Prediksi Pemilu Legislatif

FOTO: Andriadi Achmad

Wajah Lama Masih Bertahan

BENGKULU, Bengkulu Ekspress -Hasil pemilu legislatif 2019 diprediksi masih akan mendudukan wajah-wajah lama. Sebab, hal ini sangat dipengaruhi oleh modal sosial, modal popularitas dan modal finansial.  Direktur Eksekutif Nusantara Institute for Political Communication Studies, Research, and Consulting, Andriadi Achmad mengatakan, bahwa konstelasi politik di Provinsi Bengkulu jelang pemilu legislatif 17 April 2019 kian menunjukkan persaingan antar caleg dan internal parpol kian memanas dan para caleg semakin intens terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk merebut hati dan suara rakyat.

“Saya memperhatikan kurang lebih sebulan jelang pileg 17 April 2019 ini, parpol dan para caleg kian menunjukkan intensitas bersaing terjun ke lapangan dalam rangka merebut hati masyarakat Bengkulu” Ungkap Andriadi.

Lebih jauh, Pengamat Politik UPN Veteran Jakarta ini juga berpandangan bahwa keterkaitan antara pileg dan pilpres akan berkorelasi. Dimana Coctail Effect atau Efek ekor jas akan berdampak signifikan dalam mempengaruhi perolehan suara partai. Sebagai misal Partai Gerindra akan mendapatkan dampak positif terhadap perolehan suara efek dari capres prabowo – sandi yang diusung Gerindra, PAN, PKS dan Demokrat serta Partai Berkarya.

Begitu juga perolehan suara PDIP akan cenderung berkorelasi dengan pencalonan Jokowi – Ma’ruf yang di usung PDIP, Golkar, PKB, PPP, Nasdem, PKPI, PBB, Perindo, PSI.”Saya yakin coctail effect atau efek ekor jas akan terjadi di pileg dan pilpres 17 April 2019 yang di adakan secara serentak,” katanya.

Gerindra yang akan mendapat efek paling besar yang diikuti parpol pengusung lain seperti PKS, PAN, Demokrat dan Berkarya jika animo masyarakat dan pasangan Prabowo – Sandi bisa memenangkan suara di Provinsi Bengkulu. “Begitu juga PDIP paling besar mendapatkan dampak kenaikan suara yang diikuti partai pengusung lain jika Jokowi – Ma’ruf mampu memperoleh suara signifikan di Provinsi Bengkulu.” jelas Andriadi Achmad usai melakukan Dialog di Kampus Universitas Ratu Samban Bengkulu Utara.

Menurut Penulis Buku “Politik Kesukuan Dalam Pilkada” ini, tak bisa dinapikkan bahwa Politik Kesukuan juga cukup berperan dan berpengaruh dalam kontestasi politik di Provinsi Bengkulu baik pemilu legislatif maupun pilkada.

Sebagai contoh misalnya saat ini yang duduk di kursi parlemen mewakili parpol yaitu Patrice Rio Capella (Nasdem) berlatar belakang Suku Rejang kemudian tahun 2015 PAW digantikan Anarulita Muchtar berlatar belakang Suku Serawai, Elva Hartati (PDIP) berlatar belakang Suku Serawai, Susi Marleni Bachsin (Gerindara) berlatar belakang suku Serawai, Dewi Choryati (PAN) berlatar belakang suku serawai.

Begitu juga kita lihat yang mewakili daerah sebagai anggota DPD RI yaitu Ahmad Kanedi berlatar belakang Minang – Serawai, Mohammad Saleh berlatar belakang Suku Rejang – Jawa, Eni Khaerani berlatar belakang suku Jawa – Serawai, dan Riri Damayanti berlatar belakang suku Rejang.

“Politik kesukuan juga cukup berpengaruh dalam konstelasi politik di Provinsi Bengkulu baik di Pemilu Legislatif maupun di Pilkada. Coba kita lihat hasil pemilu di tahun 2014, beberapa anggota parlemen yang duduk di senayan DPR RI seperti dari Nasdem Patrice Rio Capella berlatar suku Rejang, kemudian dari suku Serawai seperti Anarulita Muchtar (PAW Patrice Rio Capella), Elva Hartati (PDIP), Susi Marleni Bachsin (Gerindra), Dewi Choryati (PAN).

Lihat juga mewakili daerah sbg anggota DPD RI berlatar belakang suku Serawai seperti Bang Kanedi, Eni Khaerani dan berlatar belakang suku Rejang yaitu Mohammad Saleh dan Riri Damayanti.” Terang penulis dan pengamat politik muda di kancah nasional berlatar belakang suku asli Rejang Lebong – Bengkulu ini.Terakhir dalam penjelasannya, Andriadi Achmad memprediksi konstestan yang cukup berpeluang menuju senayan baik mewakil parpol di DPR RI ataupun mewakili daerah di DPD RI.

Adapun nama-nama yang cukup berpeluang dilihat dari indikator modal sosial, modal populeritas dan modal finansial seperti pertama Mohammad Saleh yang mewakili Partai Golkar diprediksi memperoleh kursi disebabkan tingkat populeritas yang sangat tinggi, selain sebagai Incumbent anggota DPD RI juga pernah menjabat sebagai Ketua DPD RI 2016 – 2017 belum lagi ditambah partai Golkar merupakan partai Gubernur Provinsi Bengkulu, Begitu juga modal sosial Mohammada Saleh dikenal sebagai anggota DPD RI yang sering turun ke lapangan dan memberikan bantuan kepada masyarakat, apalagi modal finansial juga tidak ada persoalan.

Kedua yang berpeluang untuk mendapatkan kursi di DPR adalah Mentari Desa, PDT dan Transmigrasi Eko P. Sandjojo yang di usung PKB, dalam sejarah pileg sejak 1999 PKB belum pernah mengutus anggota parlemen di senayan mewakili Provinsi Bengkulu, “bisa jadi disebabkan terbatasnya modal sosial, modal populeritas dan modal finansial sang Caleg dari PKB, jika kita lihat juga keterikatan PKB merupakan embrio dari PBNU juga tidak berpengaruh cukup signifikan dikarenakan keberadaan NU tidak terlalu kuat mengakar di Provinsi Bengkulu,” katanya.

Langkah baru yang diambil PKB dengan memasang Eko P. Sandjojo bisa menjadi sebab PKB akan mendapatkan jatah kursi di parlemen mewakili Provinsi Bengkulu, sebagaimana kita peran Eko P. Sandjojo sebagai Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi sangat signifikan masuk ke kantong-kantong kabupaten se-provinsi Bengkulu.

“Bengkulu yang secara umum memang masih mendapatkan prediket daerah tertinggal, tentu modal sosial dan modal populeritas sebagai menteri dengan program pro desa dan pembangungan daerah tertinggal menjadikan Eko P. Sandjojo sangat berperan vital dalam memacu dan mendorong provinsi Bengkulu keluar dari ketertinggalan,” katanya.

Tak lepas dari sebagai salah satu pejabat negara modal finansial tidak diragukan dimiliki Eko P. Sandjojo, bisa lihat iklan besaran-besaran Eko P. Sandjojo di Media Massa di Bengkulu maupun dengan memasang billboard di papan reklame raksasa hampir disetiap sudut2 baik di kota maupun di desa-desa di Kab/Kota Se-Provinsi Bengkulu.

Ketiga, petahana dua periode Dewi Choryati (PAN) tak ragukan lagi memiliki modal sosial dan modal populeritas serta modal finansial. Dewi Choryati pernah menunjukkan keperkasaannya ketika mengalahkan Patrice Rio Capella rekan separtainya di Pileg 2009 dan melaju kembali di periode kedua di pileg 2014. “Dewi Choryati dikenal sebagai anggota parlemen yang sering memberikan bantuan ke daerah sebenarnya bukan basis massa bila ditinjau secara kesukuan,” katanya.

Sehingga populeritasnya tidak hanya di kantong-kanting suaranya di wilayah berlatar belakang suku Serawai tetapi juga mendapatkan populeritas diwilayah kantong2 suara suku Rejang misal di Kabupaten RL dan Lebong. Selain itu, sebagaimana kita tahu PAN adalah satu2nya parpol yang sejak pemilu 1999, 2004, 2009, dan 2014 tidak pernah absen mengirimkan anggota duduk di DPR RI mewakili Provinsi Bengkulu. kekuatan PAN juga di pengaruhi kekuatan Muhammadiyah di Provinsi Bengkulu cukup kuat dan mengakar walaupun secara tidak tersirat PAN diidentikkan lahir dari rahim Muhammadiyah. “Jadi tingkat keterpilihan Dewi Choryati sangat besar mewakili PAN dari Dapil Provinsi Bengkulu,” katanya.

Keempat, coctail effect atau efek ekor jas karena mengusung Ketum Partai Gerindra sebagai Capres 2019 akan mendudukkan Gerindra berpeluang besar untuk memenangkan pileg baik secara nasional maupun di daerah, khusus di Provinsi Bengkulu tentu berpeluang besar mendudukan antara dr Lia Lastaria atau Susi M. Bachsin sebagai anggota parlemen di DPR RI 2019.

Kelima, Dani Hamdani (PKS) cukup berpeluang menuju DPR RI tahun 2019, modal sosial dan modal populeritas dimiliki Dani Hamdani dimana pernah tercatat sebagai Calon Wakil Gubernur Pilkada 2010 berpasangan dengan Sudirman Ail dan pernah maju sebagai calon wakil walikota tahun 2012 berpasangan dengan Ahmad Kanedi serta dikenal sbg pegiat pendidikan dibawah Yayasan Pendidikan AlFida dari tingkat Usia dini sampai Menengag Atas cukup besar dan berprestasi di Provinsi Bengkulu, “bagitu juga PKS cukup diperhitungkan di kancah perpolitikan di Bengkulu pernah mengusung dan memenangkan pilkada perdana tahun 2005 dan mendudukkan utusan di senayan DPR RI tahun 2009,” katanya.

Belum lagi faktor coctail effect mengusung kandidat Capres Prabowo – Cawapres Sandiaga. Tak hanya itu, peran ketokohan istri Dani Hamdani sbg anggota DPRD Provinsi 2 periode yaitu Septi bisa juga mendongkrak suara PKS dari kalangan emak-emak, belum lagi mesin partai dan militansi kader PKS tidak diragukan dan tergantikan. “Disamping modal sosial, modal populeritas dan modal finansial juga dimiliki Dani Hamdani bertarung menuju senayan,” katanya.

Keenam, Elva Hartati (PDIP) sebagai petahana DPR RI tentu tak bisa disepelekan karena sudah tentu memiliki modal sosial, modal populeritas dan modal finansial. Selain itu coctail effect juga berpengaruh, dimana PDIP sebagi pengusung utama Capres Jokowi – Cawapres Ma’ruf Amin.

“Ini nanti akan berkorelasi, jika suara diperoleh Jokowi – Ma’ruf Amin cukup tinggi di provinsi Bengkulu, maka secara otomatis akan mendongkrak suara PDIP. Sehingga posisi inilah yang membuat Elva Hartati berpeluang untuk menuju senayan kembali,” katanya.

Adapun, anggota DPD RI yang berpeluang menuju senayan DPD RI tahun 2019 yaitu Pertama, Ahmad Kanedi, sebagai petahana yang punya basis massa jelas tentu kembali memberi peluang Bang Kan untuk kembali duduk. Bila dilihat dari modal sosial, modal populeritas dan modal finansial sudah tentu di miliki Ahmad Kanedi.Kedua, Hermen Malik, pernah menjadi Bupati Kab. Kaur dan memiliki jaringan serta relawan yang kuat bahkan hari ini hampir di setiap sudut jalan kita melihat spanduk, billboard Hermen Malik.

Ketiga, Sultan B. Najamuddin. Sejak pilkada tahun 2005 dimenangkan Agusrin M. Najamuddin. Berefek ke popularitas keluarga besar Najamuddin. Sebagai adik kandung Petahan di tahun 2009 Sultan B. Najmuddin akhirnya duduk sebagai Anggota DPD RI (PAW 2012 terpilih sebagai Wakil Gubernur Provinsi Bengkulu) dan mengalami kekalahan ketika head to head pilkada tahun 2015 dengan pasangan Ridwan Mukti – Rohidin Mersyah. “Modal sosial dan modal populeritas serta modal finansial yang kuat tentu Sultan B. Najamuddin sangat berpeluang duduk kembali di kursi DPD RI mewakili Dapil Bengkulu tahun 2019,” katanya.



Keempat, Eni Khaerani, dikenal sebagai incumbent yang selalu lolos sejak 2004, 2009 dan 2014 sebagai anggota DPD RI. Eni Khaerani berkarier sebelumnyan sbg dosen di UMB. Sebagai salah satu tokoh utama Aisiyah Provinsi Bengkulu yang merupakan sayap utama ormas Muhammadiyah, tentu Eni Khaerani mempunyai basis massa yang jelas.

Dengan intensitas memelihara dan semakin dekat dengan Muhammadiyah sehingga Eni Khaerani secara tidak tersirat merupakan perwakilan Ormas Muhammadiyah – Aisiyah khususnya dan kalangan wanita umumnya di senayan DPD RI. Dengan modal sosial, modal populeritas serta modal finansial yang besar sbg Incumbent tak terkalahkan selama 3 periode tentu membuat peluang Eni Khaerani cukup besar kembali terpilih untuk keempat kalinya.

Kelima, Riri Damayanti, dikenal sebagai Anggota MPR RI dan DPD RI termuda yaitu berusia 23 tahun saat 2014 adalah modal dasar bagi Riri Damayanti menjadi pendatang baru selebritis politik di senayan. Sebagai wajah yang mewakili kalangan milenial dan incumbent DPD RI menjadikan Riri Damanyanti masih berpeluang untuk duduk periode kedua asalkan bisa memainkan peran sbg kaum milenial. “Selain itu modal sosial, modal populeritas serta modal finansial tentu dimiliki Riri Damayanti,” pungkasnya (100)




    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*