Petualangan Keren Wartawan Bersama Telkomsel

 13118022_1019654594737012_1402637744_n
Kelilingi Prambanan hingga Jajal Gua Pindul

Telkomsel kembali menyelenggarakan event tahunannya press ghatering wartawan se-Sumatera. Tahun 2016 ini kegiatannya berlangsung di Yogyakarta 11-13 Mei. Bengkulu Ekspress pun diundang dan mengirimkan Redaktur Zalmi Herawati sebagai perwakilannya.

Untuk menghibur dan memanjakan ratusan wartawan yang hadir, baik dari media cetak maupun online, panitia penyelenggara memberikan petualangan keren dengan mengelilingi Candi Prambanan yang penuh cerita hingga menjelajahi aliran sungai yang mengalir di dalam Gua Pindul. Petualangan yang benar-benar keren sesuai tema press ghaterin ‘Telkomsel Bikin Keren Indonesia’.
Mau tahu bagaimana jelajah istimewa di Jogjakarta ini,
Simak Laporannya!

Zalmi Herawati, Jogjakarta

Petualangan para wartawan dilaksanakan pada hari Kamis (12/5). Sekitar pukul 07.30 WIB rombongan bergerak dari tempat penginapan di Hotel The 101 yang megah. Perjalanan ditempuh menggunakan 2 unit bus sekaligus menuju Candi Prambanan.

Setiba di Candi Prambanan yang pertama kali dilakukan mengabadikan moment berfoto bersama di gerbang Candi Prambanan. Jelajah Candi Prambanan pun dimulai BE yang tergabung dalam kelompok Sumatera Bagian Selatan dipandu Subarno (62) PNS Dinas pariwisata Provinsi Jogjakarta.

Sambil mengajak wartawan mengitari Candi Prambanan, Subarno pun mejelaskan, areal Candi Wartawan seluas 800 hektar. Disini terdapat 240 buah candi. Dibagian depan ada 212 candi, di halaman 2 ada 212 candi dan sisanya di halaman 3. Candi Prambanan selesai dibangun sekitar tahun 856 masehi. Candi ini sempat hancur pada tahun 1006 akibat gempa bumi. Canbdi Prambanan baru ditemukan kembali pada tahun 1985, lalu direkonstruksi dan selesai tahun 1985.

”Candi Prambanan terdiri dari tiga bagian,” kata Subarno yang sudah 40 tahun menjadi pemandu wisata Candi Prambanan.

Pertama kaki, berarti kelahiran manusia dilambangkan dengan Candi Brahmana sebagai pencipta. Kedua Tubuh Candi manusia diliputi hawa nafsu yang dilambangkan dengan Candi Dewa Shiwa sebagai lambang perusak, dan terakhir kepala candi manusia sudah meninggalkan nafsu dunia dan mencapai kesempurnaan tidak lagi tergoda nafsu dunia dilambangkan dengan Candi Wishnu sebagai pemilihara.

Para wartawan pun mengitari satu persatu ketiga candi terbesar di Candi Prambanan ini. Pertama yang dinaiki Candi Brahmana. Di dalam candi ini terdapat patung Brahmana, dan disekeliling dinding candi terdapat ukiran-ukiran penuh makna. Setelah mengitari Candi Brahmana, rombongan wartawan pun turun lalu menaiki Candi Dewa Shiwa. Candi dewa perusak ini paling tinggi mencapai 47 meter. Di dalamnya terdapat patung Dewa Shiwa berdiri tegak setinggi 3 meter, namun ruangannya gelap. Jadi tak banyak wisatawan yang berani masuk ke ruangannya termasuk wartawan.

Berikutnya, meskipun sudah letih naik ke Candi Brahmana dan Shiwa rombongan wartawan tetap bersemangat melanjutkan menaiki Candi Brahmana.

Tak hanya 3 candi dewa itu, para wartawan juga mengitari Candi Roro Jonggrang yang sangat terkenal ceritanya. Patung Roro Jonggrang di dalam Candi bertelanjang dada.

”Mbak-mbak boleh berfoto di patung Roro Jonggrang, katanya kalau foto di patung Roro Jonggrang makin cantik aura kecantikannya keluar. Kalau yang mas-mas ndah usah ya,” ucap Subarno sambil terkekeh.

”Wah benaran Pak, aku mau kalau begitu biar makin cantik,” ujar Tofu wartawati online dari Lampung.

Turun dari Candi Roro Jonggrang para wartawan pun melanjutkan mengitari areal Candi Prambanan. Banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara berwisata di candi ini. Mereka terlihat asyik berfoto ria. Sesekali wisatawan mancanagera disapa wisatawan lokal, bahkan ada yang mengajak berfoto bersama.

Usai mengunjungi Candi Prambanan, panitia dari Telkomsel lalu mengajak rombongan wartawan menjajal objek wisata gua pindul. Perjalanan ke Gua Pindul dengan menggunakan bus lalu dilanutkan dengan mobil bak terbuka.

Setiba di arela wisata gunung pindu, para wartawan disuguhi santap siang nasi merah khas Gunung Kidul.

”Nasi merah ini satu-satunya yang ada di sini, yang lain tidak ada. Kalaupun ada rasanya beda,” ujarTumini (47) dari JK Catering Tumini, pembiuat nasi merah.

Usai santap siap petualangan menjajal Gua Pindul pun dimulai. Para wartawan diminta mengenakan baju pelampung. Lalu diminta membawa ban pelampung satu persatu, ukurannya sebesar ban truk. Berikutnya wartawan ppun diminta melompat ke sungai sambil duduk atau bersandar di atas ban pelampung. Setiap wartawan memegangi tali pegangan di ban wartawan lainnya. Sehingga terbentuklah barisan yang sangat panjang. Karena petualalangan ini diikuti ratusan wartawan se-Sumatera.

Jelajah Gua Pindul ini dipandu oleh Indro petugas pengelola Gua Pindul.

Sambil memegangi ban wartawan yang sesekali terlepas, Indro pun menjelaskan seluk beluk menegani Gua Pindul.

”Gua pindul ini singkatan dari pipi kebendul,” kata Indro.

Ceritanya dulu di sini tempat memandikan bayi. Saat mandi pipi bayi terbentur di Jawa disebut kebendul, hingga pipi bayi tersebut memerah. Akhirnya gua itupun dinamai Gua Pindul.

Gua pindul memiliki panjang sekitar 350 meter, lebar 5 meter. Jarak permukaan air dengan atap gua 4 meter dan kedalaman air 5-12 meter.
Gua pindul memiliki 3 zona, yaitu zona terang, zona remang dan zona gelap.

Di dalam gua terdapat banyak kelelawar. Cakaran kaki kelawar membuat garuis-garis tak beraturan di dinding dan atap gua. Selain itu di sini juga terdapat staglagnit dan staglagtit terbesar di Asia Tenggara. Dengan diamter 4 meter dan tinggia sekitar 40 meter. Pertemuan antara staglagtit dan staglangnit yang muncul dari atas gua dan dari bawah gua. Staglagnit dan staglagtit itu masih terus bertumbuh, jadi nantinya akan semakin membesar dan tinggi.

Selain itu ada juga staglagnit gong. Bila dipukul menimbulkan bunyi seperti gong yang di pukul.

Keasyikan menyusuri aliran Gua Pindul sambil mendengarkan penjelasan dari Indro, tak terasa rombongan wartawan sudah hampir sampai di finish.

”Nggak terasa kan, itu pintu keluar gua sudah terlihat terang sebenatar lagi kita sampai, bagaimana,”tanya Indro.

”Wah seru asyik-asyik,” ujar Novi dari media Pos Belitung.

Mendekati pintu gua, ada wartawan ada yang melompat lalu berenang. Ada juga yang tetap bersandar di ban pelampung sampai ke permukaan air. Keseruan terjadi saat ada wartawan iseng mendorong rekan wartawan yang lain hingga terjatuh ke air.

Selain berpetualang ke Candi Prambanan dan menjajal Gua Pindul, di acara Press Ghatering Telkomsel, para wartawan tak lupa berkunjung ke Jalan Malioboro sebagai salah satu ikonnya Jogjakarta. Di Malioboro wartawan membeli oleh-oleh untuk keluarga dan rekan kerjanya di daerah masing-masing dengan harga murah meriah. Wartawan pun diajak oleh panitia dari Telkomsel menikmati makan malam di resto Jejamuran.

Resto yang menunya serba jamur. Mulai dari Rendang Jamur Kaleng, sambal jamur merang asam, sop jamur tramela, cah udang brokolo jamur merang asam hingga sate jamur. (**)