PLTU Batu Bara Sengsarakan Rakyat

Foto : Ist

Capres Diminta Bertindak

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara (BB) di Teluk Sepang Kota Bengkulu ternyata tidak membuat masyarakat di sekitarnya hidup tentram dan sejahtera. Sebanyak 492 warga disana sudah terkena dampak pembangunan PLTU ini mulai dari penggusuran lahan pertanian, polusi udara, diskriminasi dari pihak asing, hingga tangkapan nelayan yang berkurang.

Warga sekaligus Koordinator Posko Teluk Sepang, Hamidin mengatakan, seluruh warga Teluk Sepang Kota Bengkulu menolak pembangunan PLTU tersebut. Akan tetapi setelah izin AMDAL turun, ditemukan bahwa 92 persen masyarakat mendukung pembangunan sementara 8 persen menolak pembangunan. Padahal berdasarkan fakta yang terjadi seluruh masyarakat menolak pembangunan tersebut.

“492 warga di Teluk Sepang menolak pembangunan PLTU ini, tetapi oleh pemerintah mau tidak mau pembangunan PLTU harus dilaksanakan. Ini jelas menyengsarakan kami,” kata Hamidin, kemarin (6/2).

Bahkan, sebelum pembangunan PLTU, pihaknya dijanjikan akan dipekerjakan. Namun janji tersebut hingga kini tidak kunjung ditepati. Malahan pekerja disana kebanyakan adalah orang dari Tiongkok. “Kami sudah jenuh di bohongi, pembangunan PLTU ini hanya membawa derita bagi kami karena saat ini hampir seluruh masyarakat sudah terkena dampak penyakit TBC,” ujar Hamidin. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Warga Teluk Sepang lainnya, Hariyanto alias Antok. Dirinya juga menjadi korban atas pembangunan PLTU ini.

Karena pembangunannya telah membohongi seluruh masyarakat disana. “Banyak sekali kebohongan yang terjadi dari pembangunan PLTU ini, bahkan masyarakat disana yang katanya setuju padahal sebenarnya tidak setuju sama sekali,” kata Antok. Kebohongan lainnya yang dilakukan oleh pihak PLTU yaitu menyatakan telah merekrut sebanyak 500 orang pekerja lokal.

Padahal tidak ada satupun tenaga kerja lokal yang bekerja disana hingga saat ini. “Setiap pagi ada mobil yang mengangkut tenaga kerja ke sana, dan rata-rata adalah tenaga kerja dari Pulau Jawa tidak ada yang dari Bengkulu,” tuturnya. Pemilik Tanam Tumbuh di PLTU Teluk Sepang, Nurjanah mengaku dirinya menampung seluruh tenaga kerja dari Pulau Jawa di rumahnya. Bahkan tidak hanya pekerja dari Jawa, banyak juga pekerja asal Tiongkok yang bekerja disana.

“Pemerintah yang punya hak disana, tetapi mereka membiarkan warga disana sengsara, lahan pertanian digusur, mau bekerja di PLTU tidak boleh, mau nangkap ikan sudah sulit, dan hasilnya masyarakat cari nafkah dimana?, hanya bisa makan debu,” tuturnya.



Menanggapi permasalahan tersebut, Ketua Kanopi Bengkulu, Ali Akbar mengatakan, pihaknya menantang calon presiden (capres) Jokowi-Prabowo untuk menyelesaikan permasalahan ini. Karena PLTU batubara tidak hanya mensengsarakan masyarakat. Akan tetapi ikut mencemari lingkungan jika telah beroperasi. “Kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden masih terjebak sebatas jargon dan tidak memiliki peta jalan yang jelas untuk mencapai kedaulatan energi listrik yang bebas dari energi fosil batu bara,” kata Ali.

Hal tersebut dilakukan mengingat keberadaan proyek mulai dari pra-konstruksi hingga operasi telah terbukti menyengsarakan rakyat, seperti yang dialami belasan petani penggarap lahan di tapak PLTU Teluk Sepang yang kehilangan tanam tumbuh tanpa ganti rugi yang adil. Penolakan terhadap energi kotor PLTU batu bara berkapasitas 2 x 110 Megawatt di Kelurahan Teluk Sepang sudah disuarakan rakyat bersama organisasi masyarakat sipil sejak awal rencana pendirian proyek itu.

“Kami ingin capres Jokowi dan capres Prabowo memberi harapan bahwa lndonesia akan meninggalkan batu bara clan muiai bicara bagaimana peraiihan pemanfaatan energi bersih terbarukan menjadi sumber utama energi listrik Indonesia. Karena fakta lainnya, PLTU Batubara kini menjadi pembunuh senyap dan bertanggungjawab atas kematian dini 6.500 jiwa per tahunnya,” tutupnya. Sementara itu, Direktur Kelopak Bengkulu, Deddy Kurniadi mengatakan, pihaknya telah mempelajari visi-misi kedua Capres.

Sayangnya, capres Jokowi dan capres Prabowo masih mengandalkan pemanfaatan batu bara untuk energi nasional dan tidak ada satu pun yang bicara tentang dampak-dampak masif yang tengah dihadapi para petani, nelayan di pesisir dan warga di desa-desa di daerah tambang batu bara. Untuk itu, kedua capres harus mengakhiri ilusi ini.
“Kami berharap Capres Jokowi dan Capres Prabowo akan membawa bangsa ini ke energi bersih,” tutupnya.(999)