Pevita Pearce Berbagi cerita Lewat Buku, Tiga Tahun Diperlakukan seperti Pelacur

PEVITA Cleo Eileen Pearce atau yang dikenal dengan Pevita Pearce merayakan ulang tahunnya ke-22, kemarin (6/10).

Bertepatan dengan hari kelahiranNya, bintang film Tenggelamnya Kapal Van Der Whicj itu merilis buku perdananya berjudul ‘Pevita Pearce, Our Note book: Peace in Mind, War at Heart’ di Birdcage, Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Satu demi satu perjalanan hidupnya dituangkan dalam buku setebal 127 halaman.  Tidak hanya petualangan menuju puncak sebagai seorang artis, perjalanan asmaranya pun dituangkan ke dalam buku terbarunya itu.

”Alhamdulillah hari ini (kemarin, Red) saya masih diberi kesempatan tambah umur ke-22 tahun. Di hari ultah ini, saya launching buku. Ini untuk semua wanita,” ujar Pevita.

Ide pembuatan buku perdananya ini sederhana yakni, berawal dari hobinya menulis diary. Cerita yang dikupas dari buku tersebut memang rangkaian dari diary yang selalu menjadi sahabat dan teman curhatannya.

Baik itu yang pernah dialaminya maupun teman-teman sesama wanita yang pernah didengar. ”Awalnya sih hanya nulis dairy. Dan dibawah alam sadar aku. Aku memang suka tulis,” tandasnya.

Dalam penulisan buku perdananya itu, Pevita mengajak pembacanya untuk berpetualang. Tidak hanya sekadar mengetahui siapa sosok yang diceritakan. Namun dirinya merangkum dalam beberapa penulisan yang berbeda mulai dari cerita pendek, puisi,  dan sajak.

Dan yang menjadi penasaran adalah subjudul Cinta dan Kecanduan. Entah fiksi atau tidak Pevita memilih cerita pendek. Dia menuliskan perjalanan asmara. Pevita menulis tentang pengalaman sosok lelaki pertama yang jadi pacarnya.

Entah siapa pria tersebut, namun selama selama tiga tahun dia diperlakukan seperti pelacur.

“Aku dipukul, aku diseret, aku dijambak. Aku dicekik hingga tak bisa bernapas. Tidak jarang, kepalaku dihentakkan ke dinding dengan keras. Tidak jarang, aku dicaci-maki dengan kata-kata yang tidak pantas diberikan kepada wanita,” tulisnya di halaman tersebut.

Sayangnya dalam tulisan tersebut, memang Pevita tidak menjadikan namanya sebagai tokoh utama, dia memilih “aku”. Tokoh aku ditulisnya bukan hanya mengalami sakit fisik, tapi juga psikologis.

Diketahuinya sang kekasih ternyata seorang junkie. Meski ia merasakan sakit yang tak terkira, diakui si tokoh aku tersebut, pria itu adalah cinta pertamanya.

“Terserah yang baca, aku tidak akan membocorkan bahwa ini pengalaman pribadi aku, terserah pembaca mau nilainya seperti apa. Aku ingin menceritakan bahwa ini sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Dan, aku ingin mengekspresikan,” katanya.

Rupanya enggan untuk berterus terang apakah cerita itu merupakan bagian dari pengalaman pribadinya sendiri atau temannya. Ia hanya menjelaskan buku itu dikembangkan bersama dengan cerita sahabat-sahabatnya, teman, dan orang terdekatnya.

“Aku di titik dimana membiarkan semuanya berjalan dalam tulisan ini. Aku masih muda,” katanya.

Yang pasti buku perdananya yang diperuntukan untuk kaum perempuan, termasuk yang ingin meniti karir di dunia entertain.

“Mungkin kayak dulu pada 2006 atau 2005 SMP. Aku dapat nominasi di FFI suatu kehormatan, aku termuda. Dari situ aku merasa mau menang, tapi ternyata nggak, jadi drop. Akhirnya belajar, dan kita siap menerima itu,” tandasnya. (ash)