Pol PP Vs Pedagang Bersitegang

RIO-PENERTIBAN PKL PASAR MINGGU DAN PRAPTO NYARIS RICUH (3)

BENGKULU, BE – Mengatasi masih banyaknya pedagang kaki lima (PKL) yang membandel, Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP) Kota Bengkulu menggelar penertiban, Rabu (14/1) kemarin.  Hanya saja, penertiban kali ini tak berjalan mulus, penertiban menuai protes oleh beberapa pedagang yang menolak untuk direlokasi (dipindahkan). Alhasil sempat terjadi cek-cok mulut (bersitegang) dan saling dorong antara Satpol PP dan pedagang.  Pedagang menolak barang dagangan mereka diangkut.

“Kami ini mau cari makan pak, ibu kami ini janda, dimana hati nurani bapak,” ujar salah seorang pedagang nasi uduk, di Jalan KZ Abidin 1 dengan nada tinggi.

Pantauan BE, penertiban ini hanya dilakukan 1 jam, dimulai dari pukul 08.30-09.30 WIB dan dipimpin langsung oleh Kepala Satpol PP Kota, Jahin Liha Bustami SSos.

Tak kurang dari 40 personil anggota Satpol PP Kota dengan dibantu anggota kepolisian jajaran Polres Bengkulu dikerahkan dalam aksi tersebut.  Penertiban dimulai dari jalur belakang Mega Mall dan menyisir sepanjang Jalan KZ Abidin 1 hingga jalan protokol Mayjend Suprapto.  Dari penertiban ini, sebanyak 1 mobil barang-barang pedagang berhasil diangkut, baik gerobak maupun barang dagangannya.

Sementara itu, Jahin mengatakan, penertiban yang dilakukan terhadap pedagang nakal ini sudah sesuai dengan tugas dan fungsi (Tupoksi) Satpol PP.  Dan ini akan terus dilakukan di Kota Bengkulu untuk menjadikan Kota Bengkulu lebih tertata rapi dan indah dipandang.

“Kita akan terus mengadakan penertiban rutin ini, melakukan penertiban di jalur hijau, trotoar, pasar minggu, pasar panorama serta tempat-tempat lain yang akan mengganggu jalur lalu lintas di Kota Bengkulu,” kata Jahin.

Lebih lanjut dikatakan Jahin, pihaknya tak akan pandang bulu dalam melakukan penertiban.  Siapa saja pedagang yang masih berjualan di badan jalan maupun  trotoar, maka pihaknya tak akan sungkan untuk mengangkut dagangannya. Meski begitu, pihaknya masih memberikan toleransi dengan hanya mengakut sebagian barang dagangan, dengan harapan dapat memberikan efek jera bagi pedagang untuk tak lagi melakukan hal serupa.

“Kita masih memberikan sedikit toleransi kepada mereka (pedagang, red) dengan tak mengangkut semuanya. Hanya saja, barang yang sudah kita amankan tak diperbolehkan diambil lagi agar dapat membuat mereka tak mengulangi lagi. Dan ke depan kami akan terus melakukan pengawasan dan setiap saat bisa saja turun ke lapangan untuk melakukan penertiban,” tutupnya. (135)