Petani Kopi Menjerit

Doni/Bengkulu EkspressTUNJUKKAN: Iwan Ansori, petani kopi Desa Taba Tebelet Kecamatan Kepahiang menunjukkan kondisi kopi di kebun miliknya.

Musim Panen, Harga Murah

KEPAHIANG, Bengkulu Ekspress – Memasuki bulan April, petani kopi di Kabupaten Kepahiang akan memasuki panen raya. Hampir diseluruh kecamatan se-Kabupaten akan mulai memetik kopi merah yang memang menjadi andalan petani kopi. Namun, petani kopi menjerit karena harga jual yang murah. Bila sebelum panen harga bisa diatas Rp 20 ribu perkilogram, maka disaat panen raya harga jual bisa jauh turun.

“Kalau panen toke bilangnya harga turun, bahkan pecah dari dua puluh ribu. Kondisi itu yang sangat menyusahkan petani, padahal sebelum panen biasanya harga cukup tinggi,” ungkap Pudin (38), petani kopi Rimbo Donok Kecamatan Tebat Karai.

Ia mengaku, tidak mengetahui penyebab pasti turunnya harga kopi di kala musim panen tiba.  “Kalau kita jual kopi selang, kopi selang itu kopi yang masak jelang musim panen. Biasanya harga tinggi, kalau sudah panen raya harga turun,” ucapnya.



Keluhan serupaya juga disampaikan Iwan Ansori (40), petani kopi Desa Taba Tebelet Kecamatan Kepahiang. Sebab, harga jual biji kopi kering saat ini masih sangat murah. Bahkan tidak sebanding dengan biaya perawatan yang sudah dikeluarkan petani.

“Kalu mau dihitung secara benar, harga jual kopi harusnya diatas Rp 25 ribu/kg,” sebutnya.

Iwan berharap, bila ada pihak berwenang di Kabupaten Kepahiang bisa mendorong peningkatan harga jual kopi. Sehingga, ekonomi mayoritas masyarakat di Kabupaten bisa terdongkrak.  “Mayoritas masyarakat di Kepahiang memang petani, maka bila kopi mahalalkan berdampak pada semua sektor. Seperti pedagang juga akan senang karena warga yang berbelanja akan lebih besar juga,” ucap Iwan. (320)