Petani Terancam Krisis Pupuk

pupuk-kompos-_111129162139-790
foto : IST

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Kuota pupuk bersubsidi untuk petani di Provinsi Bengkulu saat ini sangat minim. Bahkan kuota dari pemerintah pusat hanya sebanyak 15 ribu ton. Padahal idealnya Bengkulu membutuhkan setidaknya 50 ribu ton pupuk subsidi.

“Untuk petani di Bengkulu baru 30 persen. Sedangkan kebutuhan mencapai 50 ribu ton pertahun. Artinya kalau 30 persen kuota untuk kita baru sekitar 15 ribu ton, makanya tidak dapat memenuhi jatah pupuk kita se-Provinsi Bengkulu,” kata Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu, Herizal Apriansyah, kemarin (10/12).

Menanggapi hal tersebut, ia telah mendatangi Direktorat PSP Kementan RI agar dapat menambah kuota pupuk untuk Bengkulu pada 2020 mendatang. Jika kuota tidak ditambah maka hal tersebut tentunya akan berdampak kepada produktivitas pertanian di Bengkulu. “Kita tidak ingin produktivitas pertanian di Bengkulu terganggu, makanya kuotanya kita minta ditambah pada 2020 mendatang,” ujarnya.

Selain itu, ia juga telah meminta kepada Kementan agar dapat menambah kuota untuk distribusi pupuk non subsidi. Sebab, distribusi pengawasan pupuk non subdisi di daerah juga masih lemah. “Distribusi pupuk kita di daerah, itu masih lemah pengawasan. Sebab, ternyata pengawasan distributor kemudian pengawasan pangkalan, itu wewenangnya dari pihak perusahaan, dan bukan dari dinas teknis,” ungkapnya.

Lebih jauh Politisi PKS ini juga tidak menginginkan peruntukan pupuk bersubsidi disalah gunakan. Mengingat sinyalamen yang berkembang, ada oknum distributor bermain. Untuk itu, pihaknya juga mengusulkan adanya badan pengawas yang dibentuk oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan anggotanya pihak Dinas Pertanian, Kejaksaan, kepolisian. “Dengan dibentuknya Badan Pengawas, pendistribusian pupuk di Bengkulu diharapkan bisa lebih tepat sasaran. Makanya kita segera sampaikan ke dinas teknis,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Ir Ricky Gunarwan mengaku, ketersediaan pupuk bersubsidi di daerah memang masih rendah. Hal tersebut membuat petani kesulitan untuk memupuk lahan pertaniannya. Padahal kebutuhan pupuk dan tanaman pertanian harus seimbang. “Tanaman itu selain butuh air, mereka juga butuh nutrisi untuk tumbuh, pupuk itu adalah nutrisinya, makanya kita harap ada tambahan kuota pupuk bersubsidi ke daerah,” harap Ricky.

Di sisi lain, pihaknya juga berharap dapat dilibatkan dalam hal pengawasan pupuk. Pasalnya saat ini distribusi pupuk terkadang tidak tepat sasaran. “Kita ingin pupuk bersubsidi itu tepat sasaran, jangan yang mampu malah dapat ini pupuk,” tutupnya.(999)