Polemik Replanting Kelapa Sawit

sawit
Foto : IST

Anggaran Dikembalikan ke Negara

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Program replanting atau peremajaan tanaman kelapa sawit yang dicanangkan pemerintah diduga kurang diminati masyarakat petani dalam wilayah Provinsi Bengkulu, tepatnya di Kabupaten Bengkulu Selatan. Padahal, untuk pelaksanaan program peremajaan tanaman kelapa sawit yang usia produksinya sudah habis ini pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 25 sampai 30 juta per hektar. Namun anggaran tersebut terancam harus dikembailkan ke negara jika hingga akhir tahun program ini tidak dilaksanakan dengan optimal.

Anggota Komisi IV DPR RI, Susi Marleny Bachsin SE MM mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah menyoroti pelaksanaan Program replanting yang belum berjalan optimal. Pihaknya berencana akan mengevaluasi kembali terkait penyebab kurang diminatinya program tersebut.

“Kami akan cari hal yang melatar belakangi mengapa kurang berminatnya masyarakat untuk menjalani program replanting ini,” ujar Susi, kemarin (7/11).

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, untuk kuota program Replanting seluas 500 hektar, baru 300 hektar masyarakat yang mengusulkan akan melakukan peremajaan terhadap kelapa sawitnya.”Sejauh ini syarat administrasi untuk pelaksanaan program tersebut, belum dilengkapi oleh masyarakat petani setempat, sehingga masyarakat belum siap untuk melaksanakan program replanting ini,” terang Susi.

Tujuan program tersebut dilaksanakan Pemerintah adalah untuk peremajaan tanaman kelapa sawit yang usia produksinya sudah habis, atau dimulai dari tanaman muda kembali. Sehingga, dugaan penolakan dari masyarakat petani setempat harus segera diketahui apa penyebabnya agar program ini bisa berjalan optimal.



“Para petani sebelumnya sudah diberikan keringanan, namun tetap saja pelaksanaannya belum maksimal sehingga harus segera kita atasi,” lanjut Susi.

Namun menurutnya, Pelaksanaan program replanting dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp 25 sampai 30 juta perhektar tersebut, juga harus dibarengi dengan peningkatan harga kelapa sawit. Pasalnya dari laporan yang diperolehnya, sebagian besar harga kelapa sawit dalam wilayah Provinsi Bengkulu, saat ini belum sesuai dengan keinginan masyarakat petani. “Harga sawit saat ini masih anjlok dan harus dipikirkan bersama bagaimana caranya agar program pemerintah tetap jalan dan masyarakat tidak dirugikan,” sambung Susi.

Terakhir Susi menambahkan, dampaknya apabila program tersebut tidak terlaksana hingga akhir Desember nanti, imbasnya dana yang sebelumnya dialokasikan untuk pelaksanaan program dimaksud, mau tidak mau harus dikembalikan ke negara.

“Kalau tidak terlaksana, maka anggaran terpaksa kembali ke negara. Padahal program ini tujuannya menambah produktivitas kelapa sawit dan akhirnya diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sawit,” tukas Susi.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Bengkulu, A Jakfar menyarankan, kepada para petani di Bengkulu agar bersedia melakukan replanting perkebunan kelapa sawit. Karena selain bibit yang diberikan juga berkualitas, produktivitas kelapa sawit di Bengkulu juga akan semakin meningkat. Dengan produktivitas meningkat maka muaranya adalah kesejahteraan para petani tersebut.

“Petani harus memikirkan ekonomi kedepan, jangan hanya berpikir saat ini, kalau sekarang mungkin masih berbuah, kalau sawit tidak menghasilkan buah lagi lantaran pohon sudah semakin tua, yang rugi siapa, petani itu juga,” tutupnya.(999)




    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*