Tetap Semangat, Petani Sayuran Tak Putus Asa Hadapi Pandemi Covid-19

Ary/BE
Ade bersama rekannya saat memanen sawi dikawasan sentra sayuran di Kecamatan Selupu Rejang. Di Tengah Pandemi Covd-19 para petani sayuran tak putus asa meskipun harga sayuran anjlok dan pupuk subsidi hilang

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia berdampak pada semua sektor, tak terkecuali sektor pertanian. Dampak yang paling dirasakan para petani sayuran di Kabupaten Rejang Lebong adalah anjloknya harga komoditi sayuran

Ari Apriko, Selupu Rejang

JARUM jam menunjukkan pukul 06.00 WIB, para petani sayuran di sejumlah desa yang ada di lereng Gunung Kaba atau yang lebih sering disebut masyarakat sebagai Bukit Kaba mulai menyiapkan diri untuk pergi kebun masing-masing.
Kawasan lereng Bukit Kaba yang memiliki ketinggian 900 sampai 1.000 meter diatas permukaan laut (MDPL), membuat cuacanya sangat sejuk bahkan dingin diwaktu pagi. Bahkan saat musim hujan seperti sekarang matahari terkadang jarang menembuh area petanian yang subur karena tertutup awan tebal.
Tampak dikejauhan derap langkah beberapa beberapa petani mulai dari usia muda hingga usia lanjut menapaki jalan-jalan desa yang sebagian masih batu krikil dan sebagian lagi sudah di cor beton menggunakan dana desa, tak jarang juga sesekali ada suara raungan mesin sepeda motor para petani yang sudah dimodifikasi khusus untuk jalan berlumbur dengan ban tahu dan knalpol yang dibuang saringan suaranya.


Motor-motor tersebut selain digunakan untuk berkebun juga digunakan untuk mengangkut sayuran yang baru dipanen untuk melewati jalan setapak berbukit-bukit untuk diantar ke tempat pengepul atau warga sekitar menyebutnya toke yang mayoritas berada di pinggir jalan lintas Curup-Lubuklinggau.
Para petani sayuran di Desa Sumber Urip, Karang Jaya, Sumber Bening dan sejumlah desa lain di Kecamatan Selupu Rejang yang terkenal sebagai sentra sayur di Kabupaten Rejang Lebong bahkan Provinsi Bengkulu tak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang mulai melanda tanah air sejak awal tahun 2020 lalu. Pandemi global tersebut membuat harga sayuran anjlok sehingga para petani dikawasan tersebut merugi.
“Meskipun kita rugi, namun kita harus tetap semangat untuk terus bertanam, karena ini merupakan satu-satunya mata pencarian kita,” ungkap Ade (26) salah satu petani di Desa Karang Jaya Kecamatan Selupu Rejang.
Diceritakan ade, dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan pada Bulan Agustus hingga September lalu. Saat ini harga sayuran di Kabupaten Rejang Lebong benar-benar anjlok, anjloknya harga sayuran tersebut bertepatan dengan musim panen beberapa jenis sayuran salah satunya kol bulat dan sawi putih.
Karena harga ditingkat petani hanya Rp 200 per Kg, selain diberian gratis kepada masyarakat dengan cara mengambil langsung dikebun, puluhan hektar tanaman sawi dan kol bulat terpaksa para petani tebas untuk dijadikan pupuk kompos pada musim tanam selanjutnya.
“Dengan harga Rp 200 per Kg, jangankan untuk mengembalikan modal kita nanam untuk membayar upah panen saja tidak cukup, sehingga kita para petani lebih memilih untuk ditebas dijadikan pupuk,” terang Ade.
Anjloknya harga sayuran di Kabupaten Rejang Lebong tersebut, menurut Ade salah satunya karena adanya pembatasan skala besar dibeberapa kota di tanah air terutama Kota Palembang. Akibat PSBB tersebut pasar di Kota Palembang yang selama ini menampung sayuran dari Kabupaten Rejang Lebong tutup sehingga para pengepul tidak bisa membawa sayuran dari Rejang Lebong untuk keluar.
Namun menurut Ade, saat ini harga sejumlah komoditas sayuran di Kabupaten Rejang Lebong mulai berangsur membaik, kecuali harga kol bulat yang masih bertahan diharga Rp 150 sampai Rp 200 per Kg, sehingga menurutnya masih banyak ditemukan tanaman kol petani yang dibiarkan membusuk tanpa dipanen.
Tanaman kol dan sawi, memang banyak ditanam para petani, karena selain biayanya lebih ringan perawatannya lebih mudah dibandingkan dengan jenis sayuran lainnya.
“Cuman kol yang saat ini masih rendah, kalau sawi putih ini sudah Rp 1.500 sampai Rp 1.800 per Kg, selain karena mulai dari permintaan dari luar, juga karena di Bengkulu dijadikan pakan ikan,” paparnya.
Untuk harga komoditas sayuran lainnya seperi daun bawang yang biasanya diharga Rp 7 ribu per Kg, saat ini hanya Rp 700 per Kg, begitu juga dengan tomat yang biasanya sampai Rp 8 ribu per Kg saat ini hanya Rp 1.000 per Kg, terong ungu yang biasanya Rp 3 ribu per Kg saat ini hanya Rp 500 per Kg.
Sedangkan sayuran yang harganya mulai membaik selain sawi putih yaitu cabai. Cabai merah yang sebelumnya hanya Rp 15 ribu saat ini sudah 24 ribu per Kg, cabai hijau yang sebelumnya Rp 4 ribu saat ini sudah diangka Rp 10 ribu per Kg
Disisi lain, Hardi (40) petani lain juga mengungkapkan, selain harga yang anjlok petani juga saat ini kesulitan untuk mendapatkan pupuk subsidi dari pemerintah. Dimana menurutnya dalam tiga bulan terakhir para petani tidak mendapat pupuk subsidi lagi sehingga mereka terpaksa menggunakan pupuk non subsidi dengan harga yang jauh lebih mahal.
Karena menggunakan pupuk non subsidi, sehingga takaran untuk yang diberikan ke tanaman juga mereka kurangi sehingga akan berdampak pada hasil panen mereka.
“Tahun ini petani benar-benar menangis, namun kami tetap semangat untuk bertanam karena siapa tahu nanti saat panen harga kembali normal, selain itu bertani sayuran ini adalah satu-satunya pekerjaan kami,” ujar Hardi.
Perbandingan harga pupuk sendiri, menurut Hardi bila pupul subsidi ukuran Rp 50 Kg sebesar Rp 135 ribu, sedangkan untuk pupuk non subsidi ukuran Rp 25 Kg saja dihargai Rp 185 ribu. Belum lagi pupuk kandang sebagai pupuk dasar tanah olahan petani saat ini sudah Rp 22 ribu per karung dari sebelumnya Rp 10 ribu per karung.
Harga bersama para petani lainnya, berharap agar pandemi Covid-19 ini bisa segera berakhir, sehingga permintaan sayuran dari luar daerah kembali meningkat lagi sehingga kesejahteraan mereka bisa meningkat.
Dibagian lain, Sriyati (40) salah satu pengepul sayuran di Kecamatan Selupu Rejang mengungkapkan anjloknya harga sayuran di Kabupaten Rejang Lebong karena rendahnya permintaan dari luar Rejang Lebong terutama dari pasar induk di Kota Palembang. Karena sebagian besar sayuran asal Kabupaten Rejang Lebong dibawa ke Palembang.
“Sekarang sudah mulai membaik karena permintaan sudah mulai ada, kalau sebelumnya semua anjlok karena sayuran banyak permintaan dari luar kota seperti dari Palembang tidak ada karena korona,” terang Sriyati.
Selain karena permintaan yang sedikit, sayuran dari Kabupaten Rejang Lebong juga harus bersaing dengan sayuran-sayuran dari daerah lain seperti dari Jambi dan Medan.(**)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*