tidak, nyatanya memang tidak dapat,” aku nenek yang hidup sebatangkara dan berprofesi sebagai tukang urut ini.
Mendapati pengaduan tersebut, Fitriani langsung memerintahkan stafnya untuk turun memoto dan melihat kondisi rumah tersebut. Bila memang memenuhi kriteria, maka ia pun menjanjikan bahwa akan mendapatkan bantuan pada tahap berikutnya.
Di bagian lain, Penjabat Walikota Bengkulu Drs H Sumardi MM mengatakan hal tersebut dapat saja terjadi karena banyaknya rumah yang akan diperbaiki tidak seimbang dengan kuota yang berikan pemerintah pusat.  “Saya mohon untuk bersabar, belum dapat tersebut kemungkinan karena belum lolos verifikasi dan akan kita usulkan kembali untuk tahap selanjutnya,” ujarnya. (400)