PNS Ciptakan Alat Penghilang Asap

Benteng
ALAT : Diding Hamdani (56), warga Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa saat menunjukkan alat ciptaannya yang mampu membakar sampah tanpa mengeluarkan asap. (Foto BAKTI/BE).

Banyak hal positif bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Seperti yang dilakukan Diding Hamdani NK SPI (56), warga Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng). Ia berhasil menciptakan alat pencuci atau penghilang asap. Seperti apa alat temuannya ini, simak tulisan berikut;

BAKTI SETIAWAN, Benteng

SALAH seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Benteng ini, mampu menciptakan alat yang bisa mengurai berbagai jenis sampah tanpa menimbulkan asap yang dapat mencemari udara. Alat yang dibuat sejak tahun 2012 lalu tersebut akhirnya sempurna pada bulan November 2016 lalu.

“Semua jenis sampah bisa dibakar tanpa mengeluarkan asap. Baik sampah olahan rumah tangga maupun sampah berbahaya rumah sakit. Alat ini juga baik untuk digunakan sebagai media untuk membakar atau memusnahkan obat kedaluarsa maupun Narkoba,” ungkap pria yang menjabat Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Pondok Kelapa itu.

Selain pembakaran skala kecil, alat yang sistem kerjanya dengan menggunakan media air tersebut diyakini mampu menghilangkan asap sisa-sisa pembakaran pada sejumlah pabrik, baik pabrik pengolahan karet maupun pabrik pengolahan buah sawit.

“Jika terpasang di pabrik, alat ini juga mampu menghilangkan asap sisa pembakaran. Jika selama ini kepulan asap hitam banyak dikeluhkan warga, ini bisa menjadi solusi yang bagus,” ungkapnya.

Ia mengaku, penemuan alat ini bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah berasal dari keprihatinan dirinya terhadap kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Kekhawatirannya pun semakin menjadi ketika belum adanya alat atau media yang mampu untuk mengurai sampah.

“Jika tidak ditanggapi serius, saya khawatir bumi ini akan menjadi lautan sampah dan menjadi polutan. Jika terus dibiarkan, ini tentu saja akan berbahaya dan menimbulkan berbagai penyakit. Yang terkena imbasnya adalah anak cucu manusia. Sebagai contoh kecil, sampah plastik baru akan hancur menjadi tanah setelah 300 tahun lamanya,” beber bapak 6 orang anak ini.

Jebolan Universitas Hazairin (Unihaz) Bengkulu ini menuturkan, dirinya telah bekerja keras serta mengorbankan waktu dan tenaga untuk mewujudkan impiannya tersebut. Kegagalan demi kegagalan pun tak menjadi penghalang.

“Kalau ditanya beberapa kali gagal, wah itu tak terhitung lagi. Jika dikalkulasikan, saya sudah menghabiskan uang sekitar Rp 20 juta untuk penyempurnaan alat ini. Semuanya saya lakukan secara mandiri,” tuturnya.

Setelah dianggap sempurna, lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Indramayu, Jawa Barat (Jabar) ini menyampaikan, beberapa alat berbagai ukuran telah dibuat. Baik yang mampu membakar 1 kubik sampah (diameter 60 cm) maupun sampah dalam skala kecil. Pun begitu, dirinya enggan membeberkan terkait teknis pembuatan alat yang diciptakannya itu. “Itu rahasia saya, si penemu,” celetuknya sembari tersenyum.

Sejauh ini, beber Diding, alat tersebut belum dimanfaatkan secara bebas, baik di lingkungan keluarga ataupun lingkungan pabrik.

Meski sejumlah pihak memang telah menawarkan dirinya untuk mengembangkan alat tersebut, terutama pihak dari luar Provinsi Bengkulu, ia mengaku belum bisa memenuhi permintaan tersebut dikarenakan dirinya belum mendapatkan hak paten atas alat yang diciptakan.

“Saya harap ada apresiasi dari pemerintah atas keberhasilan anak bangsa dalam menciptakan alat yang bermanfaat. Minimal adanya pemberian hak paten atas karya yang diciptakan,” pintanya. (**)