Polisi Bengkulu Geruduk KPK

JAKARTA, BE – Suasana di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tadi malam (5/10) sempat mencekam. Sejumlah anggota Polda Bengkulu dan Polda Metro Jaya mendatangi kantor komisi antirasuah. Mereka hendak menangkap seorang penyidik KPK yang berperan atas pengungkapan kasus dugaan korupsi proyek simulator ujian surat izin mengemudi (SIM). Penyidik itu Wakil Kepala Satuan Tugas Tim Simulator Kompol Novel Baswedan. Penangkapan ini dikatakan terkait kasus yang diduga berkaitan dengan Novel semasa bertugas di Bengkulu.

Kedatangan polisi dari Bengkulu ini yang dikomandoi Direktur Reskrim Umum Kombes Pol Dedy Irianto itu terjadi sesaat setelah KPK memeriksa Irjen Djoko Susilo yang disangka terlibat dalam kasus simulator ujian SIM. Pemeriksaan berlangsung selama 8 jam.

Suasana semakin tegang setelah orang tidak dikenal serupa intelijen seolah berjaga di setiap sudut gedung KPK. Mereka menjaga di banyak titik di lingkungan komisi antikorupsi itu. Setiap pintu masuk gedung KPK, pos satpam, di sekitar pagar gedung KPK, di dekat pintu lobi KPK, dan di sudut-sudut gedung lain. Sebelumnya, tak ada orang yang berjaga-jaga di titik tersebut.

Berdasarkan pemantauan koran ini ada salah seorang dari mereka yang duduk persis di pagar depan gedung KPK. Sementara di trotoar gedung KPK terparkir tiga mobil yang juga dijaga. Mereka tampak berkoordinasi karena masing-masing orang tak dikenal itu menggunakan ponselnya.

Hawa mencekam semakin terasa ketika melewati gerombolan orang tidak dikenal itu. Mata mereka seolah mengawasi setiap pengunjung KPK malam ini. Kedatangan sejumlah orang tidak dikenal tersebut bersamaan dengan kehadiran empat anggota kepolisian dari Polda Bengkulu.

Kriminalisasi
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto menilai, tindakan Kepolisian yang mendatangi kantor KPK Jumat (5/10/2012) malam adalah bentuk kriminalisasi terhadap KPK.
Kehadiran sejumlah anggota polisi ini untuk melakukan penangkapan terhadap salah satu penyidik KPK bernama Kompol Novel Baswedan.

“Inilah bagian dari tindakan kriminalisasi terhadap sebagaian anggota KPK,” tegas Bambang dalam keterangan pers di kantor KPK.
Bambang menjelaskan, banyak yang aneh dari surat yang dibawa oleh Direktur Kriminal Umum Polda Bengkulu, Kombes Dedi Irianto. Surat itu dibawa oleh Dedi pukul 18.00 WIB.

Lucunya, surat itu belum mendapat izin dari Pengadilan. Bukan saja izin, bahkan nomor suratnya pun tidak ada.”Bukan saja izin pengadilan, tapi nomornya juga belum ditulis,” katanya.

Hampir 2 Kompi
Upaya Kepolisian menangkap penyidik KPK Kompol Novel Baswedan lumayan serius. Setidaknya, dua kompi anggota kepolisian diterjunkan ke gedung KPK.
Mereka mulai berkeliaran mulai Jumat malam (5/10) hingga konpers yang digelar pimpinan KPK bersama elemen masyarakat dan anggota DPR digelar Sabtu pukul 01.15.

“Hampir dua kompi petugas tidak berpakaian dinas dari institusi lain saat ini ada di sekitar KPK,” ujar Bambang. “Mudah-mudahan ini untuk melindungi gedung KPK,” sambung dia.

BBM
Seorang wartawan yang berjaga di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, berhasil mengabadikan isi percakapan BlackBerry Messenger (BBM) antara seseorang bernama Fadhil dengan salah seorang anggota polisi berpakaian preman yang tengah berada di dalam lobby Gedung KPK.

Dalam gambar percakapan BBM tersebut terlihat, polisi berpakaian preman itu berkata kepada Fadhil, “Kami sekarang di ruang tunggu. Informasi salah satu pimpinan, BW kampretos sdh otewe”. Entah siapa yang dimaksud dengan BW dalam percakapan tersebut.
Kemudian BBM itu dibalas oleh Fadhil, “Jadi nunggu BW? Yang penting N amankan dululah.”

Perintah Tarik Pasukan
Menko Polhukam Djoko Suyanto meminta Kepolisian menarik aparatnya dari Gedung KPK. “Saya sudah perintahkan Polri untuk tarik aparatnya. Kapolri sudah sanggupi dan perintahkan untuk menarik,” kata Djoko.

Hal tersebut diperintahkan Menko Polhukam setelah berkomunikasi dengan Kapolri terkait kedatangan sejumlah aparat Kepolisian ke Gedung KPK Jumat malam yang menyebabkan suasana mencekam.

Menko Polhukam mengatakan, begitu mendengar terjadinya kegaduhan di Gedung KPK, ia langsung menelepon Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk berkoordinasi. Ia juga mengizinkan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana untuk datang ke Gedung KPK agar bisa berkoordinasi dan mendapat informasi langsung dari lapangan.

“Saya kroscek ke Kapolri, apa ada perintah dengan tujuan itu, Kapolri kaget dan tidak ada perintah untuk itu,” jelas Djoko. Kemudian, Kapolri meminta izin kepada Menko Polhukam untuk mengecek informasi tersebut.

Tak lama kemudian, lanjut Djoko, Kapolri membenarkan hal tersebut dan saat itu juga Menko Polhukam meminta Polri menarik pasukannya. Menurut Djoko, Kapolri sudah menyanggupi untuk menarik anggotanya dari KPK.

Dukungan Mengalir
Ratusan massa memadati gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jalan H.R Rasuna Said, Kuningan, Jakarta selatan sejak Jumat (5/10) malam hingga dini hari ini. Di KPK selain ketuanya, Abraham Samad, malam ini juga terlihatĀ  Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana, Anggota Komisi III DPR RI Martin Hutabarat dan sejumlah aktifis anti korupsi.

Denny yang datang lebih awal sekitar pukul 22.25 WIB bersama ajudannya belum memberikan banyak komentar mengenai apa yang terjadi di KPK. Dia hanya mengatakan bahwa kedatangannya adalah untuk membela KPK. “Bela KPK,” ujar Denny.

Pada saat bersamaan, di teras depan gedung anti korupsi itu juga hadir ratusan massa yang menamakan diri “Save KPK”. Mereka berorasi sambil meneriakkan kalimat “Gantung Koruptor”. Massa menilai ada upaya dari pihak tertentu untuk melemahkan KPK.

Aktifis Anti Korupsi, Anies Baswedan yang datang ke KPK menyatakan, saat ini KPK sedang berada di persimpangan jalan dan mendapat tekanan yang besar dan dilemahkan. “Tidak pernah dalam sejarah KPK ada tekanan seperti ini. Dan yang sekarang kita saksikan hari ini menunjukkan bahwa seluruh rakyat indonesia harus mengambil posisi yang jelas.

Apakah kita berada di dalam posisi memberantas korupsi, menghabiskan korupsi atau membiarkan para koruptor,” kata Anies.
Sementara itu Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto yang baru saja kembali dari Kalimantan sempat menemui massa. Hanya saja Bambang belum memberikan penjelasan mengenai duduk persoalan sebenarnya.

Dikatakannya juga, permasalahan yang terjadi malam ini di gedung KPK akan disampaikan melalui konferensi pers.

“Sebentar lagi kami akan buat konferensi pers yang akan menjelaskan kronologis masalahnya. Karena itu kami minta teman-teman bersabar,” ujar Bambang yang meminta massa tidak terprovokasi dan melakukan hal-hal di luar kontrol.(**)