Polres Usut Dugaan Pungli Prona

KAPOLRES SELUMA JEKI RAHMAT
Kapolres Seluma AKBP Jeki Rahmat Mestika SIK

LUBUK SANDI SELUMA, Bengkulu Ekspress – Saat ini, Polres Seluma, sedang melidik dugaan pungutan liar (pungli) terhadap penembusan pengambilan sertifikat tanah di salah satu desa di Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. Pungli diduga dilakukan kepala desa dan perangkat desa setempat kepada warga yang menerima program prona dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).

“Laporan atas dugaan ini sudah ada dan tim sudah dibentuk. Kasus ini masih dalam penyidikan kita guna mengumbulkan alat bukti,” ujar Kapolres Seluma AKBP Jeki Rahmat Mestika SIK kepada Bengkulu Ekspress vkemarin.

Laporan dugaan pungli ini sudah sampai di Polres Seluma beberapa hari lalu. Hanya saja, polisi tidak mau gegabah dalam menindaklanjuti laporan dari warga tersebut. Masih harus dilakukan pengumpulan alat bukti permulaan yang kuat. Dengan melakukan pemeriksaan sejumlah saksi. “Secepatnya saksi kita panggil guna pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) dan pengumpulan data (puldata),” sampai kapolres.

Rahmat menerangkan, sebelumnya beberapa hari lalu, Polres Seluma, juga sudah meringkus dua terduga pelaku pungli terhadap kendaraan pedesaan yang melintas. Sekalipun barang bukti (BB) yang diamankan hanya Rp 133 ribu kasus ini tetap di tindak. Termasuk dugaan pungli terhadap prona yang kini sedang diusut meskipun nanti nilainya kecil tetap diusut tuntas.

Data berhasil dihimpun Bengkulu Ekspress, program pembuatan sertifikat prona 2017, desa tersebut menerima kuota sertifikat dan telah diterbitkan BPN sebanyak 426 Persil. Hanya saja, dalam pembagian sertifikat tersebut, warga dikenakan biaya untuk menebusnya dengan besaran bervariasi. Sertifikat jenis pekarangan rumah dikenakan biaya Rp 500 ribu, Rp 700 ribu untuk sertifikat jenis kebun. Sementara untuk sertifikat jenis kebun dipungut Rp 1 juta persil. Dalam penetapan besaran uang tebusan it u penerima sertifikat tidak diajak rapat. Ada sekitar 35 warga saya yang dari total masyarakat yang membuat sertifikat prona.

Menanggapi akan hal tersebut, Bengkulu Ekspress berusaha untuk mengkonfirmasi ke kepala desa bersangkutan, namun belum berhasil. Bengkulu Ekspress sudah dua kali mendatangi kediaman kades tersebut, namun sang kades selalu tidak berada di rumah. (333)